Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 85



Leon menuju ke meja, mengambil sebuah kertas dengan pena yang terbuat dari bulu angsa lalu menuliskan surat kepada Isabella yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan berencana melakukan misi pertamanya di militer dalam waktu yang dekat.


Pria itu pun memberikan surat tersebut kepada Boreas dan memerintahkannya untuk memberikan surat tersebut kepada kurir di Guild Venom agar dapat diantarkan kepada Isabella.


“Baiklah, Lord. Akan kulaksanakan perintahmu," tutur Boreas sambil membungkukkan badan di hadapan tuannya untuk menunjukan betapa hormatnya dirinya kepada tuannya.


Boreas pun pergi meninggalkan Leon di ruangan itu sendiri. Leon mulai mempersiapkan rencana untuk grupnya agar dapat menyelesaikan misi pertama mereka. Ia mengambil peta dan melakukan analisis dan kalkulasi mengenai strategi apa yang terbaik untuk grupnya gunakan.


Dalam pikiran Leon. Gunung Hashnorth terlalu besar untuk ditaklukan oleh 7 orang, mungkin jika aku memerintahkan Boreas untuk mengerahkan pasukannya membantu kami akan berhasil? Tapi itu mustahil, bukan? Tidak itu mustahil!


Boreas hanya salah satu dari Warrior yang hebat di clan itu dan bukan seorang kepala clan, pikir Leon dalam hatinya sambil terus berjalan mondar-mandir memikirkan rencana.


Bagaimana kalau meminta bantuan orang-orang yang tinggal di sana? Tidak, tidak. Kebencian yang mereka miliki terlalu besar terhadap Orc. Apa tidak ada cara lain? pikirnya masih tetap sama.


Leon pun duduk dan memegangi kepalanya karena merasa pusing memikirkan rencana yang tepat dan efektif. Ketika ia sedang sibuk memikirkan rencana, Boreas membuka pintu ruangan dengan sangat keras dan membuat Leon terkejut.


Brak!


"Lord, aku kembali!" pekiknya bersemangat dan tidak sadar bahwa seseorang geram melihatnya.


"Bisakah kau tidak membanting pintunya?!" seru Leon dengan sebal kepada Boreas, Boreas kemudian meminta maaf atas perbuatannya, Leon memaafkannya meskipun ia kesal seribu kali seribu.


“Boreas!” Pria itu memanggil Boreas yang melamun saja kemudian menanyakan kepadanya apa dia bisa membantunya membangun koneksi dengan clan Night Lion.


“Lord, tentu saja aku akan mengikuti semua perintahmu! Tapi ...” Boreas menjeda kata-katanya dengan sedikit ragu. Leon menatap Boreas dengan tatapan dingin lalu tetap mendengarkan dan menyuruh Boreas melanjutkan kata-katanya. "A-aku tahu Lord sangat kuat, tapi pemimpin clan Night Lion saat ini memiliki hubungan yang kuat dengan salah satu dewa dan mengabdikan dirinya menjadi bawahan Baltasar Baran, raja Orc dari Clan frost wolf yang merupakan apostle dari dewa Anubis," jelas Boreas kepada Leon dengan gusar.


Seperti ada kebanggaan sendiri, Leon menyengir. Boreas cengengesan sendiri hingga mengingatkan Leon akan sesuatu. "Apakah surat itu sudah sampai pada Isabella?" tanya pria itu.


Boreas mengangguk dengan semangat. "Sudah, Lord. Bahkan ia sangat menunggu surat darimu. Sepertinya, ia merindukan kekasihnya yaitu Lord sendiri," jawab Boreas.


Wajah Leon bersemu merah ketika mendengarkan hal itu. "Kau banyak bicara," ejek Leon pada Boreas tersipu malu. Ia pun pergi keluar dan menuju ke ruang pertemuan grupnya, Boreas mengikuti Leon di belakangnya sambil terkekeh kecil dan membukakan pintu untuknya ketika Leon sudah sampai di ruangan tersebut.


Ketika Leon memasuki ruangan tersebut, ia melihat semua anggota grupnya sudah berkumpul di dalam. Mark duduk ditengah, Enma duduk di sisi kanan, Roseria duduk di sisi kiri tepat di hadapan Enma, El duduk di samping Enma, dan Jenny yang duduk di tengah berhadapan dengan Mark. Enma dan Roseria terus melakukan perdebatan hingga akhirnya Leon masuk ke ruangan itu.


“Leon!” pekik Enma dan Roseria serentak ketika melihat kehadiran Leon. Pria itu hanya diam saja sambil menggelengkan kepalanya kemudian duduk disamping Jenny.


“Diam. Aku yang mau bertanya lebih dulu!” tegas Enma dengan nada emosi.


“Memangnya siapa kau? Kekasihnya Leon? Kau tidak bisa menolakku yang ingin bertanya kepada Leon, bukan!” balas Roseria dengan wajahnya yang kesal. Tidak tahu diri sendiri bahwa Leon sudah memiliki Isabella di dalam hatinya.


“Teman-teman, jangan bertengkar. Kita ini satu grup, bukan?” lerai El dengan ragu untuk memisahkan Enma dan Roseria, namun tidak dipedulikan oleh mereka berdua.


“Sayang, siapa yang lebih cantik, aku atau dia?” tanya Roseria kepada Leon dengan nada dan gestur menggoda lalu menunjuk ke arah Enma. 


“Pasti aku bukan, Leon? Aku lebih cantik dibandingkan ****** ini, bukan!” timpal Enma.


Leon menghela nafas berat, tak ingin meladeni kedua orang yang hanya menghabiskan waktunya.