
Melihat Isabella berada di dekatnya membuat hati Leon terasa sangat bahagia, namun pria itu tidak ingin menunjukkan hal tersebut ketika sedang ada banyak orang di sekitarnya.
Leon mencubit pipi Isabella dengan lembut dan bertanya, “Mengapa kau datang ke sini? Kau tahu kan kalau tempat ini berbahaya.” Dengan gemasnya Leon menarik-narik pipi Isabella sampai kedua pipinya memerah.
“Ah! Sakit tahu! Lagi pula aku kemari untuk berlatih agar menjadi lebih kuat bukan karena alasan lain!” jawab Isabella dengan gayanya yang berusaha terlihat kuat dengan harapan dapat membuat Leon terkesan. Terlintas rasa sakit pada pria itu karna tujuan Isabella bukan untuk menemuinya.
Melihat tingkah kekasihnya seperti biasanya membuat Leon merasa bahagia sampai dia sedikit tersenyum dan memeluk Isabella kembali. Ia memuji kekasihnya sampai wajah Isabella menjadi merah karena merasa malu. Keduanya pun menghampiri Prisciliana dan Budi, setelah itu mereka berempat saling mengobrol dan menceritakan pengalaman mereka masing-masing. Semua orang mendengarkan mulai dari para petualang manusia, hingga para Orc bawahan Leon serta Orc yang berhasil Boreas tangkap.
Suasana itu benar-benar mencerminkan kedamaian dan ketentraman yang Leon usahakan terjadi di antara para Orc dan manusia. Di mana Orc dan manusia bisa sama-sama duduk, berbicara, dan berpendapat tanpa perlu mempermasalahkan ras dan kekuatan mereka sama sekali.
Leon pun mengajak teman-temannya untuk ikut dengannya menuju ke desa manusia di dekat tempat itu. Isabella setuju namun tidak untuk Prisciliana karena dia harus menyembuhkan luka Budi yang cukup parah. Leon mengerti akan hal tersebut dan langsung memerintahkan Boreas untuk membawa pasukan orc-nya mengikuti Leon.
"Bawa pasukan Orc," titah pria itu sebelum pergi.
“Baik, Lordku," sahut Boreas yang dengan sigap langsung menjalankan perintah tersebut dan menyiapkan para Orc yang menjadi bawahannya.
Leon pun membantu Isabella membawa beberapa perlengkapannya agar Isabella tidak merasa terlalu berat membawanya. Pria itu membawakan tas ransel milik Isabella kemudian meminta Isabella untuk naik ke atas kuda terlebih dahulu.
“Kau tidak naik?” tanya Isabella kepada Leon.
Leon pun memanggil Boreas dan semua pasukan Orcnya, setelah itu menggunakan sihirnya—Dimension Gate—agar Boreas dan bawahannya bisa langsung sampai ke tempat yang ingin dituju.
Sebuah gerbang cahaya yang sangat besar memancarkan cahaya berwarna biru terang dan lembut muncul ketika Leon merapalkan mantra. Gerbang itu memiliki tinggi sekitar 20 meter dengan lebar 15 meter, Boreas dan semua Orc lainnya secara satu per satu memasuki gerbang tersebut.
Leon naik ke atas kuda bersama Isabella dan menutup gerbang dimensi tersebut.
“Kita tidak memasuki gerbang dimensi itu?” tanya Isabella karena penasaran.
“Tentu saja tidak. Aku akan membawamu menggunakan sesuatu yang menakjubkan," jawab Leon kepada Isabella dengan penuh antusias.
Isabella masih tidak mengerti apa yang pria itu bicarakan namun dia memilih untuk diam mempercayai orang yang dia sayangi itu. Leon pun meminta Isabella untuk menutup matanya. Ketika Isabella menuruti permintaan tersebut, dengan cepat Leon menggunakan sihirnya yang merupakan kombinasi antara sihir cahaya, ruang, dan waktu.
Dari bawah kuda yang ditunggangi oleh Leon dan Isabella, muncul sebuah lingkaran sihir. Dalam sekejap mereka menghilang dan berpindah langsung ke tempat yang ditujunya. Leon menggunakan kombinasi antara sihir ruang dan sihir waktu untuk melakukan hal itu lalu menambahkan kekuatan Primordial Angel yang dimiliki olehnya agar dapat meningkatkan tingkat keberhasilan mantra tersebut.
Leon dan Isabella sampai lebih dulu dibandingkan dengan Boreas dan pasukan orcnya.
“Bukalah matamu," pinta Leon.