Mafia's woman

Mafia's woman
Mansion NY



Kenrick memilih mengajak Evelyn untuk duduk di Taman belakang, menikmati keindahan taman tersebut yang terlihat begitu indah dengan ditanami banyak sekali bunga berbagai jenis. Kenrick seolah sudah mempersiapkan semuanya.


"Bagaimana kau bisa memiliki mansion di New York?” tanya Evelyn dengan tatapannya yang lurus ke arah depan. rasanya Evelyn begitu enggan untuk mengalihkan perhatiannya dari taman indah di depannya tersebut. Memang tak seluas taman yang berada di Las Vegas namun di sana teras begitu menangkan apa lagi tak banyak penjaga yang berjaga. Ia merasa memiliki privasinya sendiri.


“Aku memiliki induk perusahaan di sini. Jadi aku sering kemari untuk mengurus perusahaan,” jelas Kenrick yang kali ini berhasil mengalihkan atensi Evelyn, hingga wanita tersebut kini menoleh ke arah Kenrick dengan tatapan terkejutnya.


"Benarkah? Kalau begitu bagaimana jika kita menetap di sini?” tanya Evelyn dengan begitu bersemangatnya. Sebelumnya ia tak pernah tahu jika Kenrick sebenarnya memiliki banyak induk perusahaan di kota lain, ia pikir Kenrick hanya mengembangkan induk bisnis nya di Las Vegas saja.


“Tidak bisa Sayang,” ucap Kenrick dengan tatapan sendunya pada Evelyn, karena kali ini tak bisa menuruti permintaan Evelyn.


"Kenapa?” tanya Evelyn dengan nada nya yang terdengar tak suka. Evelyn begitu ingin untuk menetap di New York karena tempat ini adalah rumahnya dan ia memiliki sahabat juga yang dapat menemaninya. Tidak seperti di Las Vegas, ia hanya berteman dengan sedikit orang.


“Induk perushaanku lebih banyak di Las Vegas. Lagipula saat ini aku masih memiliki tanggung jawab pada Keluarga Osvaldo,” ucap Kenrick menjelaskan yang membuat Evelyn berdecak. Untuk kali ini ia memilih untuk mengalah. Namun tentu ia tak akan menyerah begitu saja dan tetap akan membujuk Kenrick untuk tinggal lebih lama di New York.


"Ingatlah untuk segera melepaskannya,” peringat Evelyn. Ia hanya tak ingin Kenrick terlibat dalam dunia gelap lagi dan melibatkan anaknya.


“Iya Sayang. Segera sebelum kau melahirkan aku akan melepaskannya. Sesuai permintaanmu. Akau akan melakukan apapun untuk mu,” ucap Kenrick dengan tulus. Evelyn yang mendengarnya menganggukkan kepalanya sambil melihat kembali ke arah depan. Suasana yang begitu menyejukkan juga menenangkan. Evelyn rasanya begitu betah berlama-lama di tempat itu.


“Kini aku memiliki kalian untuk aku jaga tentunya.  Aku akan lebih memikirkan kalian,” ucap Kenrick bersungguh-sungguh, sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Evelyn. Evelyn sama sekali tidak keberatan. Kini bahkan ia sudah mengelus pipi Kenrick sayang. Sepertinya ia memang sudah luluh dan mau memaafkan laki-laki tersebut.


"Kenrick boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Evelyn sambil menoleh ke arah Kenrick yang kini juga menatap ke arahnya lalu mengangguk dengan senyumannya.


“Ada apa Sayang?” tanya Kenrick dengan lembut.


Evelyn menarik nafasnya dalam sebelum memulai pertanyaannya yang membuat Kenrick kini mengerutkan keningnya bingung. Seolah yang akan ditanyakan oleh Evelyn adalah hal besar.


"Kau dan Razita pernah menjalin hubungan? Atau kau pernah mencintainya?” Evelyn menatap Kenrick dengan wajah polosnya, Kenrick melihat ke arah wanita itu dengan senyumannya sambil mengelus puncak kepala Evelyn sayang.


“Sudah aku katakan bukan. Kita hanya bersahabat. Sudah pernah aku katakan bukan jika kau adalah cinta pertamaku? Aku tak pernah mencintai wanita lain sebelum dirimu,” jujur Kenrick. Karena memang tak ada hubungan apapun antara ia dan Razita. Kenrick bahkan sudah menganggap Razita sebagai adiknya sendiri.


Evelyn menghela nafasnya lega sambil tersenyum ke arah Kenrick. Evelyn menatap Kenrick melihat kesungguhan dalam diri laki-laki itu lalu Evelyn mengangguk saat melihat Kenrick yang begitu bersungguh-sungguh.


“Berhentilah berbicara manis. Jangan lupa kau dulu memiliki banyak wanita,” ucap Evelyn yang masih merasa kesal dengan ucapan Kenrick yang terdengar begitu manis sehingga membuat kupu-kupu di perutnya berterbangan saat mendengarnya.


