
Evelyn mengerjapkan matanya beberapa kali saat sinar mentari pagi memasuki kamar rawatnya melalui jendela yang tirainya sudah di muka. Sinar mentari yang masuk menyilaukan penglihatnya, hingga mau tak mau akhirnya ia membuka matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah Kenrick yang kini tengah tersenyum dengan begitu lebarnya ke arah Evelyn.
“Kau sudah bangun?” tanya Kenrick dengan senyumannya yang hanya dibalas dengan wajah datar dan sinis oleh Evelyn. Kenrick sama sekali tak peduli karena tujuannya adalah membujuk Evelyn, jadi ia tak akan perhitungan pada wanitanya tersebut dan berusaha bersabar menghadapi Evelyn yang masih marah padanya.
“Apa kau melihatku sedang memejamkan mata?” sinsi Evelyn yang terdengar begitu sarkas. Kenrick hanya menggelengkan kepalanya memaklumi sikap Evelyn yang kadang-kadang memang begitu sarkas terlebih padanya. Apa lagi kini hubungan mereka memang sedang tidak baik jadi Kenrick berusaha untuk memakluminya.
“Mau ku antar ke kamar mandi?” tanya Kenrick saat melihat Evelyn yang akan turun. Kenrick yang semula tengah sibuk dengan pekerjaan nya di sofa segera menghampiri Evelyn sambil memegang tangan Evelyn namun wanita tersebut langsung menghempaskan tangan Kenrick.
“Aku bisa sendiri, tak perlu mencari perhatian. Ini masih pagi, aku begitu mual melihat tingkah mu, sepertinya anakku memang sudah tak menginginkanmu sebagai ayahnya. Hingga melihatmu membuatnya mual dan enggan,” ucap Evelyn panjang lebar. Namun tak ada keindahan dalam ucapannya itu, yang ada hanya sebuah penghinaan dan kalimat sarkas. Kenrick hanya menghembuskan nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya.
Menghiraukan ucapan Evelyn, ia tetap membantu Evelyn untuk menuju ke kamar mandi. Membawa infus yang masih terpasang di tangannya. Kenrick menunggu Evelyn di depan kamar mandi. Hingga tak lama setelah mencuci wajah dan menggosok giginya Evelyn dengan segera keluar dan lagi-lagi Kenrick membantunya.
Kenrick membantu Evelyn hingga wanitanya tersebut kembali merebahkan tubuhnya di ranjang nya. Namun setelahnya membantu Evelyn agar ranjangnya berubah posisi dan Evelyn bisa bersandar.
“Apa masih mual?” tanya Kenrick sambil mengelus perut Evelyn.
Kenrick sudah membaca beberapa artikel jika usapan lembut oleh sang ayah di perut janin akan membuat janin tenang dan meredakan mual. Setelah mengetahui jika dirinya akan menjadi seorang ayah Kenrick banyak membaca artikel tentang kehamilan juga cara merawat bayi. Kenrick sungguh mempersiapkannya mulai dini.
“Tak usah peduli pada ku,” ucap Evelyn sambil menepis tangan Kenrick. Kenrick menghela nafasnya sambil menggenggam tangan Evelyn. Kini ia tengah duduk di samping Evelyn, di kursi yang sudah disediakan.
“Kali ini saja bisakah kau mendengarkanku? Aku begitu mengkhawatirkanmu! Kau tahu? Saat kau pingsan tadi malam aku begitu marah pada apartemen mu itu. Rasanya aku ingin sekali membakar gedung apartemen itu! Fasilitas di apartemen seperti itu bisa-bisanya rusak,” kesal Kenrick yang kini malah bercerita dan tak memperdulikan ucapan Evelyn. Ia hanya ingin Evelyn tahu jika dalam ceritanya tersebut tersirat sebuah pengakuan jika sebenarnya ia begitu mengkhawatirkan dan peduli pada Evelyn. Mengatakan sebuah kalimat kepedulian tanpa repot mengatakan ‘Aku peduli pada mu Evelyn, tak bisakah kau melihatnya’ Kenrick tak ingin mengatakan hal tersebut yang mungkin akan semakin memperburuk suasana dan berdebat dengan Evelyn.
“Bukankah kau sudah melakukannya?” Sean yang entah datang dari mana tiba-tiba saja menyela ucapan Kenrick membuat Evelyn melotot.
