Mafia's woman

Mafia's woman
Rumah Persembunyian



Setelah berada lama dalam perjalanan, akhirnya Mereka sampai di sebuah hutan yang begitu banyak pohon tapi tertata rapi. Di tengah pepohonan tersebut terdapat bangunan kecil berbentuk seperti kubah.


"Hutan? Apa...Aku harus bersembunyi di hutan? Atau kau komplotan Ronald?” tanya Evelyn dengan matanya menyipit, menatap curiga pada Steve.


Steve tak menjawab, tapi laki-laki itu malah berjalan ke arah sebuah pohon. Lalu mengusap tanah di bawahnya hingga terlihat tombol dengan di lapisi kaca. Steve memencet tombol tersebut hingga tanah bergetar bagai ada gempa dan keluarlah sebuah rumah klasik dengan ukuran sederhana.


"Rumah?” tanya Evelyn terkejut. Ia tak menyangka kubah tadi adalah sebuah rumah yang tertimbun. Ia pikir itu adalah sebuah makan.


“Ini adalah rumah persembunyian Tuan Kenrick Nyonya,” jelas Steve akhirnya, dan Evelyn menjawabnya dengan anggukan. Ia cukup terkejut sekaligus takjud melihat nya.


"Aku tak tahu ada hal seperti ini,” ucao Evelyn dengan mata berbinarnya. Tentu saja ia tak pernah menemukan rumah persembunyian seperti ini. Begitu indah dan terawat. Seperti ada yang sering membersihkannya.


“Karena Anda terlalu berpikiran buruk pada saya Nyonya. Bagaimana bisa saya mengkhianati Tuan,” ucap Steve tegas.  Mendengar ucapan laki-laki tersebut Evelyn meringis karena sudah mencurigai Steve yang jelas begitu setia pada Kenrick. Apa lagi laki-laki tersebutlah yang begitu baik pada Evelyn semenjak Evelyn berada di mansion Kenrick.


Laki-laki itu segera mengiringi langkahnya memasuki rumah dengan Jessie yang mengangkat ekor gaun Evelyn, untuk memudahkan gadis tersebut berjalan.


“Nyonya lebih baik Anda membersihkan tubuh dan beristirahat. Saya akan datang untuk membantu tuan,” pesan Steve. Ia kini begitu khawatir dengan Tuannya tersebut dan merasa jika mereka masih membutuhkan bantuan lainnya. Pasukan yang Ronald bawa begitu banyak jadi ia harus mempersiapkan pasukannya yang lain.


Steve tak habis pikir dengan orang yang telah berani untuk mengkhianati Kenrick tersebut, padahal mereka masih satu keluarga.


"Berhati-hatilah Steve, kau harus pastikan jika Kenrick baik-baik saja,” ucap Evelyn berpesan pada Steve. Kini ia juga merasa begitu khawatir pada laki-laki tersebut. Laki-laki yang harusnya kini sudah menjadi suaminya tersebut kini malah harus dibatalkan.


“Saya akan berusaha Nyonya.” Steve hanya mengangguk lalu segera pergi, setelahnya Evelyn dapat merasakan jika rumah tersebut bergerak turun. Hingga pemandangan hutan yang awalnya tersaji mulai menghilang. Gorden mulai tertutup.


Penerangan hanya dari lampu juga bagian atas rumah yang sebagian terbuat dari kaca.


“Mari Nyonya saya akan membantu Anda, untuk berganti pakaian,” ucap Jessie pada Evelyn yang menjawabnya dengan anggukan. Karena ia juga mulai tak tahan dengan gaun pengantin yang kini membalut tubuh nya tersebut.


Evelyn menatap sekeliling kamar yang dipenuhi dengan lampu yang begitu indah, namun keindahan lampu itu bagai surut saat Evelyn mengingat tentang Kenrick yang saat ini entah bagaimana keadaannya.


Evelyn kini sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian Kenrick yang berada di sana. Hanya sebuah kemeja panjang yang membalut tubuhnya hingga lutut karena tak ada baju wanita di sana jadilah kini ia hanya menggunakan pakaian Kenrick saja, dari pada harus menggunakan pakaian pengantin.


"Apa yang harus aku lakukan?” tanya Evelyn pada dirinya sendiri. Saat Evelyn sedang sibuk memikirkan tentang Kenrick, suara pintu diketuk.


