
Hari demi hari telah berlalu, dari begitu banyak kejadian yang terjadi dalam hidup. Hari ini, hari yang begitu Evelyn nanti-nantikan akhirnya datang. Evelyn hanya berharap semuanya berjalan lancar tanpa kendala kali ini.
“Evelyn kau sungguh terlihat sangat cantik,” puji Livi dengan senyumannya saat menatap sahabatnya yang kali ini sudah terlihat begitu cantik dengan gaun putih pernikahannya yang begitu elegan dan mewah.
“Aku sangat berharap kau berbahagia dengan pernikahanmu,” ucap Ivey dengan tatapan lembutnya pada Evelyn. Harapannya begitu sederhana. Melihat sahabatnya itu berbahagia. Setelah masa-masa yang begitu sulit mereka hanya ingin Evelyn terus bahagia.
“Kau sudah yakin untuk menikah dengannya? Jika kau ingin kabur masih ada waktu,” ucap Livi yang kali ini malah tiba-tiba meragukan kesungguhan Evelyn. Padahal dari kemarin malam ia sudah menanyakan hal sama pada Evelyn. Evelyn tersenyum mendengar sahabatnya yang begitu mengkhawatirkannya. Ia sama sekali tidak tersinggung karena ia tahu sahabatnya hanya ingin yang terbaik untuknya.
"Kau yakin bisa membantuku kabur? Kenrick tidak akan melupakanku begitu saja, kau tahu itu,” ucap Evelyn dengan senyuman menenangkannya. Livi dan Ivey sontak menggeleng sambil tersenyum mereka sudah begitu yakin tak akan bisa membantu Evelyn untuk kabur mengingat siapa seorang Kenrick Osvaldo.
“Tapi aku rasa Sean bisa membantumu,” ucap Livi memberi saran yang malah membuat Evelyn menggeleng mendengar saran dari sahabatnya itu.
"Dia tak akan membantuku. Aku tak memiliki masalah apapun pada Kenrick. Dia hanya hadir sebagai penyelamat bukan pengkhianat,” ucap Evelyn menjelaskan. Hubungannya dengan Kenrick kini begitu baik, bahkan Kenrick memperlakukannya dengan baik lalu untuk apa ia akan kabur? Apalagi kini sudah ada anak diantara mereka jelas Evelyn tak akan berpikir pendek karena nya.
Dan Sean. Laki-laki itu memang begitu baik. Namun untuk membantunya kabur tanpa sebab jelas laki-laki itu tak akan bisa. Meskipun Sean mencintainya tapi laki-laki itu jelas lebih setia dari Tuannya.
"Aku tidak akan pergi darinya,” tegas Evelyn akhirnya. Kedua sahabatnya tersenyum ke arah Evelyn sambil menganggukkan kepalanya. Tahu jika kini cinta sahabatnya itu memang begitu besar untuk Kenrick.
“Aku hanya berharap kau bisa berbahagia,” ucap Livi yang tengah sudah mengatakannya untuk keberapa kali. Evelyn tersenyum sambil mengangguk. Evelyn merasa begitu beruntung memiliki sahabat seperti mereka.
"Kalian tenang saja. Terima kasih telah mengkhawatirkanku,” tegas Evelyn berusaha untuk meyakinkan sahabatnya itu jika semua nya akan baik-naik saja dan ia akan hidup dengan baik.
Tak lama paman Evelyn masuk dengan senyumannya. Laki-laki itu terlihat begitu tampan dengan setelan jas nya yang begitu rapih.
“Aku berharap yang terbaik untukmu, Nak.” Dion memeluk Evelyn begitu erat yang juga dibalas dengan sebuah pelukan oleh Evelyn. Kini di ruangan tersebut hanya ada mereka saja. Karena para perias yang sudah pergi dan mengatakan akan memberikan waktu untuk Evelyn dan keluarganya. Jadilah mereka keluar lebih dulu.
"Terima kasih Paman,” uca Evelyn tulus. Setelahnya mereka saling melepaskan pelukan mereka.
“Hari ini adalah hari bahagia, jadi kita harus berbahagia. Ayo kita keluar, Nak. Kenrick sudah menunggumu,” ucap Dion mengajak keponakannya itu untuk segera keluar agar tidak membuat Kenrick menunggu lebih lama lagi. Dion bahkan yakin kini Kenrick sudah tidak sabar menunggu Evelyn. Evelyn tersenyum mendengarnya lalu segera keluar dari ruang ganti tersebut bersama dengan pamannya juga dua sahabatnya.