“Apa kau sudah gila Kenrick?!” Evelyn menatap marah sekaligus tak percaya pada Kenrick yang kini sudah menatap tajam pada Sean yang malah mengatakan apa yang baru saja di lekukannya. Kenrick memang begitu menyeramkan saat marah. Hanya karena sebuah lift rusak dan mengakibatkan wanitanya itu masuk rumah sakit akhirnya Kenrick malah membakar apartemen tersebut.
“Sean apa kau tak memiliki sopan santun tiba-tiba masuk? Keluar dan carilah makanan untuk kita,” perintah Kenrick dengan begitu tajam pada bawahannya yang semakin berani saja padanya itu. Tak tahukah Sean jika ucapannya tersebut bukannya membuat Evelyn terkesan malah hanya akan membuat Evelyn marah padanya. Mengingat Evelyn adalah gadis baik yang tak ingin merugikan orang lain sangat berbanding terbalik dengannya yang suka sekali merugikan musuh nya atau orang yang membuatnya marah.
Melihat pertengkaran yang sebentar lagi akan terjadi Sean memilih pergi. Beruntung Kenrick malah memintanya pergi jadi ia tah harus membuat alasan untuk meninggalkan medan perang itu.
“Bisakah kau tak melakukan apapun sesukamu?” sinis Evelyn yang sudah tak habis pikir dengan Kenrick yang lagi-lagi membuat tak bisa untuk mengatakan apa lagi agar Kenrick bisa lebih baik lagi dan tak suka merugikan orang lain karena amarahnya itu.
“Aku hanya khawatir padamu!” ucap Kenrick sambil menundukkan kepalanya. Merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Padahal jelas jika ia melakukannya karena terlalu marah dan khawatir pada Evelyn. Ia hanya takut jika terjadi sesuatu pada Evelyn dan ia kehilangan wanitanya itu.
Evelyn menyentuh tangan Kenrick dan melihat kesungguhan ucapan laki-laki itu.
“Aku akan mengganti semuanya dan membayar biaya rumah sakit mereka. Sayang, apa kau sudah memaafkanku? Kau tahu aku sangat menyesalinya. Aku sangat mencintaimu tidak ada wanita lain aku cintai,” ucap Kenrick dengan bersungguh-sungguh. Tatapannya kini menatap dalam pada Evelyn. Berharap jika Evelyn sudah memaafkannya karena tadi Evelyn sudah berbicara dengan begitu lembut padanya.
“Aku masih sangat kecewa padamu. Kau benar-benar membuat luka yang begitu dalam untuk ku Kenrick,” ucap Evelyn sambil melepaskan tangannya dan memejamkan matanya berusaha menahan sesak yang menerpanya. Kehamilan memang membuat Evelyn begitu cengeng dan ia membenci ini. Namun tentu tidak pada calon anaknya, ia begitu menyayanginya. Ia hanya membenci mood nya yang gampang berubah karena hormon kehamilan.
“Aku mengerti Sayang kau pasti begitu kecewa padaku. Tapi aku mohon berikan aku satu kesempatan lagi. Kita perbaiki semuanya dan memulainya dari awal,” mohon Kenrick dengan tatapannya yang begitu dalam. Bagi Kenrick, Evelyn adalah segalanya. Tentu ia tak ingin jika sampai kehilangan wanitanya tersebut. Ia akan terus memperjuangkan Evelyn. Apa lagi kini akan ada anak di antara mereka.
“Aku tak tahu, semua masih sulit,” ucap Evelyn sambil mengalihkan perhatiannya.
“Aku mengerti, aku akan terus memperjuangkanmu. Hingga kau mau untuk memaafkan ku,” ucap Kenrick sambil tersenyum dengan begitu lebar pada Evelyn.
Ternyata memiliki pasangan yang punya kekuasaan besar seperti Kenrick sangatlah berbahaya. Evelyn tahu, ke depannya pasti tidak akan mudah. Apalagi menjaga anaknya sendirian adalah hal yang tidak bisa Evelyn bayangkan. Anaknya membutuhkan sosok ayah yang bisa melindunginya. Namun untuk sekarang ia masih tak bisa maafkan Kenrick dengan mudah. Ia masih membutuhkan waktu. Jadi ia tak melarang Kenrick untuk kembali berusaha untuk nya. Memperjuangkan hubungan mereka juga anak mereka.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Maaf ya cuma bisa up 1 bab untuk hari ini. Karena aku lagi kurang sehat jadi belum bisa untuk nulis.
Kalian jaga kesehatan ya.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.