“Nyonya saya membawakan Anda makan. Saya tahu anda pasti lapar,” ucap Jessie sambil meletakkan makanan yang di bawa nya di atas meja yang berada di dekat sofa yang berada di sana. Beruntung di dapur ia dapat menemukan beberapa bahan makanan yang memiliki pengawet. Karena rumah tersebut memang hanya akan dibersihkan selama satu bulan sekali. Pelayan yang membersihkan pun bukan sembarang orang hanya Jessie yang bisa membersihkannya.


"Tidak, aku tidak lapar. Bawa saja kembali,” ucap Evelyn yang sedang tidak berselera makan. Bagaimana ia bisa makan saat pikirannya saja terus tertuju pada Kenrick.


“Tapi Nyonya Anda bahkan belum makan,” ucap Jessie masih membujuk Evelyn agar mau memakan makananya.


"Bagaimana aku bisa menikmatinya saat aku  tak tahu bagaimana keadaan Kenrick,” papar Evelyn dengan senyuman sendunya. Jessie menghela nafasnya, ia tahu apa yang dirasakan majikannya tersebut namun ia juga tak bisa membiarkan Evelyn sampai sakit karena telat makan.


“Nyonya percayalah tuan akan baik-baik saja. Aku yakin tuan tak akan suka jika Anda menunda makanmu,” ucap Jessie lagi berusaha untuk memaksa majikannya tersebut agar mau makan.


Evelyn akhirnya hanya bisa menghela napas dan mengambil makanan yang Jessie bawakan untuknya. Evelyn hanya menatap makanan di depannya dengan malas, tak ada selera sedikitpun untuk memakannya.


Pikiran wanita tersebut terus melayang pada kondisi Kenrick saat ini. Evelyn bahkan tertidur dan terbangun saat merasakan rumah tersebut yang bergerak naik dengan perlahan.


"Kenrick?” Evelyn terkejut saat melihat Kenrick yang berjalan dibantu oleh Sean dan Steve, keadaan laki-laki itu terlihat sangat mengkhawatirkan.


Evelyn segera menghampirinya dengan air mata yang sudah mengalir. Kenrick yang melihat Evelyn malah menampilkan senyumannya.


"Kenrick kenapa kau bisa seperti ini?” tanya Evelyn dengan air matanya yang sudah mengalir. Ia semakin takut jika sampai kehilangan wanitanya tersebut.


“Aku baik-baik saja,” ucap Evelyn sambil menghapus air mata wanita yang kini sudah berada di depannya tersebut, berusaha untuk menenangkan Evelyn.


Evelyn segera membantu memapah Kenrick bersama dengan Sean, sedangkan Steve berjalan di belakang Mereka.


"Kau sudah memanggil dokter?” tanya Evelyn pada kedua bawahan Kenrick tersebut. Ia kini benar-benar khawatir pada Kenrick yang sudah terluka.


“Max sedang menjemputnya,” ucap Sean dengan lembutnya. Evelyn akhirnya hanya mengangguk lalu segera membawa Kenrick ke kamar Mereka.


“Tak perlu khawatir sayang, aku baik-baik saja,” ucap Kenrick menenangkan sambil menggenggam tangan Evelyn saat ia sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang mereka.


Evelyn menatap Kenrick dengan perasaan bersalah karena menurutnya ini adalah salahnya karena dirinya lah kini Kenrick berada dalam bahaya.


Begitu banyak perandaian yang kini memenuhi kepalanya. Namun ia tahu, berandai-andai tak akan mengubah apapun dan kini hanya perlu fokus ke depan dan berdoa agar Kenrick baik-baik saja.


“Aku takut Kenrick, aku mohon jangan tinggalkan aku,” ucap Evelyn dengan air matanya yang tak hentinya mengalir. Kenrick tersenyum dengan lembut menenangkan wanita tersebut.


“Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Tenan lah aku tak akan mati hanya karena luka tembak ini,” ucap Kenrick dengan tawanya yang terdengar begitu sombong. Hazel berdecak mendengarnya.


“Cih, begitu sombong,” kesal Evelyn pada kesombongan laki-laki tersebut yang kini malah tertawa mendengar ucapan Evelyn tersebut. Meskipun kini luka tembak di perutnya begitu sakit namun ia berusaha untuk menahan nya agar tak membuat Evelyn khawatir.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.