
Evelyn dan Livi baru saja sampai di club dan mereka langsung memasuki privat room yang sudah Livi pesan. Saat Evelyn memasuki privat room tersebut, ternyata di sana juga ada teman-teman kuliahnya membuat Evelyn terkejut namun ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Bahkan di sana juga ada Karel dan Marya yang terus melihat Evelyn dengan kalah terkejut. Setelah lama mereka tak melihat Evelyn kini mereka dapat melihat banyak perubahan pada Evelyn.
Evelyn kini terlihat lebih cantik. Tentu karena Kenrick yang memang merawatnya dengan begitu baik.
“Evelyn apa kau sakit? Mengapa kau menggunakan masker?” tanya Karel menyapa Evelyn dengan tatapan khawatirnya saat melihat Evelyn yang memakai masker. Marya yang mendengar Karel yang terdengar khawatir berdecak kesal sambil memutar bola matanya malas.
Sedangkan Evelyn hanya melihat Karel sekilas, lalu membuka maskernya saat tak melihat satupun temannya yang merokok.
“Evelyn sedang hamil. Jadi tak boleh ada yang menghidupkan rokok,” tegas Livi pada teman-temannya tersebut. Ia tak ingin membahayakan Evelyn juga anak yang tengah di kandung Evelyn. Selain Evelyn adalah sahabatnya, ia masih juga menyayangi nyawanya. Tentu ia tak ingin untuk bermain-main dengan ahli waris Kenrick Osvaldo.
“Kau sudah menikah? Atau kau sudah berhenti menjadi wanita suci?” tanya Marya dengan senyuman sinisnya pada Evelyn. Mendengar hinaan Marya, membuat Evelyn berusaha menahan amarahnya dan memilih untuk mengabaikannya. Teman mereka yang lain hanya diam memperhatikan pertengkaran antara dua perempuan yang dulu adalah sahabat tersebut.
“Ah, sepertinya kau sudah tak menjadi gadis suci lagi,” sinis Marya lagi dengan senyuman angkuhnya. Masih berusaha memancing Evelyn yang memilih untuk mengabaikannya.
“Mariya apa kau bisa berhenti,” tegas Karel tak suka jika wanita tersebut menghina Evelyn.
Suasana berubah tegang membuat Evelyn menghela nafas kasar dan menatap Marya dengan senyuman sinis. Ia sebenarnya tak ingin meladeni wanita tersebut hanya saja Marya begitu ingin untuk memancing keributan dengan Evelyn.
"Apa pedulimu apa kau memiliki urusan jika aku bukan gadis suci lagi? Aku akan segera menikahi pria kaya raya jadi tak akan rugi jika aku melahirkan seorang pewaris untuk nya bukan? Apa kau iri padaku karna Karel membuangmu seperti sampah? . Haruskan aku mengundangmu juga agar kau tahu seberapa kaya suami ku?” tanya Evelyn dengan begitu angkuh dan sombongnya pada Marya. Evelyn bukan lah orang yang sombong namun orang seperti Marya memang sesekali harus diberi pelajaran. Tinggal bersama Kenrick juga Sean yang angkuh dan sombong memang membuat Evelyn belajar banyak hal.
“Kau yakin dia mau bertanggung jawab pada jlang sepertimu?” tanya Marya dengan senyuman sinisnya pada Evelyn yang membuat Evelyn kini tersenyum dengan begitu angkuh nya pada Marya.
"Tentu saja karena dia sangat mencintaiku. Bahkan kami sudah merencanakan bulan madu keliling dunia.” Evelyn bahkan merasa jijik dengan semua ucapannya saat ini yang hanya bualan semata. Jika akhirnya Evelyn meninggalkan Kenrick. Semuanya hanyalah kebohongannya saja bukan? Semua hanya rencana yang sudah tak akan lagi bisa terealisasikan.
“Tidakkah kau terlalu menyombongkan calon suamimu itu? Apa dia seorang pemilik tambang emas?” tanya Marya dengan tertawa mengejek di akhir kalimatnya membuat Evelyn tak sabar ingin memberitahukan jika ayah dari anak yang kau kandung adalah Kenrick Osvaldo.
Ruangan tersebut kini sudah seperti hanya mereka berdua karena teman mereka yang lain memilih diam. Bahkan Karel memilih diam dan mendengarkan ucapan Evelyn yang membuatnya begitu terluka.
