
Sudah sebulan sejak Leon masuk Akademi Ahrion, banyak hal yang terjadi terutama karena grupnya benar-benar terisi dengan orang-orang yang berambisi untuk menduduki urutan pertama. Latihan keras dan gila mereka lakukan. Tidak hanya dalam teknik pedang dan kultivasi, tetapi juga sihir kelas atas dengan serangan area (AoE).
Kelas Sihir
“Baiklah, hari ini kita akan mempelajari sihir khusus,” ujar Prof. Husdo Narok.
“Apa kalian tahu sihir apa itu? Ada yang bisa menjawab?” tanya Prof. Husdo Narok seraya membuka buku pelajarannya.
Suasana kelas menjadi hening, semuanya saling melirik satu sama lain tanpa berkata apa pun.
“Apakah ‘Sihir Pertahanan', Profesor?” jawab salah seorang siswa di kelas.
“Iya, betul! Sekarang, adakah di antara kalian yang ingin menjadi sukarelawan untuk maju ke depan?” tanya Prof. Husdo kembali.
Lalu Leon mengangkat tangannya, seketika semua mata tertuju pada dirinya.
“Baiklah, Nak. Coba kau tahan serangan ini." Prof. Husdo bersiap dengan mantra apinya yang disebut dengan 'Thousand Flaming Arrow'.
Leon menggunakan sihir pertahanan 'Mana Shield' untuk menahan semua serangan Profesor Husdo. Setelah dilihatnya berhasil, dia tertawa gembira dan meminta Leon untuk mencoba menyerangnya.
“Apa Professor yakin?” tanya Leon karena khawatir.
“Tentu saja, lihat dan perhatikan ini. ‘Shield of God Bogini!” seru Prof. Husdo dan seketika terlihat ada perisai besar yang terbuat dari cahaya dari seorang dewi perang.
“Anak-anak, sihir ini adalah sihir pertahanan kelas atas yang bisa di rapal oleh penyihir tingkat keenam tier lapisan akhir.” Prof. Husdo menjelaskan mantra yang ia gunakan dan menggunakan bahasa isyarat untuk memberi tahu Leon agar menyerangnya
“Flame Spear First Form Legarus!"
Dan seketika tombak api yang ia gunakan menghancurkan sihir pertahanan Profesor Hudo bahkan sampai membuatnya terdorong dan terluka cukup parah. Namun ia tidak marah, ia justru senang dan berseru, “Luar biasa! Memang genius hahaha!” sambil berusaha bangkit dari tempatnya terjatuh.
“Tapi … kau lupa memperhatikan di belakangmu,” imbuhnya lagi hingga membuat Leon sontak mengalihkan pandangannya ke belakang.
Tiba-tiba saja dari belakangnya muncul sebilah pedang es, beruntungnya serangan itu dapat ia hindari dengan mudah.
SING!
Setelah berjam-jam mengajar, bel sekolah pun berbunyi, menandakan bahwa kelas itu telah berakhir.
Kring!
“Kalian bisa pulang sekarang. Kelas sudah berakhir.”
Semua murid segera bersiap pergi keluar dari kelas. Ketika Leon keluar dari kelas, ia mendengar beberapa siswa mengobrol membicarakan soal pertarungan yang akan terjadi.
Ia mencari tahu hal itu, ternyata itu adalah pertarungan antara Ray dengan Alfonso. Ketika sampai di tempat arena akademi, semua orang sudah berkerumun di sekitar menunggu dan saling bertaruh soal siapa yang akan menang.
“Hey, aku bertaruh 20 Gein kalau Alfonso yang menang!”
“Aku bertaruh 10 Gein pada bocah kampungan itu.”
“50 Dein untuk Ray!”
"200 Dein untuk Alfonso!”
“Bocah kampung itu pasti akan dikalahkan oleh Alfonso!”
“Ya, itu pasti!”
Mereka saling bertaruh masing-masing hingga Leon datang di sana. Ketika ia mencoba masuk ke tengah kerumunan untuk mencegah pertarungan ini terjadi, semua orang terdiam melihatnya dan semua mata tertuju padanya.
Bahkan ada seseorang yang menghampirinya dan mengajaknya untuk taruhan, "Hey kawan, kau akan bertaruh berapa untuk Alfonso?”
“0,” jawab Leon lalu melanjutkan, “Aku akan bertaruh 1000 Gein untuk Ray Hashglow jika diperlukan, namun sayangnya aku tidak ingin."
Ketika ia menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja terlihat Ray dan Alfonso naik ke atas arena, Ray dengan pedang besarnya dan Alfonso dengan dua pedang panjangnya.
Semua orang menjadi menggila ketika melihat hal ini terjadi, dengan cepat Leon bergerak ke arah dekat arena di mana Ray berada.