
“Menyerahlah, Leon! Kau tidak akan bisa mengalahkanku," hina Mark mencibir sambil terus menyerang Leon dengan pedang-pedangnya dan berusaha menutupi jalur Leon untuk kabur.
Sing! Sing!
“Dragon’s Tongue Frost Field!" Leon menggunakan sihir naganya dan seketika membuat semua area di arena membeku menjadi es. Mark juga membeku di dalam es dan tidak bisa membebaskan dirinya sendiri.
Pria itu memasang sebuah pelindung yang menutupinya dan Mark dari kemungkinan orang mendengar percakapan mereka, dia kemudian berjalan mendekat ke arah Mark dan berkata,
“Bagaimana bisa kau mendapatkan kekuatan Itu?!” tanya Leon dengan serius. Mark menatapnya seraya menyengir tersenyum.
Leon pun melepaskan Mark dari es tempatnya membeku, dan Mark menjawab, "Apa kau percaya kalau aku mendapatkannya karena diberikan?”
“Tentu saja. Aku juga begitu," sahut Leon. Ia berusaha membuat suasana menjadi lebih bersahabat dengan Mark. Tak ingin pertarungan ini diteruskan.
“Tidak-tidak, ceritamu dan ceritaku itu berbeda, kawan. Aku tahu yang memberikan kekuatan itu kepadamu adalah seorang Primordial Angel, sedangkan untuk diriku bukan berasal dari sosok Primordial Angel atau jika kau pernah mendengar Archangel. Kekuatan ini kudapatkan dulu sekali," jawab Mark kemudian dia mulai menceritakan kisahnya di masa lalu kepada Leon.
...πππ...
Flashback kisah Mark
970 tahun yang lalu di kerajaan Engrasia, masa-masa di mana perang masih terjadi dalam skala besar antara Orc, manusia, Elf, naga, dan Beastman. Pada saat itu, umur Mark kurang lebih baru berusia 20 tahun. Walau masih berusia muda, Mark sudah dicap sebagai Assassin terbaik di dunia oleh semua ras besar di dunia ini.
Suatu ketika, Mark mendapat tugas untuk masuk ke negara Yugaria dan membunuh pemimpin pasukan negara itu atas perintah Raja Elf ‘Ash Aindra’ dengan imbalan 30,000 Gein dan sebuah rumah di kerajaan miliknya Desbenadia.
“Aku bisa mencobanya, tapi jangan salahkan diriku jika gagal. Kau tahu bukan kalau pemimpin pasukan negara Yugaria ‘Asnov sovexis’ merupakan sosok Night Elf yang sangat kuat?" sahut Mark. Secara tidak langsung seperti menghina Ash Aindra lebih lemah dan itu membuatnya merasa hina.
Semua bawahan Ash Aindra ketika melihat tuannya merasa kesal langsung menghunuskan pedang ke arah Mark. Beruntungnya hal tersebut langsung di cegah oleh Ash Aindra sendiri, dan saat itu juga semua bawahannya menarik pedang mereka kembali.
Crat!
“Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau gagal, Mark. Tapi kau tahu lebih baik kau berusaha melakukan sebaik mungkin daripada hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa!” tutur Ash Aindra kemudian memerintahkan beberapa bawahannya untuk membawa Mark ke gudang senjata untuk memilih sendiri senjata yang dia inginkan.
Mark menatap atasannya itu dengan geram meski ia harus melakukan tugasnya. Baru saja dihunus pedang sekejam itu—walau tidak menyakitkan baginya—ia sudah harus pergi.
“Mari ikuti saya, Tuan Mark. Saya akan mengantar anda menuju ke gudang senjata," pinta seorang High Elf dengan pakaian seperti pelayan dan bersarungkan pedang di sisi kirinya.
Mark pun mengikuti Elf tersebut yang mengantarkannya ke gudang senjata kerajaan Desbenadia. High Elf itu kemudian membukakan sebuah pintu yang sangat besar dan mempersilahkan Mark untuk masuk ke dalam lebih dulu.
Ketika di dalam, Mark menyaksikan banyak senjata kuat dan tidak pernah dia lihat sebelumnya. Semua senjata yang berada di sana dibuat dengan tingkatan tertinggi oleh para Elf kerajaan.
“Luar biasa! Aku bisa memilih semauku, bukan?” pekik Mark yang masih terkagum-kagum dengan luasnya ruangan ini dan banyaknya senjata yang memenuhinya.
“Maafkan aku, Tuan Mark, tapi raja hanya memperbolehkanmu mengambil tiga barang saja dari semua barang yang ada di sini," sahut pelayan itu dengan sedikit ketakutan karena dia tahu lawan bicaranya merupakan pembunuh terhebat yang pernah ada di dunia.