
Setelah memastikan Evelyn aman, Sean segera melajukan mobilnya keluar dari parkiran. Mereka kini saling terdiam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Evelyn hanya terdiam sambil menatap keluar jendela dengan wajah datarnya. Ingin menangis, namun rasanya air matanya sudah habis hanya untuk menangisi sikap Kenrick yang akhir-akhir memang membuatnya begitu lelah.
“Kemana kau akan pergi?” tanya Sean saat ini ia menyetir namun tak tahu kemana tujuan mereka selanjutnya. Sean menoleh ke arah Evelyn sekilas, untuk memastikan jika wanita tersebut baik-baik saja.
"Bandara,” ucap Evelyn tanpa menoleh ke arah Sean yang kini sudah dibuat terkejut dengan jawaban tersebut.
“Apa maksudmu Evelyn?” tandas Sean dengan wajah galak nya. Bahkan laki-laki tersebut sampai menghentikan mobilnya untuk berbicara dengan serius pada Evelyn yang kini terlihat hanya raga tak bernyawa.
"Aku ingin kembali ke New York,” ucap Evelyn datar. Masih enggan untuk menoleh ke arah Sean.
“Kau gila?!” tanya Sean yang terkejut mendengar ucapan Evelyn. Ia tahu jika Kenrick memang menyakiti wanita tersebut namun menurutnya mereka masih harus saling berbicara takut ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Apa kau tega melihatku terus merasakan sakit hati? Bukankah kau mencintaiku?” tanya Evelyn yang kini terdengar begitu lemah. Evelyn menoleh ke arah Sean dengan tatapan sendu juga tatapannya yang jelas begitu lelah dengan semua yang wanita tersebut hadapi.
“Kau tahu aku sangat mencintaimu. Kau adalah wanita pertama yang aku cintai sekaligus tidak bisa aku miliki,” ungkap Sean dengan kesungguhan dalam setiap kata yang ia ucapkan. Sean memang begitu mencintainya Evelyn bahkan ia siap menukar nyawa nya untuk Evelyn, namun dengan membiarkan wanita tersebut pergi dengan luka sepertinya ia tidak sanggup.
"Lalu mengapa kau tidak mau membantuku Sean. Kau mulai membenciku?” tanya Evelyn dengan begitu pilu. Bukan maksud nya untuk memanfaatkan cinta Sean padanya. Hanya saja keadaan yang memaksanya melakukan semua ini.
“Bukan itu yang aku maksud Evelyn.” Sean kini begitu gusar. Tak tahu harus bagaimana caranya mengatakan pada Evelyn. Sean tahu pasti jika Evelyn sudah begitu lelah dengan banyak hal yang menimpanya. Beradaptasi dengan dunia Kenrick yang hitam saja Evelyn pasti kesusahan namun Evelyn memaksa untuk tetap lanjut, namun Kenrick kini malah menyakitinya.
"Lalu? Kau ingin melihatku terus sakit hati?” tanya Evelyn lagi pada Sean yang kini sudah mengusap wajahnya gusar.
“Tentu saja tidak, Evelyn. Bagaimana aku bisa suka melihatnya? Bahkan aku ingin sekali segera merebutmu dari Kenrick. Andai aku yang lebih dulu menemukan mu, dan andai aku yang kau cintai. Aku tak akan pernah membuat mu terluka,” tegas Sean dengan penuh penekanan dalam setiap katanya.
Sean menoleh ke arah lain dengan memejamkan matanya. Ucapannya memang sudah begitu lancang pada majikannya itu namun itulah kenyataannya.
"Lalu apa masalahnya Sean? Kau takut pada Kenrick? Tenang saja Sean, aku tidak akan melibatkanmu,” ucap Evelyn dengan bersungguh-sungguh.
“Bukan begitu Evelyn. Aku bahkan tak masalah jika Kenrick menghukumku. Aku hanya mengkhawatirkanmu saat kau kabur. Kau tahu apa yang Kenrick lakukan terakhir kali saat kau kabur. Aku takut Kenrick melukaimu,” ungkap Sean yang kini sudah menoleh ke arah Evelyn dengan wajah seriusnya. Evelyn yang mendengarnya terdiam. Terpaku di buat nya. Sean memang begitu mencintainya. Dan andaikan saja perandai-andaian yang Sean katakan adalah benar pasti ia bahagia bersama Sean bukannya seperti sekarang yang hanya membuatnya terluka.
Sean memang laki-laki yang datar namun ia tahu Sean adalah laki-laki baik yang tidak pernah menyakiti perempuan. Malah saat Kenrick menyakitinya Sean lah yang membelanya, Sean lah yang melindunginya.