"Calon suamiku memiliki lebih dari tambang emas. Dia adalah Kenrick Osvaldo. Kalian pasti mengenalnya bukan?” tanya Evelyn menyombongkan Kenrick yang nyatanya hanya bisa menyakitinya. Rasanya kini Evelyn begitu jijik menyebutkan nama tersebut, namun untuk mempertahankan harga dirinya agar tak di injak-injak oleh Marya, ia hanya melakukannya.
Sedangkan teman Evelyn yang lain yang mendengar nama pengusaha kaya itu tersebut semua mata sontak tertuju padanya dengan tatapan terkejut. Kecuali Livi dan Ivey yang memang sudah mengetahui semuanya.
“Apa efek kehamilan juga halusinasi? Atau kau mulai gila karena laki-laki itu tak mau bertanggung jawab? Kau bahkan menyebutkan nama seseorang yang tak kau kenal,” tawa Marya yang membuat Evelyn hanya memutar bola matanya malas. Wanita tersebut mengatakannya seolah ia lah yang paling benar di sana. Halusinasi? Marya hanya belum tahu saja bagaimana Kenrick yang begitu posesif dan begitu menjaganya. Walaupun semua itu sebelum kedatangan Razita. Mengingatnya kini malah membuat Evelyn kesal, namun untuk mempertahankan keangkuhannya terpaksa ia harus melakukannya.
"Sudahlah jika kau tak mempercayainya. Aku akan mengundangmu pada pernikahanku. Tepatnya pernikahanku bersama Kenrick Osvaldo,” ucap Evelyn dengan begitu sombongnya. Walau ia tahu jika ia tak akan menikahi Kenrick. Tak apa setidaknya mereka memang pernah memiliki rencana untuk menikah. Bahkan mereka sudah mendaftarkan pernikahan mereka secara hukum yang memang sudah sah.
Evelyn kini dapat melihat wajah Marya yang memerah menahan amarahnya. Namun Evelyn sama sekali tidak peduli. Salah siapa wanita tersebut memancing nya lebih dulu dalam pertengkaran.
“Apa yang kau katakan Evelyn? Aku masih mencintaimu bagaimana aku bisa menikahinya,” tanya Karel yang kini mulai angkat suara. Mendengar hal tersebut Evelyn cukup terkejut tak mengira jika Karel akan benar-benar meninggalkan Marya.
"Oh sungguh disayangkan, kau ternyata hanya jlang di matanya. Dan Karel, sayang sekali aku sudah memiliki pria lain,” ucap Evelyn dengan senyumannya yang terlihat menyedihkan dan jelas hal tersebut hanya dibuat-buat. Livi dan Ivey yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena mereka memang sudah tahu semuanya. Termasuk orang yang tengah di banggakan oleh sahabatnya tersebut hanyalah mantannya.
Evelyn tersenyum sinis ke arah Marya yang sudah mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Ah sebaiknya, aku pergi. Seharusnya, semua orang bisa bersenang-senang di sini. Maaf, karena kedatanganku, semua jadi kacau,” ucap Evelyn dengan tatapan tak enak nya pada teman-temannya yang lain yang hanya menyaksikan pertengkaran mereka.
“Aku akan mengantarmu,” ucap Livi menawarkan karena ia yang mengajak Evelyn ke tempat tersebut jadi ia merasa bersalah pada Evelyn. Ia pikir mereka akan bersenang-senang namun siapa yang tahu jika akhirnya mereka malah bertengkar.
"Tak perlu aku akan kembali ke apartemenku saya,” ucap Evelyn. Ia merasa sudah lama ia tinggal bersama cody. Ia tak enak jika harus terus menumpang dengan cody jadi lebih baik ia segera kembali ke apartemennya saja yang sudah lama tak ia tinggali.
“Kau yakin?” tanya Livi khawatir.
"Aku rasa ya,” ucap Evelyn yang sebenarnya masih ragu. Ia takut jika Kenrick akan datang.
“Berhati-hatilah, jika terjadi sesuatu hubungi kami,” pesan Ivey. Evelyn membalasnya dengan anggukan dan segera pergi dari sana yang tanpa Evelyn sadari Karel ternyata mengikutinya.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.