Mafia's woman

Mafia's woman
Pertengkaran Malam Hari



Jam kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Kenrick belum juga pulang membuat Evelyn khawatir dengan keadaan laki-laki itu. Apalagi hubungan mereka beberapa hari ini berada dalam keadaan buruk. Bahkan hubungan mereka baru membaik siang ini walau Evelyn masih belum memaafkan laki-laki tersebut sepenuhnya. Ia masih kesal dengan Kenrick yang kini juga malah meninggalkannya begitu saja sedari pagi. Dan sampai sekarang belum pulang juga.


"Aku harap dia akan baik-baik saja,” ucap Evelyn. Walau ia masih kesal pada Kenrick namun tetap saja ia tak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk pada laki-laki tersebut. Ia berharap tak ada sesuatu yang buruk terjadi pada Kenrick.


Evelyn tak hentinya mondar mandir menunggu kedatangan Kenrick. Ia begitu takut jika Kenrick kenapa-napa karena hingga belum saja pulang sampai sekarang dan tak memberinya kabar. Hingga suara ketukan pintu kamarnya membuat Evelyn segera membukakan pintu untuk orang tersebut yang tak lain adalah Steve.


"Steve. Ada apa?” tanya Evelyn dengan wajah khawatirnya. Ia takut jika kedatangan Steve hanya ingin membawa kabar buruk. Pikiran Evelyn kini memang sedang tidak bisa diajak untuk berpikir positif.


“Tuan meminta saya untuk memberitahu Anda untuk tidak menunggu Tuan,” ucap Steve yang malah hanya menyampaikan pesan dari Kenrick. Evelyn menghela nafasnya lega karena ternyata Kenrick baik-baik saja. Namun setelahnya kening gadis tersebut mengerut bingung.


"Kemana Kenrick pergi? Mengapa kau yang menyampaikan pesannya? Apa da tidak punya ponsel?” tanya Evelyn dengan begitu sinisnya. Ia begitu kesal pada Kenrick yang malah tidak mengatakan langsung padanya namun malah meminta Steve untuk mengatakan padanya.


“Ponsel Tuan sedang mati Nyonya. Tuan tengah berada di kediaman Nona Razita, ada sesuatu yang harus diurus,” ucap Steve dengan meringis takut ia salah berbicara. Sebelumnya ia sudah mengetahui tentang pertengkaran yang terjadi antara Evelyn dan Razita dari pelayan yang bercerita padanya.


Mendengar ucapan Steve, Evelyn mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah menahan marah. Steve yang melihat hal tersebut bahkan di buat takutnya melihat ekspresi Evelyn.


"Katakan padanya tak perlu pulang saja sekalian,” sinis Evelyn dengan begitu tegasnya. Steve yang mendengar ucapan tersebut menelan ludahnya susah payah.


“Nyonya, Anda tenanglah. Tuan tak mungkin melakukan hal gila dengan wanita itu,” ucap Steve yang berusaha untuk menenangkan wanita tersebut. Namun kini Evelyn sudah kepalang emosi dan tidak bisa untuk tenang. Bagaimana ia tidak marah dan bisa tenang jika Kenrick malah berada di rumah Razita. Apa laki-laki tersebut pergi sedari tadi hanya untuk menemui wanita tersebut?


"Kau mendukungnya?” tanya Evelyn dengan kesla pada Steve yang sontak menggelengkan kepalanya dengan tegas mendengar ucapan dari Evelyn yang terdengar begitu tegas dan penuh dengan ancaman.


“Tidak Tidak, aku mendukungmu nyonya,” ucap Steve dengan senyumannya pada Evelyn. Evelyn menghembuskan nafasnya kasar.


"Bagus. Jadi katakan apa yang aku katakan padamu tadi padanya,” tegas Evelyn yang tak ingin dibantah. Ia benar-benar merasa kesal pada Kenrick.


“Baik Nyonya,” ucap Steve akhirnya patuh. Setelah nya wanita tersebut segera menutup pintu nya dengan keras membuat Steve mengulum bibirnya sambil memejamkan matanya sambil menghela nafasnya kasar melihat kemarahan wanita tersebut.


***


Tak berselang lama Evelyn dapat mendengar suara deru mobil. Tanpa melihat pun Evelyn sudah begitu hafal siapa pemilik mobil tersebut. Kenrick, tahu jika mobil itu adalah milik Kenrick Evelyn segera berbaring dan berpura-pura tidur.


