Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 37



Di Luar Gedung Academy.


“Aku sudah melaksanakan tugas yang engkau minta, Tuanku," tutur Lars Dunmark.


Dari gelapnya malam, berkumpulah bayangan gelap dan membentuk wujud seperti seorang pria dengan badan yang tinggi dan matanya yang merah menyala.


“Bagus! Bagus sekali Lars bawahanku. Kau akan kuberikan hadiah besar, sebutkanlah permintaanmu!” Sosok misterius itu berkata dan kemudian dijawab oleh Lars, “Aku ingin memusnahkan semua orang yang berada di kediaman bangsawan Silvestre!"


“Hanya Itu saja? Kau memiliki dua permintaan tersisa," sahut sosok misterius itu.


“Aku ingin kekuatan besar untuk menaklukan dunia! Dan terakhir, Tuanku. Aku ingin perempuan bernama Seline Anastasya Grimsbane Silvestre untuk menjadi budakku," tuntut Lars.


“Keinginanmu sudah terwujud!” Sosok misterius itu berkata, seketika muncul wanita yang diinginkan Lars Dunmark dan kekuatan yang diinginkannya untuk menaklukan dunia sudah dia dapatkan. 


“Terima kasih, Tuanku."


"Asalkan anak itu tidak menginjakkan kaki di tanah ini, anggaplah hadiah yang kuberikan sebagai bayaran kecilmu." Kemudian sosok itu pergi bersama dengan gelapnya malam.


“Hahaha! Mulai sekarang, tidak ada lagi yang namanya keluarga bangsawan Silvestre! Bukan begitu, budakku yang manis?” Lars Dunmark berkata kepada wanita cantik di depannya yang sebelumnya adalah bagian dari keluarga bangsawan Silvestre.


“Iya, Tuanku. Aku, Seline Grimsbane akan selamanya menjadi budakmu.“ Selene menunduk di hadapan majikannya.


“Apa kau akan melakukan semuanya yang kumau?"


“Terima kasih karena telah membiarkanku menjilat kakimu, Tuanku” Selene berdiri kemudian Lars membawanya pergi menuju ke ruangannya.


Malam itu di kediaman keluarga bangsawan Silvestre, terjadi kejadian aneh yang mengerikan di mana semua orang di sana terbunuh dan tewas dengan keadaan yang mengerikan dan kejam. Tidak ada seorangpun yang mati dengan keadaan tubuh yang utuh. Semua ruangan di sana berlumuran darah dan untuk sang kepala keluarga itu sendiri—Samuel Archion de Silvestre—harus menyaksikan kejadian yang lebih mengerikan sebelum dia tewas bersama dengan orang-orang di kediaman itu. Ia yakin ia melihat kalau Istrinya terbunuh oleh sosok bayangan kemudian tubuhnya menghilang entah kemana. Hal itu membuat Samuel menerima kematiannya tanpa melawan sedikit pun.


Berita ini tersebar ke seluruh penjuru negeri Engrasia dan akhirnya sampai ke Academy Ahrion hanya dalam waktu satu hari.


“Hey, apa kau dengar berita itu? Katanya keluarga Silvestre kemarin terbantai habis tanpa sisa!” 


“Iya, katanya pelakunya mampu menandingi Samuel Silvestre yang hebat itu!” 


“Diamlah! Itu hanya rumor, sana pergi ke kelas kalian masing masing!” seru Draco memarahi kedua murid perempuan itu dan kemudian berjalan meninggalkan mereka. Ketika berjalan dari belakang, ada yang memeluknya.


“Draco sayang! Tersenyumlah, ini masih pagi kau tahu!" Lucilia berusaha menghibur pria yang sedang ia peluk.


“Diamlah Lucilia! Aku ingin pergi ke suatu tempat saat ini,” sahut Draco D ketika memeluk Lucilia dan kemudian dijawab oleh wanita itu,"Kau ingin pergi ke sana, bukan? Kediaman keluarga bangsawan Silvestre?"


“Apa kau akan menghalangiku?” tanya Draco D. Lucilia menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin? Justru aku ingin pergi juga bersamamu untuk membuktikan apakah rumor itu benar atau tidak.”


Draco pun mendekatkan wajahnya untuk berbisik, “Temui aku di ruanganku siang ini. Kita akan pergi bersama ke sana."