"Aku sudah tidak perduli Sean. Hatiku sudah terlalu terluka,” ucap Evelyn setelah tersadar dari keterpakuannya akan ucapan Sean.
"Aku bisa menjaga diriku dari Kenrick, tapi rasa sakit ini kau pikir akan berhenti jika aku masih bersama Kenrick?” tanya Evelyn yang masih berusaha untuk membujuk Sean agar mau untuk membantunya.
Mendengar ucapan Evelyn, Sean terdiam berusaha untuk memikirkan jalan yang ia ambil agar tidak membahayakan Evelyn. Sean menghela nafasnya gusar sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Tapi aku akan menemanimu. Aku akan selalu mengawasimu dan melindungimu. Dan kita tak akan kembali ke Apartemenmu. Aku akan membeli sebuah rumah untuk kita,” ucap Sean tegas. Bukannya ingin merebut Evelyn dari Tuannya itu ia hanya ingin melindungi orang yang ia cintai.
"Tidak, kau tetaplah di sini dan jangan beritahu Kenrick jika kau yang mengantarku. Katakan saja jika aku pergi sendiri,” tolak Evelyn yang tak ingin Sean terlibat dalam masalahnya. Ia tak ingin Sean berada dalam masalah karena dirinya.
“Tidak, aku akan mengantarmu hingga New York,” tegas Sean. Ia bahkan tak peduli pada keselamatannya karena baginya Evelyn lah yang terpenting.
"Sean aku baik-baik saja,” ucap Evelyn dengan lembut namun penuh akan ancaman.
“Kau harus menghubungiku jika terjadi sesuatu. Aku bersungguh-sungguh akan membeli rumah untuk mu. Aku berharap paman mu bisa untuk diajak bekerja sama,” ucap Sean dengan helaan nafas kasarnya.
"Aku tahu. Kau tenang saja. Paman ku pasti akan melindungi ku,” ucap Evelyn dengan senyuman menenangkannya pada Sean yang akhirnya menjawabnya dengan anggukan.
Setelahnya selama perjalanan menuju Bandara tak ada yang memulai obrolan. Mereka saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing dan Sean yang kini fokus menyetir.
Hingga tak lama mereka akhirnya sampai di Bandara. Sean sebelumnya sudah memesan tiket untuk Evelyn, agar wanita tersebut mendapatkan penerbangan yang cepat.
“Tiket mu,” ucap Sean menyerahkan tiket pada Evelyn. Evelyn segera mengambilnya lalu mengerutkan kening bingung melihat tiket tersebut.
“Chicago?” tanya Evelyn yang Sean balas dengan anggukan.
“Aku mencari penerbangan yang paling cepat, ini penerbangan sepuluh menit lagi. Jadi dengarkan aku baik-baik. Kau pergilah ke Chicago. Di sana akan ada orang ku yang akan menggantikan mu, dia akan membawa baju ganti untuk di tukar dengan milik mu. Kita harus mengelabui Kenrick. Jadi aku berharap kau bisa untuk bisa bekerja sama dengan baik. Aku akan meminta orang ku untuk menyiapkan semua nya,” ucap Sean sambil merangkul kedua pundak Evelyn yang kini matanya sudah berbinar mendengar ucapan Sean tersebut. Laki-laki tersebut seolah sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Padahal waktu mereka tak banyak. Tak heran jika Kenrick begitu mempercayai Sean, kerja laki-laki tersebut memang begitu baik.
“Terima kasih Sean. Kau begitu banyak membantuku. Namun bukankah ini sebuah pengkhianatan?!” ucap Evelyn yang malah membuat Sean tertawa mendengarnya.
“Aku akan menanggungnya. Yang terpenting kau bisa berbahagia. Jika kau ingin kembali, kembali lah. Selesaikan masalah mu dengan Tuan,” ucap Sean sambil mengelus puncak kepala Evelyn.
“Cepat atau lambat Tuan pasti akan menemukan mu. Aku hanya membantumu agar Tuan lebih lama bisa menemukan mu,” ucap Sean yang dibalas dengan anggukan oleh Evelyn.
“Aku pergi,” ucap Evelyn. Memeluk Sean sebentar sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sean yang kini menghela nafasnya kasar.
“Bahkan jika setelah ini Taun membunuhku, aku tak masalah Evelyn. Mari bertemu di kehidupan selanjutnya dan hidup bahagia,” gumam Sean dengan senyuman sendunya.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.