Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 87



Isabella segera berlari menuju ke ruangannya dan mencari pena dan kertas untuk membalas surat yang dikirimkan oleh kekasihnya. Wanita itu menuliskan balasan yang memberitahukan kalau dirinya baik-baik saja. Ia berharap Leon juga bisa menyelesaikan misinya dan kembali dengan selamat.


Isabella berniat mengirimkan surat tersebut namun tercetus sebuah ide dalam pikirannya untuk datang dan menghampiri Leon sendiri sekaligus membantunya dalam misinya.


Kriet.


Budi memasuki ruangan, mendapati Isabella sedang terdiam memegang surat dan tersenyum sendiri di sana.


“Apa yang kau pikirkan, Isabella?” tanya Budi yang merasa aneh ketika melihat temannya itu.


“Tidak ada! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah Prisciliana mencarimu?” jawab Isabella berusaha terlihat tegas sekaligus menyindir Budi.


“Kami baru saja selesai makan malam, dan kau? Surat apa itu?” tanya Budi lagi yang mulai makin penasaran karena tidak biasanya Isabella memegangi surat dengan sangat erat seperti memegang pedang.


“Bukan urusanmu. Pergilah!” sahut Isabella kemudian pergi menjauh dari Budi.


Prisciliana yang mendengar teriakan tersebut langsung menghampiri Budi dan bertanya apa yang terjadi. Budi hanya menggelengkan kepala dan mengatakan kejadiannya berdasarkan perspektifnya.


“Aneh, tidak biasanya Isabella seperti itu, bukan?” kata Budi.


“Mungkinkah itu surat dari Leon. Bisa jadi, bukan?” sahut Prisciliana.


Budi dan Prisciliana pun memutuskan untuk membuntuti Isabella yang sedang berada di dalam ruangan Draco D. Mereka berdua pun menguping pembicaraan antara Isabella dan Draco D. dari balik pintu.


“Tidak! Tidak bisa!” seru Draco D agak marah. Ia menjawab tegas pertanyaan Isabella padanya.


“Gunung Hashnorth terlalu berbahaya! Apa kau tidak tahu kalau gunung itu dikuasai oleh Orc yang sudah berusia ratusan tahun bernama Baltasar?” tegas Draco D. Isabella semakin merasa jengkel dengan jawabannya.


“Aku akan tetap pergi ke sana, dengan atau tanpa persetujuanmu, Guru!” bentak Isabella yang kemudian keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya.


Brak!


Ketika keluar dari ruangan itu, Isabella dihadang oleh Budi dan Priciliana yang memiliki ribuan pertanyaan untuknya. Wanita itu berusaha agar tetap berjalan dan menjauh dari mereka berdua tanpa perlu menjawab pertanyaan mereka.


“Apa kau gila, Isabella?!”  seru Prisciliana. "Kau berniat berlatih sendirian di gunung Hasnorth, itu terlalu berlebihan, bukan?” tambahnya. Isabella tetap tidak mengatakan apa-apa.


Wanita itu tetap berjalan menuju ruangannya dan tidak memedulikan teman-temannya itu di sepanjang jalan. Ketika sedang berjalan, Isabella berpapasan dengan Ray yang juga penasaran mengapa Budi dan Prisciliana membuntuti Isabella.


“Kalian sedang bermain apa?” tanya Ray kepada Budi dan Prisciliana dengan polosnya.


“Ray, kemarilah kawan. Bukankah kau penasaran kenapa Isabella ingin pergi ke gunung Hashnorth? Terlebih setelah mendapatkan sebuah surat," pinta Budi dengan maksud untuk menghasut Ray agar mau mendukungnya menanyai Isabella.


“Wah, iya. Itu  terdengar mengasyikan! Bolehkah aku ikut, Isabella?” tanya Ray dengan penuh semangat dan antusias.


“Cederamu memang sudah sembuh, Ray?” tanya Isabella. Ray hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau cederanya masih cukup terasa di bagian tangan dan dadanya. “Kalau begitu kau istirahat saja di sini," tegas Isabella.


“Isabella biarkan kami berdua ikut denganmu. Kami berdua pasti bisa membantumu," pinta Prisciliana memohon kepada Isabella agar mengajaknya dan Budi ikut bersamanya.