Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 88



Isabella yang sudah kesal akhirnya memperbolehkan mereka berdua untuk ikut bersamanya menuju ke gunung Hashnorth besok pagi.


“Aku? Bagaimana denganku?” tanya Ray dengan wajahnya yang memelas. Isabella tidak terlalu memedulikannya dan memintanya untuk tetap di sini dan beristirahat.


"Kau jagalah tempat ini saja," sahut Isabella hingga Ray mengiyakannya.


“Ayolah, Ray. Kau ini laki-laki, tidak boleh bersedih seperti itu," cibir Budi berusaha menyemangati Ray, kemudian Budi melanjutkan berkata, “Bagaimana kalau nanti kau kuajari teknik rahasia yang kupelajari?”


“Benarkah? Aku mau!” seru Ray yang mulai kembali semangat ketika mendengar teknik rahasia.


Ketika Budi dan yang lainnya sibuk mengobrol, Isabella segera menggunakan kesempatan itu untuk kabur dan kembali ke ruangannya.


Aku harus pergi secepatnya, jangan sampai diikuti oleh mereka, pikir gadis itu dalam batinnya sambil merapikan barang-barangnya ke dalam tas dan juga mengasah pedangnya.


Setelah itu, wanita tegas itu melompat keluar dari jendela ruangan kamarnya dan segera berlari menuju gerbang Academy Ahrion. Ketika berada di dekat gerbang, Isabella menyiapkan beberapa uang untuk membayar penjaga gerbang agar tidak memberitahu keberadaannya.


"Kau jaga rahasia ini, kau menyayangi nyawamu," bisiknya kepada mereka.


Setelah berhasil keluar dari Academy Ahrion, Isabella tidak menyangka kalau Budi dan Prisciliana sudah berada di depan menunggunya.


“Hey, Isabella. Kau ini lama sekali!” seru Budi sambil melambaikan tangannya.


“Ayo, gunung Hashnorth masih jauh. Beruntungnya, Budi berhasil mencari sebuah kereta kuda untuk kita gunakan," balas Prisciliana.


“Aku hebat, bukan?” kata Budi sedikit menyombongkan diri kepada Prisciliana.


“Iya, kau yang terhebat sayang!” jawab Prisciliana lalu mencubit tangan Budi sampai dia teriak kesakitan.


Isabella yang tidak mengerti harus berbuat apa akhirnya memutuskan untuk tenang dan berdamai dengan perasaannya. Ia harus kehilangan uang yang sia-sia ia berikan kepada penjaga gerbang.


Gadis itu pun berjalan mendekati Budi dan Prisciliana kemudian bertanya, “Bagaimana bisa kalian secepat ini sampai?"


“Rahasia! Ayo kita berangkat sekarang," ajak Budi yang segera naik ke depan dan mengendarai kudanya diikuti oleh Prisciliana, sedangkan Isabella memutuskan untuk naik ke dalam kereta kudanya.


Isabella, Budi, dan Prisciliana berangkat malam itu menuju ke gunung Hashnorth dan berdasarkan perkiraan, mereka akan sampai pada pagi harinya besok.


...πππ...


“Sudah waktunya …," kata Leon ketika melihat matahari terbit.


Pria itu pun membangunkan semua anggota grupnya dan juga meminta Guild Venom menyediakan transportasi untuk mereka kesana.


“Ini masih terlalu pagi, bisakah kita berangkat ketika siang?” gerutu Enma yang masih mengantuk namun terpaksa bangun karena Leon.


“Sudah jangan begitu, lagipula memang sekarang waktu yang tepat untuk berangkat," tegur Jenny pada kawannya itu.


Mereka semua kemudian pergi sesuai dengan tim yang di tentukan kemarin. Jenny, Enma, dan El pergi menaiki kereta kuda bersama dengan Mark, sedangkan Roseria dan Leon pergi menunggangi kuda yang langsung menuju ke tempat Clan Orc Night Lion dengan Boreas sebagai pemandu jalannya.


“Semoga beruntung semuanya!” seru Jenny menyemangati mereka semua pagi itu.


Mark pun memacu kudanya, begitu juga dengan Roseria dan Boreas yang mengikuti di belakangnya.


...πππ...


Di kereta kuda.


“Sekarang bagaimana cara kita bernegosiasi dengan pemimpin desa di sana?” tanya El dengan bingung.


“Mudah saja kalau tidak setuju, dia akan kubunuh!” jawab Enma yang kemudian tertawa dan sok kuat.


“Itu tidak lucu, dasar aneh!” seru Mark yang mengendalikan kuda di depan kereta kuda.


“Aku tidak berbicara denganmu, dasar Assassin lemah lembut!” ejek Enma yang menjadi kesal.


“Sudah, tidak perlu bertengkar. Intinya kita akan berusaha sebaik mungkin mencoba membuat mereka tidak memiliki dendam lagi!” kata Jenny  dan dia melanjutkan, “Tapi semua ini ada di tangan Leon dan Mark."


“Iya, jangan sampai gagal saat melawan Baltasar, Mark!” seru Enma kepada Mark untuk menyemangatinya.