Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 47



“Kawan, apa kau punya cerita menarik selama di sana?” tanya Budi sambil memberikan Leon sebuah gelas berisi minuman. Dituntut oleh yang lain juga.


“Iya, Boss. Ceritalah!" tuntut Ray.


“Apa kalian semua mau mendengarnya?” sahut Leon dan semua orang serentak mengiyakannya.


“Iya!”


Leon mulai menceritakan dari awal ia masuk ke dunia itu. Lalu ia bertarung dengan salah satu penguasa di hutan itu hingga ia bertemu dengan teman baru yang menjadi sahabanya di sana—Han Rou.


“Boss, mengapa boss mau berteman dengan makhluk itu?" tanya Ray mengangkat tangan dan bertanya.


“Entahlah, lagi pula Han Rou tidak jahat kepadaku," jawab Leon dengan singkat.


“Kawan, kau sudah berada di tingkat apa saat ini?” tanya Budi membahas hal lain yang lebih penting.


Ketika Leon ingin menjawab, Isabella tiba-tiba saja menarik tangannya dan pergi dari pesta kecil ini, menuju ke kamarnya lebih tepatnya ruangannya.


“Hey ada apa, sih? Bukankah adalah sebuah masalah jika kita–"


Entah tidak ada angin maupun hujan, Isabella tiba-tiba saja mencium pria yang berada di depannya itu. Leon sungguh terkejut, jantungnya berdebar tidak karuan, aliran energi seperti tersalurkan dari aktivitas mereka. Entah mengapa, begitu menikmatinya dan terbenam dalamnya.


Isabella melepaskan tautan bibirnya, menatap Leon yang sedang bernafas dengan tidak karuan. Deru nafasnya memberikan bukti nyatanya, ciuman pertama Isabella ternyata diambil oleh laki-laki itu.


“Maaf ... aku hanya sangat merindukanmu. Aku ingin untuk hari ini saja, kita benar-benar menghabiskan waktu hanya berduaan saja," kata Isabella seraya menundukkan kepalanya. Dirinya mungkin sudah kehilangan akal sehatnya, namun ia tak dapat mengelak keinginan batinnya sendiri.


Dengan reflek Leon memeluk gadis yang berada di depannya, meminta maaf karena tidak mengerti perasaannya sebelumnya.


“Jadi karena kau sudah di sini, apa kau tetap akan pergi bergabung dengan pasukan militer? S-sejauh ini tidak ada orang dari keluarga Croix yang berniat menyerangmu. Jadi bagaimana kalau kau tetap disini bersamaku?” urai Isabella dengan nada parau dan raut wajah yang terlihat sedih.


“K-kalau begitu, bawalah aku bersamamu, Leon. Aku bisa membantu dan melindungimu di sana nantinya,” tuntut Isabella berusaha membujuknya dengan ekspresi wajah yang manis dan merayu.


“Aku tahu, Isabel. Tapi bukankah lebih baik jika kau tetap di sini? Bagaimana bisa aku tega melihatmu ikut dalam misi khusus yang membahayakan nyawamu?” Leon berusaha meyakinkan Isabella namun seperti biasa. Dia memang gadis yang berpendirian sangat kuat ketika sudah yakin akan sesuatu.


Terpaksa Leon mengalihkan perhatiannya dengan cara lain yang tidak mungkin Isabella tolak, ia mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu. Suasana pun mulai berubah.


“Jadi kau akan tetap di sini, bukan?” Isabella tetap menanyakan hal itu setelah mereka berciuman. Leon menggelengkan kepala sebagai tanda kalau ia tidak akan di sini. Di tempat ini. Isabella mengerutkan keningnya, melebarkan matanya.


“Bagaimana kalau nanti kau terluka di sana atau bahkan kalau kau …" Isabella menjeda kata-katanya, terasa seperti ada yang menyayat hatinya begitu dalam ketika mengetahui bahwa pria yang ia cintai ini akan pergi mempertaruhkan nyawanya.


"Hikss … mati di sebuah pertempuran? Tidak mungkin bukan aku membiarkan itu terjadi, Leon?!” Isabella mulai protes diikuti dengan aliran air mata yang turun dari matanya.


“Tenanglah, Isabella. Aku janji pasti akan kembali." Leon menangkup kedua tangan lawan bicaranya, menautkannya kepada jari kelingkingnya tanpa Isabella mengambil inisiatif untuk melakukannya. Setelah itu ia memeluk Isabella yang sedang menangis.


“Sudah-sudah, jangan menangis terus. Aku janji setelah ini semua dan kita selesai di sini, bagaimana kalau kita menjelajah dunia ini bersama?"


“Bersama, hanya kita berdua?” Isabella mulai berhenti menangis dan tergantikan dengan senyumannya yang indah.


“Iya hanya kita berdua," balas Leon seraya ikut tersenyum.


“Iya aku mau! Setelah ini semua berakhir, bawalah aku kemanapun kau pergi, sayangku!” 


“Sudah-sudah tidur saja sekarang,” tegur Leon kepada Isabella.


“Apa kau mau tidur di sini bersamaku?” tanya Isabella menepuk bagian kasur yang kosong sebagai isyarat kalau Leon bisa tidur di sebelahnya. Ia terkekeh bahwa menandakan ia sedang bercanda.


“Aku punya kamar sendiri. Sudahlah, lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh."