
Suara dering dari ponsel Evelyn membuatnya segera mengambil ponsel yang telinga berdering itu. Hingga dapat ia lihat nama Kenrick terpampang di sana. Evelyn memilih mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya untuk mencari taksi. Namun tangannya lebih dulu ditahan oleh Karel.
"Karel, ada apa? Apa kau tak menyukai ucapanku tadi?” tanya Evelyn yang tak ingin mencari masalah. Ia hanya tak ingin untuk membuat keributan. Takut jika kata-katanya malah melukai Kerel hingga membuat laki-laki tersebut marah.
“Tidak, aku hanya ingin meminta maaf,” ucap Karel tulus. Kesalahannya memang begitu benar pada Evelyn bahkan mungkin wanita tersebut tidak akan memaafkannya namun tak ada salahnya mencoba bukan?
Evelyn menghela napas sambil mengangguk. Evelyn hanya tak ingin menyimpan dendam pada orang lain.
"Tak masalah aku sudah memaafkanmu. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah bahagia dengan pilihan kita,” ucap Evelyn dengan senyuman nya yang terlihat begitu manis. Ia thu Karel telah menyesali perbuatannya dan ia sudah menerima semua dan memaafkan laki-laki tersebut. Namun untuk kembali rasanya Evelyn tak akan bisa.
“Apa kau benar-benar akan menikah dengan Mr. Osvaldo?” tanya Karel dengan tatapan penasarannya. Ia jelas tau siapa laki-laki tersebut. Laki-laki yang memiliki pengaruh besar dalam bidang bisnis. Hanya saja ia masih tak menyangka jika Evelyn bisa mengenalnya.
"Hm. Mungkin iya. Kita lihat saja nanti,” ucap Evelyn yang terdengar ragu. Bahkan ia juga tak tahu bagaimana hubungannya nantinya. Walau kini ia dengan tegas mengatakan tak akan kembali pada Kenrick namun siapa yang tahu nanti? Karle yang mendengar ucapan Evelyn terlihat mengerutkan keningnya.
“Mungkin? Apa kau ragu untuk menikah dengannya?” tanya Karel bingung.
"Ada sedikit masalah antara kami,” jelas Evelyn yang kini semakin membuat Karel penasaran mendengarnya.
“Apa dia menyakitimu?” tanya Karel khawatir, walau ia pernah melakukannya namun entah mengapa Karel tak ingin jika Hazel kembali di sakiti.
"Aku rasa itu bukan urusanmu Karel! Lagi pula kau juga pernah menyakitiku. Dan kini kita sudah tidak memiliki hubungan lagi,” kesal Evelyn yang sudah tak ingin membahasnya lebih jauh dan memberi tahu masalahnya pada orang lain.
“Evelyn Aku mengatakan ini karena aku peduli padamu. Jika dia menyakitimu kembalilah padaku,” mohon Karel yang kini sudah memegang kedua tangan Evelyn namun dengan segera Evelyn menghempaskan tangan tersebut.
"Masalah dalam sebuah hubungan bukankah sering terjadi?” tegas Evelyn. Ia hanya tak ingin menambah masalah dan tak ingin ada orang lain yang ikut campur dengan masalahnya.
“Begitu pun dengan kita. Apa kau tak bisa kembali padaku? Aku sangat mencintaimu Evelyn.” Karel masih saja tak menyerah. Penyesalannya begitu besar, bukan hanya menyesal karena menyakiti Evelyn namun juga menyesal karena kehilangan Evelyn. Ia begitu mencintai Evelyn namun kini wanita tersebut nyawanya sudah memiliki laki-laki lain.
"Maaf Karel tapi aku sudah tidak mencintaimu,” ucap Evelyn tegas. Karel mengusap wajahnya gusar menatap Evelyn penuh penyesalan.
“Aku tahu kau masih mencintaiku dan tidak mencintainya,” ucap Karel yang terdengar begitu percaya diri.
