
"Jadi Ray, siapa pelakunya yang bisa membuatmu terluka sampai seperti ini?” tanya Leon dengan nada lebih tenang. Ray berusaha menjawab dengan suara yang terbata-bata.
"G-Gerry.”
“Oh begitu ternyata. Baiklah!” Mendengar Ray menyebut nama Gerry, raut wajah Leon yang awalnya tenang berubah menjadi geram. Tanpa ia sadari, ia melepaskan aura membunuhnya yang membuat semua orang di tempat medis hampir sekarat karena tekanannya itu.
Beruntungnya Isabella segera menyadarkan Leon hingga ia segera menarik kembali aura membunuhnya itu, dan segera pergi dari tempat medis bersama Isabella.
“Leon, apa kau akan bertarung dengan Gerry saat ini?” tanya Isabella khawatir dengan Leon.
“Jika aku bertemu dengannya aku akan bertarung, jika tidak ya tentu saja akan ku cari dia," jawab Leon berusaha membuat Isabella sedikit tenang namun itu tidak berhasil.
“Kalau begitu aku akan membantumu," sahut Isabella kepada Leon. Leon hanya tersenyum lalu mengusap kepala Isabella.
Ketika mereka berdua sedang berjalan keliling, seseorang memanggil mereka berdua. Ketika mereka menengok ke belakang, itu ternyata Draco D.
“Guru!” Leon dan Isabella mengatakan di saat yang bersamaan, Draco D berjalan segera ke arah Leon dengan wajah sedikit kesal.
“Nak, apa kau lupa kalau kau punya janji dengan Tuan Pan Quadro? Dia sudah menunggu cukup lama tadi," tegas Draco D berkata dan segera menarik tangan Leon pergi menuju ke gedung Party Dragonite, Isabella pun mengikuti di belakang mereka berdua.
...πππ...
Sesampainya di sana.
“Leon, ke mana saja kau tadi? Bagaimana kabar si bocah kecil itu?” tanya Pan Quadro kepada Leon yang baru saja sampai bersama Draco D. dan Isabella.
“Dia sudah membaik kondisinya, Tuan Pan," jawab Leon.
“Baguslah jika begitu, sekarang ayo kita segera berangkat,” ajak Pan Quadro berseru dan Leon segera membawa barang-barang yang sudah dia rapikan ke sebuah kereta kuda.
“Kawan, hati-hatilah di sana!” seru Budi kepada Leon, begitupula dengan beberapa anggota Party Dragonite lainnya.
“Leon, hati-hati. Jangan lupa mengirimiku surat,” tutur Isabella sambil memeluk Leon untuk terakhir kali sebelum mereka berdua berpisah kembali
“Aku akan merindukanmu, Isabella. Tunggulah aku kembali," sahut Leon kemudian melepaskan pelukannya dari Isabella dan segera naik ke atas kereta kuda.
“Selamat tinggal semuanya!” seru Leon sambil melambaikan tangan kepada teman-temannya.
“Baiklah, acara sudah selesai. Semuanya kembali masuk ke dalam," jelas Draco D.
“Tapi guru, bukankah salah satu anggota Party kita ada yang terbunuh dalam insiden hari ini?”
“Kudengar, pelakunya itu kepala Academy kita!”
Semua orang sibuk membicarakan insiden hari ini.
“Diamlah, itu hanya rumor belaka! Untuk lebih pastinya, aku sendiri yang akan bertanya nanti," tegur Draco D lalu menyuruh semua muridnya masuk.
Beralih ke sisi lain, di mana Isabella sedang melamun di kediaman Party Dragonite.
“Isabella, apa kau akan menulis surat untuk Leon nanti?” tanya Prisciliana kepada Isabella. Isabella hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban "Iya".
“Dia, kan, baru saja pergi. Mengapa menulis surat sekarang?” tanya Budi ketika mendengar percakapan Isabella dan Prisciliana.
“Dasar laki-laki tidak peka! Tidak punya perasaan!" hina Prisciliana menyindir Budi.
“Hey, kau sendiri tidak peka dengan diriku!” Budi menimpali perkataan Prisciliana.
“Apa kau bilang?!” Prisciliana mulai merasa geram. Dan adu mulut pun tidak bisa dihindari diantara mereka berdua Hingga Isabella merasa terganggu oleh mereka.
“Kalian berdua ini sedang berkencan?” tanya Isabella. Seketika Budi dan Prisciliana terpaku dalam diam.
“Iya," jawab Prisciliana.
Budi menjawab di saat yang hampir sama. "Tidak!” pekiknya tampak menolak hubungan mereka.
“Tega sekali kau! Aku membencimu!” seru Prisciliana menangis dan segera berlari menjauh.
“Cih, salah lagi. Hey tunggu aku!” Budi segera bergegas berlari mengejar Prisciliana.
“Jadi benar ternyata, mereka berdua telah menjadi sepasang kekasih," gumam Isabella tersenyum sedikit melihat tingkah laku Prisciliana dan juga Budi.