Reincarnated As A Warlock

Reincarnated As A Warlock
Chapter 102



Aguya pun mengecilkan ukuran tubuhnya hingga seukuran telapak tangan Leon lalu terbang dan duduk di bahu sebelah kirinya. Sepanjang jalan membersihkan ruangan besar itu dari sisa bekas pertarungan, Leon menanyai Aguya banyak hal. Aguya menjawab semuanya dengan senang hati.


Dalam dunia spirit, tidak ada yang namanya laki-laki atau perempuan karena mereka bisa dengan bebas menggantinya sesuka hati mereka. Spirit merupakan makhluk yang sedikit mirip dengan para malaikat namun nama mereka tidak sehebat atau sekuat malaikat. Aguya juga menjelaskan kalau spirit dibagi berdasarkan elemen dan tiap elemen memiliki tingkatannya. Untuk Aguya, dia merupakan Spirit berelemen api dan memiliki kekuatan di tingkat Archspirit . 


Tingkatan dari yang terlemah ke terkuat; Low-Spirit, Middle-Spirit, Earthly-Spirit, Elemental Spirit, High Spirit, Reincarnated Spirit, Apex-Spirit, Ace-Spirit, Archspirit, dan Ancient Spirit.


Ancient Spirit merupakan 7 Roh yang pertama kali diciptakan bersamaan dengan terciptanya para Archangel. Di antara Archspirit lainnya, Aguya merupakan satu-satunya yang masih satu keturunan dengan salah satu Ancient spirit.


Setelah mendengarkan penjelasan Aguya, Leon menjadi semakin penasaran, namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya karena sudah waktunya mengeluarkan Baltasar, Mark, dan Karo kembali. Ia pun menggunakan daggernya dan menggunakan skill "Dimension Slash" untuk membelah ruang dan menarik Baltasar dan yang lainnya keluar dari sana.


“Apa yang membuatmu lama sekali, manusia?” tanya Baltasar yang sedikit emosi.


“Sudahlah, bisakah kau tidak menggerutu lagi?!” seru Mark sekaligus bertanya karena mereka berada di dimensi lain.


Baltasar benar-benar hanya emosi dan berusaha menghancurkan dimensi itu agar bisa keluar kembali.


“Dimana dewa Anubis? Apa dia sudah tiada? Siapa wanita kecil di pundakmu itu?” tanya Baltasar kepada Leon. 


“Dia sudah tidak ada, apa kau keberatan?” jawab Leon dengan tatapan serius matanya yang bercahaya berwarna keemasan hingga membuat Baltasar merasa sedikit takut namun dia sama sekali tidak menunjukan hal tersebut.


Aguya pun menampakkan dirinya dalam wujud normal di hadapan Baltasar. Ia memarahi Baltasar karena sudah menanyai tuannya banyak pertanyaan. Baltasar hanya terdiam saja karena baginya baru pertama kali dirinya dimarahi oleh seorang perempuan, bahkan istri-istrinya tidak berani memarahi dirinya.


Kriet.


Setelah itu Baltasar membuka pintu ruangan dan meminta semua Orc di luar untuk masuk kembali kedalam.


“Rajaku ... bagaimana hasilnya?” tanya beberapa Orc kepada Baltasar.


“Kita akan berdamai dengan para manusia mulai sekarang!” seru Baltasar di hadapan semua orc lainnya, tidak ada yang berani menentang keputusannya sebagai seorang raja.


Ketika Baltasar sedang berpidato di depan para bawahannya, Leon memutuskan untuk pergi karena merasa urusannya telah selesai. Baltasar yang melihat itu segera bergerak menghampiri Leon kemudian mengatakan di depan semua orc lainnya.


“Mulai saat ini, ingatlah manusia ini. Dia akan kuberikan gelar ‘Erebus fist’!” seru Baltasar sambil mengangkat tangan Leon.


Semua orc yang menyaksikan pada awalnya merasa bingung, namun pada akhirnya mereka semua bersorak karena takut melanggar perintah raja mereka.


Erebus merupakan gelar yang diberikan oleh raja para orc bagi penantangnya yang menarik, hampir menyaingi, atau bahkan mengalahkannya. Biasanya gelar tersebut ditambah dengan hal unik dari penerima gelar itu sendiri. Sewaktu Baltasar mengalahkan raja-raja Orc lainnya di masa lalu, dia mendapat gelar ‘Erebus Ulric’ karena kedatangannya bagi yang menolak sama saja seperti menghadapi dewa kematian itu sendiri.


“Keluarlah!” perintah Leon dan seketika ratusan Shadow Orc yang berada di balik bayangannya keluar dan menunduk di hadapannya. Hal ini membuat semua orc terkejut tak terkecuali Baltasar, terutama ketika dia melihat salah satu pemimpin clan yang dulu dia pernah lawan dan akui kekuatannya—Tyr.