
Sean berjalan dengan langkah tegasnya menuju ke arah gadis yang sedari tadi adalah objek penglihatannya lalu ia dengan segera menarik gadis tersebut dan memberikan bogeman mentah pada laki-laki yang sudah dengan berani untuk memaksa gadis tersebut.
“Sialan, siapa kau? Berani sekali kau menghajar ku,” marah laki-laki yang memiliki banyak tato di tubuh berotot nya tersebut.
Laki-laki dengan tato itu sudah akan memberikan bogeman mentah pada Sean, namun dengan begitu lihainya Sean menghindar dan malah ia yang mendaratkan bogem nya kembali pada mata laki-laki tadi.
“Mata mu sepertinya bermasalah hingga tak dapat melihat dengan jelas, mana yang ****** dan mana yang bukan,” marah Sean dengan begitu tajamnya pada laki-laki tadi yang kini sudah menatap Sean tak kalah tajam. Bahkan kini teman laki-laki tadi sudah siap untuk ikut menghajar Sean.
Hingga kini Sean melawan tiga laki-laki dengan tubuh besar di depannya. Tentu tak sulit bagi Sean untuk melakukannya. Hanya tiga orang tentu bukan hal sulit bagi Sean yang kini sudah dengan begitu lihat memberikan pelajaran pada laki-laki di depannya.
“Tangan ini juga begitu kurang ajar pada wanita, hingga tak bisa di buat menyentuh yang harus disentuh saja,” marah Sean yang langsung mematahkan tangan laki-laki tersebut.
Suara pekikan dari kesakitan tiga laki-laki tersebut, juga suara pekikan dari kaum hawa yang merasa takut melihat adegan baku hantam itu. Kini Sean juga tiga laki-laki tersebut sudah menjadi pusat perhatian klub itu. Adegan yang merupakan tontonan gratis itu tentu tak akan mereka lewatkan begitu saja. Memangnya kapan lagi melihat tinju di arena terbuka seperti ini.
“Penjaga, penjaga? Dimana manajer klub ini? Apa dia tidak bisa untuk menangani pelanggan seperti ini? Kalian tahu aku pelanggan VVIP di sini,” marah laki-laki tadi yang kini masih tersungkur di lantai dengan ketakutannya.
Apa lagi melihat Sean yang kini berjalan ke arahnya dengan tatapan yang begitu menakutkan. Gadis tadi kini hanya diam saja sambil menutup mulutnya merasa takut juga tak percaya melihat adegan di depannya itu.
“Tuan, hentikan. Aku masih membutuhkan pekerjaan ini,” ucap gadis tersebut yang kini sudah meneteskan air matanya karena terlalu takut melihat adegan di depannya itu.
Sean menghentikan aksinya dan bersamaan dengan itu dua orang penjaga kini menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
“Bawa dia pergi dari sini. Atau aku dan teman ku akan berhenti untuk ke klub ini, kau tahu aku tamu VVIP di sini,” ucap laki-laki tadi sambil menunjuk ke arah Sean. Baru saja penjaga tersebut akan menangkan Sean namun gerakannya terhenti saat melihat cincin yang melihat di jari telunjuk Sean. Juga melihat tato di tangan Sean yang menunjukkan siapa laki-laki tersebut.
Mereka yang sama-sama bekerja di dunia malam jelas mengetahui siapa Sean dan apa arti Tato dengan lambang salib bersayap itu. Belum lagi cincin yang Sean kenakan yang menunjukan jika Sean berada di kepemimpinan tertinggi. Membuat mereka jelas tak berani melakukan apapun pada Sean. Mereka juga tahu jika bos mereka yang tak lain adalah Xavier terlibat dengan mereka.
“Bawa dia pergi. Jangan biarkan masuk ke sini lagi,” tegas Sean dengan wajah datar dan tajamnya.
“Baik Tuan,” ucap penjaga tersebut yang langsung membuat mereka yang berada di sana terkejut melihat bagaimana penjaga itu yang begitu patuh pada Sean daripada Tamu VVIP mereka yang kini menunjukkan jika Sean lebih berkuasa.