Altar yang begitu indah dihias dengan gaya klasik dengan dekorasi serba putih. Di depan altar terlihat para keluarga, sahabat, rekan kerja. Bahkan rekan media yang meliput pernikahan mewah itu sudah duduk di kursi yang disediakan.
Evelyn kini berjalan ke altar dengan di bantu oleh pamannya sedangkan di depannya ada gadis kecil yang membawa bunga. Sedangkan kedua sahabatnya kini mengiringi di belakangnya. Senyuman Evelyn tak pernah luntur. Bahkan senyuman itu semakin cerah di setiap langkahnya yang mendekat ke arah Kenrick.
“Kau sudah siap, Nak? Paman berharap pernikahan kalian akan langgeng. Jaga putriku baik-baik Kenrick,” tegas Dion sambil menatap dalam pada Kenrick. Dion memang sudah menganggap Evelyn sebagai putrinya dan ia tak ingin ada yang menyakiti putrinya itu. Kenrick membalasnya dengan anggukan. Laki-laki itu terlihat tersenyum ke arah Evelyn.
“Aku akan menjaganya dengan baik. Kau tenang saja Paman,” ucap Kenrick dengan pasti.
Dion mengangguk lalu segera turun dan berjalan ke arah kursi bagian depan yang masih kosong begitupun dengan dua sahabat Evelyn. Gadis kecil yang menabur bunga juga segera pindah ke posisinya. Serangkaian acara dimulai. Dari pemberkatan hingga janji suci.
“Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Kalian dipersilahkan untuk bertukar cincin,” ucap pendeta yang membantu acara pemberkatan mereka. Setelah prosesi tukar cincin, pendeta tersebut kembali bersuara.
“Mempelai pria di persilahkan mencium mempelai wanita,” lanjut pendeta itu lagi yang membuat Kenrick kini tersenyum dengan senyumannya yang mengembang dengan begitu sempurna.
“Kau terlihat begitu cantik, Sayang,” puji Kenrick sambil menatap dalam pada Evelyn.
"Kau bisa menggodaku nanti malam,” kesal Evelyn yang kini pipinya sudah bersemu merah karena Kenrick yang malah menggodanya.
“Aku mengatakan yang sejujurnya. Kau memang terlihat sangat cantik,” ucap Kenrick lagi yang tak ada hentinya menggoda wanita nya itu. Menghiraukan para undangan yang kini tengah menatap mereka dengan tanda tanya tentang apa yang tengah mereka bicarakan.
"Berhenti menggodaku Kenrick!” Evelyn memegang pipinya yang terasa panas karena Kenrick yang terus menggodanya.
"Karena kau sudah memujiku. Nanti malam aku akan menyerahkan diriku untukmu,” ucap Evelyn menawarkan dirinya yang membuat Kenrick pasti begitu senang mendengarnya. Mendapatkan lampu hijau begini siapa yang tak suka?
“Aku tidak sabar untuk itu. Kita harus mencoba gaya baru, Sayang,” goda Kenrick pda Evelyn. Melihat pipi Evelyn yang bersemu merah Kenrick benar-benar menikmatinya.
"Kenrick! Kau terlihat semakin nakal!” kesal Evelyn yang kini sudah mengalihkan tatapannya ke arah lain karena tak ingin Kenrick terus melihatnya yang tengah bersemu.
“Aku hanya bercanda. Tapi jika kau menganggap nya serius juga tak apa,” lanjut Kenrick yang langsung mendapatkan pukulan dari Evelyn.
“Aku membenci mu,” kesal Evelyn yang malah membuat Kenrick tertawa karenanya.
“Aku juga mencintaimu,” ucap Kenrick yang membuat Evelyn berdecak mendengar jawaban Kenrick, namun tak urung akhirnya ia juga tersenyum karenanya.
Akhirnya kini Evelyn sudah sah menjadi istri Kenrick di mata hukum juga agama. Setelah begitu banyak rintangan. Kini Evelyn bahagia bisa menjadi ratu untuk Kenrick. Tak ada penghancur dan tak ada lagi hal buruk yang terjadi. Itu lah yang akan terus mereka lapal kan sebagai mantra untuk mereka.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Maaf ya cuma bisa up 1 bab untuk hari ini. Karena aku lagi kurang sehat jadi belum bisa untuk nulis.
Kalian jaga kesehatan ya.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.