
Di ruangan medis.
“Di mana ini? Hah lukaku ....” Leon terbangun dan melihat semua luka di tubuhnya sudah menghilang.
“Leon! Kau sudah bangun? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu," pekik Isabella dan segera berlari ke arah Leon yang baru saja bangun. Ia memeluknya dengan erat.
“Iya, Isabell. Aku sudah baik-baik saja. Omong-omong, berapa lama aku berada di sini? Sepertinya sudah malam?” tanya Leon kepada Isabella setelah dia melihat keluar jendela.
“Leon, kau tidak sadarkan diri selama dua hari. Aku benar-benar khawatir ketika mereka membawamu kemari dengan keadaan pakaian penuh dengan darah. Memangnya apa yang kau lakukan, sih?" tanya Isabella dengan nada menggerutu. Kemudian Leon hanya tersenyum dan mencubit pipi Isabella.
“Aku sudah tidak apa-apa sekarang, aku juga tidak terlalu ingat apa yang terjadi kemarin," jawab Leon kemudian dia mencoba untuk berdiri dan berjalan. Isabella pun membantunya dengan memegangi tangannya.
“Apa kau yakin, Leon? Bukankah seharusnya kau beristirahat lagi?” tanya Isabella sambil terus memegangi Leon berjalan. Leon hanya tersenyum.
“Aku tidak apa-apa, Isabell."
Ketika Leon dan Isabella sedang berjalan kembali menuju ke gedung tempat Party Dragonite berada, mereka bertemu dengan Draco D yang berjalan bersama dengan seorang pria berambut panjang berwarna coklat dengan menggunakan baju zirah berwarna emas dan jubah putih. Tubuhnya besar dengan tinggi sekitar 200 cm.
“Isabella! Bagaimana keadaan Leon sekarang?” tanya Draco D dengan nada dan wajah yang penuh kekhawatiran.
“Aku baik-baik saja, Guru. Tidak perlu khawatir," jawab Leon dengan senyuman tipis yang terukir pada wajahnya.
“Baiklah, Nak. Ada orang yang ingin kuperkenalkan padamu," tutur Draco D kemudian menunjuk kepada sosok pria di sampingnya. Pria itu kemudian maju ke hadapan Leon dan Isabella.
“Senang bertemu denganmu, Nak. Perkenalkan namaku Pan Quadro Blosso," sapa pria itu. Pria itu memperkenalkan dirinya kemudian meminta agar Isabella bisa pergi untuk sementara karena mereka berdua ingin berbicara.
“Tuan Pan, hal apa yang ingin dibicarakan oleh anda denganku?” Leon menatap dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh. Pan tersenyum karena merasa Leon adalah sosok yang menarik.
“Aku ingin kau bergabung dengan pasukanku, Nak. Bergabunglah denganGuild Venom milikku," jawab Pan. Pan berusaha meyakinkan Leon untuk bergabung dengan Guildnya, dia mengeluarkan sesuatu dari cincin spasial yang dia gunakan di tangannya lalu memberikan benda itu kepada Leon.
Star Token
(Note) token biasa yang diberikan sebuah rune dan mantra perlindungan
(Efek) - Perlindungan terhadap serangan sihir tingkat 6 ke bawah
- Meningkatkan kemampuan regenerasi mana milik pengguna
“Ini adalah Token yang kutemukan 20 tahun lalu dari sebuah makam bekas pertempuran di daerah barat. Anggaplah itu sebagai hadiah awalmu jika kau bergabung dengan Guildku, nak," jelas Pan kemudian dia memberikan sebuah surat kepada Leon. Berisi kontrak persetujuan untuk bergabung dengannya.
Leon dan Isabella kemudian segera berjalan pergi menuju ke depan kamar mereka. Sesampainya di kamar Leon, mereka langsung duduk dan membaca isi kontrak tersebut.
“Jadi apa isi surat itu?” tanya Isabella sambil duduk di samping Leon yang sedang menatapi kertas dengan sangat serius.
“Ini sebuah kontrak, Isabell," jawab Leon. Ia menyipitkan mata untuk membaca kontrak itu, sementara Isabell menunggu dengan jenuh.
Leon menyadarinya ketika melihat kedua soror mata gadis itu, tatapannya kosong, tak berbicara apapun semenjak mereka berada di sana. Leon pun meletakkan kertasnya dan menangkup bahu gadis itu dengan kedua tangannya.
"Hey, ada apa denganmu?" tanya Leon dengan heran. Isabell terlihat menatapnya dengan sedih.
"Aku hanya khawatir denganmu yang sebentar lagi akan pergi ke militer. Belum-belum ini saja, kau mendapati banyak bahaya yang menyerangmu. Aku tak dapat membayangkanmu bila … hiks … hiks …" Isabella menjeda kata-katanya ketika ia menangis saat itu juga. Leon reflek mengusap air matanya. Ia tersenyum, betapa gadis ini memperhatikannya.
"Kau tahu, jika kau percaya padaku, maka aku akan baik-baik saja." Leon menenangkan kekasihnya itu, mengulurkan jari kelingkingnya. "Janji untuk percaya padaku?" tanya pria itu.
Isabella mengusap sisa air matanya, tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia mengulurkan jari kelingkingnya dan menautkannya kepada jari Leon.
"Janji."