"Jangan lupakan fakta jika dulu kau pernah menjadi Don Juan,” kesal Evelyn mengingatkan ulah laki-laki itu dulu yang bahkan memiliki begitu banyak wanita di mansionnya.


“Semua itu sudah berlalu Sayang. Lagipula aku melakukannya tanpa perasaan. Aku hanya memberi mereka banyak uang bukan banyak cinta. Jadi aku tidak pernah berkata manis pada mereka. Hanya kau yang mendapatkan itu Sayang. Aku memiliki mereka tanpa melibatkan perasaan hanya melibatkan nafsu,” jelas Kenrick panjang lebar. Evelyn hanya diam mendengarnya sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya. Ia tahu Kenrick mengatakan yang sejujurnya. Karena bahkan setelah mengenalnya Kenrick rela melepaskan semua perempuan nya itu.


“Tentang Razita kau masih cemburu dengannya?” Tanya Kenrick hati-hati samil menaikan sebelah alisnya. Pertanyaan Kenrick sukses membuat Evelyn gelagapan lalu segera duduk dengan tegak.


"Kau sangat percaya diri, untuk apa cemburu pada orang yang sudah tiada,” sinis Evelyn yang jelas hanya menyembunyikannya saja. Karena sampai sekarang ia tetap saja tak suka jika Kenrick membahas tentang wanita tersebut ataupun memujinya.


Mendengar ucapan Evelyn yang begitu sinis Kenrick hanya tersenyum, laki-laki itu jelas saja tidak akan percaya dengan ucapan wanitanya itu.


“Katakan saja jika kau cemburu Sayang. Aku tak akan marah,” ucap Kenrick dengan senyumannya yang hanya mendapatkan tatapan sinis dari Evelyn.


"Hentikan omong kosongmu itu Kenrick. Aku tahu kau hanya mencintaiku,” ucap Evelyn. Bukannya terlalu percaya diri tapi, bukankah Kenrick yang sudah mengatakannya sendiri. Dan kini Evelyn berusaha untuk mempercayainya. Meskipun sebenarnya tak baik jika terlalu mempercayai laki-laki.


“Kau benar.” Kenrick mengelus puncak kepalamu sambil tersenyum dengan begitu manis.


"Kalian berteman dari kecil?” tanya Evelyn yang kini mulai penasaran mengapa Kenrick bisa begitu dekat dengan Razita.


“Ya kami mulai berteman dari kecil,” ucap Kenrick dengan tatapannya yang kini menerawang ke depan. Mengingat kembali tentang sahabatnya tersebut.


"Bagaimana kalian bisa berteman?” tanya Evelyn sambil melihat ke arah Kenrick dengan penasarannya.


“Razita adalah sahabatku. Kau tahu Mommy meninggal saat aku masih berusia tujuh tahun. Aku merasa kesepian saat itu di tambah Dad yang selalu fokus dengan pekerjaannya.” Kenrick perlahan mulai menceritakan tentang kehidupannya yang dulu pada Evelyn. Laki-laki itu ingin terbuka pada wanitanya, tak ingin lagi menyembunyikan apapun dari Evelyn, belajar dari pengalaman sebelumnya. Ia tak ingin ada salah paham lagi di antara mereka. Evelyn mengelus tangan Kenrick menenangkan laki-laki itu menyalurkan kekuatan pada nya.


“Saat itu aku bertemu dengan Razita. Selanjutnya dia yang selalu ada untuk menemaniku. Namun sayang sepertinya dia menganggap lebih pertemanan kita,” ucap Kenrick menjelaskan yang Evelyn balas dengan anggukan.


"Aku sudah mengatakannya berkali-kali bukan? Dan sekarang kau mempercayainya?” tanya Evelyn dengan sinis. Jika kembali mengingatnya saat itu Evelyn begitu kesal pada Kenrick yang tak mempercayai ucapannya. Kenrick membalasnya dengan anggukan sambil menghembuskan napasnya kasar.


“Aku baru mengetahuinya saat Razita menghembuskan nafas terakhirnya,” jelas Kenrick dengan helaan nafasnya.


"Tidak ada yang salah dengan perasaannya. Hanya sikapnya saja yang salah. Dan semua karena mu yang tak mempercayai ucapan ku,” kesal Evelyn. Kenrick menjawabnya dengan anggukan lalu mengecup kening Evelyn sayang. Ia tahu, dirinya salah karena tak mempercayai ucapan wanitanya itu.


“Sudahlah tak usah memikirkannya. Sekarang kita hanya perlu fokus pada kehidupan kita kedepannya. Juga anak kita,” ucap Kenrick dengan tulus sambil mengelus perut Evelyn yang masih rata membuat kupu-kupu rasanya terus berterbangan di perutnya.


***