
“Sial makhluk panggilan macam apa itu?!" seru Budi tak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri dengan sepasang matanya.
“Tetaplah fokus dan kalahkan mereka, Budi!” seru Isabella serius dan tak pantang menyerah.
“Aku mengerti. Akan kugunakan skill yang sudah kupelajari selama ini," sahut Budi seraya menghela nafasnya.
[Budi Style ‘Giant sword Rampage’]
Serangannya itu langsung membelah tanah dan membunuh Yaksha yang dipanggil dengan instan. hal ini membuat mental dari tim lawan menjadi menurun dan terjun bebas.
“Giliranku. Bersiaplah Quantz! Sword skill Deadly Rose sword dance!” seru Isabella menyerang assassin musuh dan berhasil membuat luka yang cukup berat.
“Cukup! Kami menyerah! Tim kalian terlalu kuat bahkan tanpa Leon pun dalam pertarungan sparring ini, kalian bisa mengalahkan kami." Miyura Chalice menyerah dan menghela nafasnya, mencoba bernafas.
“Ayolah, kalian juga cukup hebat terutama soal makhluk panggilan tadi." Budi memuji mereka, ia benar-benar terkagum dengan skill tersebut.
Pertarungan Sparing selesai dan tim Miyura meninggalkan arena. Kini tim Isabella berjalan bersama-sama.
“Hei apa kalian lapar? Bagaimana kalau kita makan sekarang? Aku akan mentraktir kalian kali ini karena kita baru saja menang dalam pertarungan latihan," tawar Budi dan disetujui oleh semua orang.
Ray dan Priciliana memesan banyak makanan, benar Budi membayarnya. Hanya tinggal menunggu makanan datang.
“Hei Isabell! Kenapa wajahmu muram sekali? Kita, kan, menang bertarung tadi?” tanya Prisciliana ketika menyadari wajah kecut sahabatnya itu. “Tidak, bukan apa-apa, kok. Aku hanya khawatir saja.
“Khawatir tentang Leon, bukan? Tenanglah … tidak ada yang lebih hebat dalam hal sihir dan seni pedang yang seusia kita selain Leon.” Budi berusaha membuat suasana berubah dan menenangkan Isabella bagaimanapun caranya.
“Ah, lihat! Makanannya sudah sampai. Ayo kita makan," ajak Prisciliana mengalihkan suasana. “Ayo!” balas Ray dengan semangat ikut makan.
Menatap wajah Isabel yang tak berubah, membuat Budi menenangkan gadis itu lagi, "Leon nanti juga sedih jika kau sedih. Makanya jangan seperti itu, tersenyumlah sedikit."
Isabella pun mengulum senyumannya, “Iya. Selamat makan, semuanya." Isabella tersenyum, semuanya makan dan bercanda seperti biasanya.
Di kamar Isabella.
“Leon, apa kau baik-baik saja?” Isabella berbicara sendiri di kamar ketika di kasur sambil memandangi kalung pemberian Leon sebelum mereka berpisah. “Kembalilah secepatnya, kumohon!” Isabella mememeluk kalung itu lalu menangis sejadi-jadinya dan kembali mengingat semua hal yang telah mereka lakukan bersama.
Berpaling di kamar Budi dan Ray.
“Hey, Bud. Menurutmu apakah Boss baik-baik saja disana?” tanya Ray seketika saat itu juga. Budi memandangnya tak yakin, “Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana cara menjawan pertanyaanmu itu, kawan."
“Lalu mengapa kau bilang hal yang sebaliknya kepada Isabella sebelumnya, Bodoh!” Ray melempari Budi dengan buku yang sedang ia baca.
“Sialan! Jangan melempar buku mu itu! Llalu memangnya aku harus bilang kalau Leon pasti mati ke Isabella, hah?" Budi mulai emosi dengan pertanyaan Ray.
“Paling tidak, jujur lebih baik, bukan?” Ray membalas kata-kata Budi dengan setengah kesal hingga mempengaruhi wajahnya menjadi kecut.
“Begitukah? Dasar, kau itukan penyebab semua hal ini terjadi.” Budi memarahi Ray dan terjadilah perdebatan hebat pada malam itu, sampai pintu ruangan terbuka dan muncul Priciliana yang masuk dengan kemarahan yang membara.
“Berisik! Bisakah kalian diam?!" pekik Prisciliana dan melihat Ray sedang dipukuli oleh Budi. Prisciliana pun segera bergerak untuk memisahkan mereka berdua.
“Ray! Kau tidak apa-apa? Budi, kau kenapa, sih?!” Prisciliana langsung bergegas menyembuhkan Ray dan Budi secara bersamaan.
“Budi, kenapa kau kasar sekali?! Ray ini adalah temanmu!" lanjut Prisciliana lagi. “Memang dia yang salah menantangku. Kalau lemah jangan menantang yang kuat!" sahut Budi menjawab dengan tatapan yang mengejek dan merendahkan Ray.
“Oh, begitukah?"
Buk!
Ray tiba-tiba menendang Budi dan membuatnya terjatuh dengan begitu keras. “Kau bilang kalau kau ini kuat, bukan?! Kenapa terjatuh?!” lanjut Ray berseru.
“Ray cukup! Kau tidak perlu membalasnya!” Prisciliana menarik Ray untuk keluar dari kamar lalu memarahinya. “Apa kau mengerti yang kukatakan?!" Prisciliana memarahinya, suasana sekitar terasa sangat panas.