“Ikut dengan ku,” tegas Sean yang setelahnya langsung menarik gadis tadi untuk segera pergi dari sana. Dengan patuh kini gadis tersebut hanya mengikuti Sean. Karena setelah melihat penjaga tadi yang takut dan begitu patuh pada Sean ia berpikir Sean memiliki jabatan yang tinggi yang bisa saja mengancam pekerjaannya jadi ia tak ingin untuk membantah dan akhirnya hanya membuatnya kehilangan pekerjaan yang begitu ia butuhkan itu.
Mendengar namanya pamannya di sebut gadis tersebut segera menoleh ke arah Sean dengan keningnya yang berkerut. Ia terkejut karena Sean mengetahui tentangnya juga [pamannya. Sepertinya ia harus waspada pada Sean yang bagi gadis itu bukanlah orang sembarangan.
“Apa yang Anda inginkan Tuan?” tamnya gadis tersebut yang kini membuat Sean menyeringai mendengar ucapan gadis tersebut. Sean yang awalnya membelakangi gadis itu kini langsung membalik tubuhnya dan menatap gadis tersebut dengan seringainya.
“Aku ingin kau memberitahuku kelemahan Rudolf, juga rumah nya yang lain,” ucap Sean dengan seringainya yang langsung membuat gadis itu menggelengkan kepalanya tegas mendengar permintaan Sean.
“Untuk apa saya memberitahu Anda Tuan? Jika Anda ingin saya bergabung dengan Anda untuk mencelakai paman saya sendiri maka saya tak akan pernah melakukannya,” tegas gadis tersebut yang kini menatap Sean dengan begitu tajamnya. Sedangkan Sean kini hanya menyeringai mendengar jawaban gadis tersebut yang begitu melindungi paman yang nyatanya sudah membunuh kedua orang tua gadis itu untuk sebuah posisi yang baik dan juga untuk mengambil harta adiknya sendiri.
“Apa prinsipmu darah lebih kental dari air?” tanya Sean dengan menaikkan sebelah alisnya menatap nyalang pada gadis di depannya itu.
“Anda sudah mengetahui jawabannya Tuan. Jika tak ada lagi yang ingin Anda bicarakan maka saya akan pergi. Dan jika Anda ingin memecat saja karena saya tak membantu Anda maka lakukan lah,” ucap gadis tersebut tajam dan hendak pergi dari sana namun ucapan Sean selanjutnya mampu membuat gadis itu menghentikan langkahnya karena terlalu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang Sean katakan.
“Paman mu adalah orang yang membunuh kedua orang tua mu,” ucap Sean yang kini berhasil menghentikan langkah kaki gadis tersebut.
Gadis tadi kini sudah menegang mendengar ucapan Sean. Sean berjalan mendekat ke arah gadis tadi dengan senyumannya yang mengembang.
“Kau yakin tak akan bekerja sama dengan ku untuk membalaskan dendam kedua orang tuamu?” tanya Sean menyeringai pada gadis yang kini sudah menatapnya dengan begitu tajam.
“Tengah menipuku?” tanya gadis tersebut dengan suara nya yang sudah terdengar bergetar.
“Kau pikir dari mana aku tahu tentang kematian kedua orang tuamu Nona?” tanya Sean telak.
Sean benar, dari mana ia akan tahu tentang kedua orang tuanya jika apa yang Sean katakan hanyalah omong kosong semata.
“Semua ada ditanganmu Nyonya. Jika kau ingin bekerja sama dengan ku, kau bisa menghubungi ku,” ucap Sean menarik tangan gadis tersebut lalu membuka tangannya gadis tadi yang terkepal dan memberikan kartu nama miliknya pada gadis tersebut.
Setelahnya ia segera pergi dari sana yang meninggalkan gadis tersebut yang masih saja membeku di tempatnya masih mencerna dengan baik apa yang baru saja ia dengar tentang fakta kematian kedua orang tuanya.
***