
Mark berhasil membunuh Asnov namun tidak berhasil mencegah tentara Asnov untuk bergerak menyerang Desbenadia. Ia berjalan memasuki sebuah gua yang kosong berharap tidak ada yang akan mengganggunya menunggu kematiannya, karena dia tahu luka sedalam itu dan tombak yang menancap di tubuhnya tidak mungkin bisa disembuhkan dalam waktu singkat.
“Inikah akhirnya? Yah … tidak buruk juga. Paling tidak dengan begini, Irina tidak perlu menunggu lama untuk membalaskan dendamnya padaku, bukan?" gumam Mark sambil tersenyum memikirkan hal tersebut.
Ia merintih kesakitan selama berjam-jam sampai dia akhirnya tertidur. Saat dia berbaring, dia bertemu Irina entah itu khayalan atau mimpi, namun semuanya terasa nyata.
“Mark, tempatmu bukan di sini!” seru Irina yang berlari mendekat ke arah Mark.
“Iya aku tahu! Seharusnya pembunuh sepertiku ini berada di neraka bersama para Iblis, bukan?” sahut Mark sambil menundukan kepala. Irina kemudian memeluk Mark dengan erat dan menangis.
“Tidak. Tidak Mark. Kau seharusnya tidak menyusulku ke sini …," sahut Irina menenangkannya. “Bodoh! Mark bodoh! Mengapa kau menyusulku ke sini? Pergilah sana dan jalani hidupmu!”
Irina mendorong Mark dan yang Mark terakhir saksikan adalah senyuman dari Irina sebelum dia terbangun kembali.
Syut!
“Hah! Tunggu, lukaku sembuh? Bagaimana bisa?”
Mark terbangun dan terheran melihat tidak ada luka sama sekali di tubuhnya. Tubuhnya merasa sehat, tak merasakan sakit sama sekali.
“Kau sudah sadar, ya?” kata seorang wanita berambut panjang berwarna putih dan bersayap 6. Matanya biru sebiru langit yang cerah dengan pakaian perang yang berwarna biru juga.
“Siapa kau, nona?” Mark segera bangun dan membungkukkan kepala sebagai bentuk tanda hormatnya.
“Uhm ... namaku cukup panjang. Panggil saja aku Camila," sahut wanita itu tersenyum kemudian sayap-sayapnya berubah menjadi cahaya dan menghilang.
“Wah, di mana sayap-sayapmu itu? Keren sekali. Apakah aku juga bisa memilikinya?” tanya Mark terkagum-kagum dan terus memandangi tubuh Camila, Camila hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Mark.
“Ah, maaf! Namaku Mark Sefio Nathan. Panggil saja aku Mark." Mark memperkenalkan diri dengan tersipu malu ketika melihat wajah Camila yang sedang tersenyum padanya. Kemudian Camila mengajak Mark untuk keluar dari Gua dan pergi bersamanya.
...πππ...
“Camila, berapa lama aku tidak sadarkan diri di dalam sana?” tanya Mark karena penasaran dengan apa yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri.
“Kau tidak sadarkan diri selama 3 hari," jawab Camila sambil terus berjalan menyusuri hutan.
“Bagaimana dengan Desbenadia dan juga Ash? Apa mereka baik-baik saja?” Pikiran Mark langsung teringat dengan keadaan sebelum dia tidak sadarkan diri.
“Jangan khawatir soal Ash, dia masih hidup. Tapi untuk Debenadia, hal itu hanya tersisa kenangan saja bagi mereka yang tahu," jawab Camila turut prihatin.
Mendengar hal itu tiba-tiba membuat Mark merasa terpukul dan meneteskan air matanya. Ia teringat banyak kenangan yang dia habiskan sewaktu di Desbenadia terutama ketika bersama teman dekatnya Ash.
“Sudah-sudah, Mark. Kau itu kuat! Jangan menangis," sorak Camila menyemangati sambil mengelus-elus kepala Mark dan berusaha menenangkannya.
“Untuk apa kuat jika semua yang berada di sekitarku menjadi binasa?" gumam Mark menggerutu.
“Tapi merasa bisa melakukan semua sendiri dan menanggung beban semua orang sendiri juga bukan tindakan yang hebat!” tegur Camila lalu dia melanjutkan, “Kau terlalu membebani dirimu sendiri, Mark! Sampai-sampai kau lupa kalau tubuhmu itu memiliki batasannya tersendiri.”
Mark berdiri dari tempatnya, menatap ke arah langit. “Kau memang benar,” sahutnya sambil berusaha bangkit kembali dan melanjutkan perjalanan.
“Kita hendak ke mana?” Camila dan Mark mengatakan di saat yang bersamaan kemudian mereka berdua tertawa bersama.