“Kau sudah tidur?” suara lembut tersebut menyapa telinga Evelyn. Bisa Evelyn rasakan jika kasur nya tersebut bergerak menandakan ada yang naik. Kenrick mengelus punggung wanitanya tersebut tapi Evelyn tak peduli dan tetap memejamkan matanya masih berpura-pura untuk tidur.


“Maafkan aku Sayang, tapi Razita membutuhkanku,” ucap Kenrick dengan lembut yang diakhiri dengan helaan nafas kasar dari laki-laki tersebut.


Sebisa mungkin Evelyn menahan emosinya untuk tidak meledak. Apa Kenrick pikir hanya wanita itu yang membutuhkannya. Lagi pula mengapa Kenrick jadi begitu peduli dan lebih mementingkannya? Siapa yang sebenarnya tunangannya?


"Jika begitu batalkan saja pernikahan kita. Dan menikah saja dengan wanita itu! Aku sudah tidak menginginkannya. Aku rasa, Evelyn pun begitu!” ucap Evelyn yang membuat Kenrick terkejut jika ternyata wanitanya tersebut belum tidur dan hanya pura-pura tidur.


"Aku berpikiran sempit? Hahaha! Apa kau bilang?! Katakan sekali lagi di depan wajahku!” marah Evelyn dengan tawa hambarnya, Evelyn pun menarik tubuhnya hingga bisa bersandar pada kepala ranjang. Menatap sengit pada laki-laki di hadapannya itu.


“Aku rasa, kau sedang emosi Evelyn. Kita bisa membicarakannya nanti,” ucap Kenrick dengan lelah dan hendak pergi dari sana namun ucapan Evelyn selanjutnya menghentikan langkahnya dan sepertinya malam ini mereka akan kembali bertengkar.


"Apa aku salah jika marah? Kau bahkan lebih sering menghabiskan waktu dengannya. Belakangan ini apa kau memperhatikanku? Tidak, kau terus sibuk dengannya. Kau tak pernah ada waktu untuk ku,” marah Evelyn. Ia sudah merasa begitu lelah dengan sikap Kenrick yang tak bisa tegas pada hubungannya sendiri. Laki-laki tersebut selalu berpikir jika semua akan baik-baik saja. Padahal hubungannya sudah berada di ujung tanduk jika mereka terus seperti ini.


“Sudah aku katakan jika Razita membutuhkanku. Mengapa kau jadi bersikap kekanakan begini? Apa salah jika aku membantu sahabatku,” marah Kenrick yang kini sudah meninggikan suaranya. Evelyn terenyah mendengar bentakan Kenrick. Bahkan demi membela sahabatnya itu Kenrick sampai membentak Evelyn.


"Apa dia tidak memiliki keluarga yang bisa dimintai bantuan? Dan lihatlah kau bahkan membentakku untuknya. Pikirkanlah! Apa kau pikir aku tak cemburu melihatmu dengan Razita?” tanya Evelyn yang kini ikut meninggikan suaranya. Tatapannya begitu tajam terasa begitu nusuk dan penuh akan luka. Kenrick menghela nafasnya kasar lalu menghampiri Evelyn dan ingin menggenggam tangan Evelyn namun Evelyn malah menghempaskannya.


“Maafkan aku Evelyn. Kau tak perlu cemburu padanya Evelyn. Aku hanya milikmu!” ucap Kenrick yang kini sudah kembali memelankan suaranya. Ia terlalu emosi dengan sikap Evelyn yang menurutnya kekanakan. Padahal mereka kini hanya saling tak memahami satu sama lain. Dan tak ada kepercayaan diantara mereka.


"Kau terus mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaanku. Kau bahkan tak bisa berkaca seperti apa dirimu. Kau tak berpikir jika aku bisa saja cemburu. Kau tak berpikir perasaan yang wanita itu miliki akan semakin besar? Tak peduli berapa kali pun kau mengatakan jika itu sebatas sahabat. Dia bisa saja salah paham dengan tindakanmu!” tegas Evelyn panjang lebar yang mampu membuat Kenrick terdiam mendengar ucapan wanitanya tersebut, tanpa mau mengatakan apapun sebelum laki-laki itu menghela napasnya kasar.


“Sudahlah! Aku lelah membicarakan ini! Lebih baik kau segera istirahat,” ucap Kenrick yang setelahnya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Mendengar ucapan Kenrick, Evelyn mengepalkan tangannya kesal dan segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya. Tak ada yang tahu jika kini Evelyn tengah menangis di dalam sana.


Tak beberapa lama Evelyn memilih untuk keluar dari kamar, rasanya jika tidur seranjang dengan Kenrick hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Jadi lebih baik ia segera pergi sana untuk menenangkan dirinya.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.