
Malam sudah tiba, besok adalah hari pertama Leon ke Akademi Ahrion sekaligus hari di mana ia akan meninggalkan rumah untuk beberapa bulan. Anak itu pun bersiap untuk tidur di kamarnya.
Ketika ia mencoba tidur, tiba-tiba saja Laura—kakaknya—masuk ke dalam kamarnya. "Hey, besok adalah hari pertamamu, bukan?” tanya Laura sambil berjalan ke kasur Leon lalu terbaring di sampingnya.
“Uhm, Iya betul sekali, Kak," jawab Leon seraya merenggangkan jarak antara kakaknya dan dirinya yang begitu sempit.
“Hey, Leon. Kalau kau nanti sudah masuk, cobalah untuk menjadi juara di pertandingan internal akademi!” tutur Laura.
“Memangnya kenapa, kak?” balas Leon bertanya, penasaran dengan apa yang kakaknya itu katakan.
“Kalau kau bisa, mungkin saja kau akan bisa ikut kompetisi antar akademi dan bertanding dengan kakakmu ini,” jawab Laura sambil tersenyum kepadanya, senyumnya sungguh indah sekali.
Sampai senyuman itu tertular pada wajah Leon yang terpahat indah. "Aku ingin melindungi kakak jika nantinya aku sudah tumbuh dewasa.”
Laura terharu mendengarnya, ia pun mengacak-acak rambut adik laki-lakinya itu karna gemas padanya.
“Sudah, sana tidur, nanti kalau kau tidak bangun bisa bahaya!” Leon disuruhnya tidur dan dia tertidur disamping kanannya.
Tak lama, ia melihat Laura sudah tertidur, entah apa yang sedang ia mimpikan. Laura meneteskan air mata dari poros kedua matanya, sesekali ia mengatakan, “Tidak jangan ambil Leon!”
“Berhenti! Kumohon!”
...πππ...
Keesokan paginya, Leon bergegas bersiap-siap, ia membawa semua perlengkapan termasuk dagger yangs sudah iabeli dan diberi oleh kakaknya.
Ia menaiki kereta kuda yang sudah disiapkan oleh Akademi Ahrion dan berpisah dengan semua orang di rumah kediamannya. Dilihat Ibu dan kakaknya sedikit menangis, ayah juga berusaha menahan tangis. Begitu pula para Maid dan penjaga rumah, mereka semua juga terlihat menangis ketika Leon pergi dengan kereta kuda ini.
"Sampai jumpa, semuanya!" pamit Leon kepada mereka, mereka semua pun melambaikan tangan mereka.
Sesampainya di Akademi Ahrion, ia melihat sudah banyak orang berkumpul di sana. Leon juga melihat fakta kalau kereta kuda yang dikirim akademi hanya untuk anak-anak keturunan bangsawan, sedangkan mereka yang bukan seorang bangsawam harus berjalan kaki atau menaiki kuda sendiri jika ada.
Leon berusaha untuk berteman dengan orang lain, ia melihat anak yang menarik rambutnya yang berwarna biru, tubuhnya cukup tinggi walau lebih pendek dibanding dirinya. Yang terpenting, ia terlihat ramah, Leon pun mendekatinya untuk berkenalan dengannya, anak itu melihatnya dan merespon dengan senyuman ramah.
“Hai, namaku Ray Hashglow. Senang bertemu denganmu," sapa Ray dengan senyuman lebar pada wajahnya, keduanya pun saling berjabat tangan.
“Hai juga, namaku Galleon Silvestre, panggil saja aku ‘Leo’ atau ‘Leon', terserah padamu," sahut Leon.
Seketika raut wajahnya berubah menjadi pucat sepucat semen basah. “M-maaf Tuan Muda Silvestre, saya tidak mengenali anda!” seru Ray seraya menundukkan kepalanya dengan hormat dan segan, membuat kedua alis Leon tertaut.
“Sudah-sudah, santai saja kawan. Lagi pula, aku memang berniat menjadi temanmu." Leon menyentuh pundak Ray agar dia tidak menundukan kepalanya terus menerus untuk hormat padanya. Senyuman tulusnya mampu mengubahkan pandangan Ray padanya menjadi bahagia.