Mendengar ucapan Karel, Evelyn tertawa sumbang lalu menatapnya sambil menggeleng.
"Itu semua hanya keinginanmu Kenrick. Aku sangat mencintainya. Jika aku tak mencintainya bagaimana aku bisa mengandung anaknya?” sarkas Evelyn yang berhasil memukul telak lawan bicaranya tersebut.
“Katakan itu adalah sebuah kesalahan, aku siap menerima anak itu,” ucap Karel yang masih saja tak menyerah. Evelyn jadi berpikir benarkah Karel mencintainya atau semua hanya obsesi semata? Sean juga mencintainya namun ia malah merelakannya bahagia.
"Cukup Karel. Kita sudah berakhir!” Evelyn merasa lelah jika terus berdebat dengan laki-laki tersebut yang mungkin tak akan ada habisnya.
Karel berjalan mendekati Evelyn lalu memeluk wanita itu dengan erat hingga membuat Evelyn sebisa mungkin berusaha melepaskan pelukan mereka.
“Tapi aku mencintaimu Evelyn,” ucap Karel yang masih tak melepaskan pelukan Evelyn dan terus mengeratkan pelukan mereka.
Setelah Karel mengatakan hal tersebut. Tiba-tiba pelukan mereka terlepas, tubuhnya tersungkur ke tanah karena seseorang memukulnya dengan kuat.
"Sean?” Evelyn menoleh ke arah Sean yang terlihat begitu marah. Laki-laki itu langsung membawanya pergi dari sana tanpa menghiraukan Karel.
“Evelyn aku mencintaimu kembalilah padaku,” teriak Karel yang masih saja tak menyerah.
Paul langsung membawa Evelyn masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya saat dirasa Evelyn sudah aman.
“Bagaimana kau bisa berada disini Sean?” tanya Evelyn, yang cukup terkejut dengan kehadiran Sean. Padahal beberapa hari ini Sean mulai jarang datang.
Mendengar ucapan Sean, Evelyn langsung melihat ke arah Sean dengan wajah terkejut yang tidak dapat disembunyikan. Apa ini alasan Kenick tadi menghubunginya?
“Kenrick datang ke rumah Cody dan pelayan di sana mengatakan jika kalian ke club. Kau tahu Kenrick sangat marah. Hingga aku harus menahannya agar tidak menghampirimu,” ucap Sean menjelaskan. Evelyn menoleh sejenak ke arah Sean yang hanya fokus menatap jalanan dengan wajah datar serta tajamnya.
“Cih. Apa hak laki-laki itu marah padaku?” sinis Evelyn sambil mengalihkan tatapannya ke luar jendela.
“Tentu saja karena dia mengkhawatirkanmu Evelyn,” ungkap Sean dengan kekesalannya. Evelyn dapat mendengar nada kesal dari Sean.
“Aku tidak memerlukannya. Lagi pula mengapa dia masih memperdulikan ku?” tanya Evelyn datar. Ia masih saja kesal pada Kenrick dan belum bisa untuk menerima maaf dari laki-laki tersebut.
“Aku tahu kau sangat kecewa padanya, tapi dia sangat mencintaimu. Meskipun aku mencintaimu. Tapi aku tahu cinta Charles untukmu jauh lebih besar dari rasa cintaku.” Sean menoleh sejenak ke arah Evelyn yang ternyata kini tengah melihatnya.
Evelyn jelas tahu ucapan tersebut hanya pembelaan untuk Kenrick. Bahan Evelyn tahu jika Sean begitu mencintainya. Kalau kata orang another level mencintai seseorang itu mungkin ada di Sean. Merelakan dia bahagia bersama orang lain meskipun kita yang terluka.
“Dan mengenai kau pergi ke club aku juga marah padamu,” ungkap Sean yang membuat Evelyn mengerti mengapa kini Sean berbicara begitu datar dan kesal padanya.
“Mengapa kau juga marah padaku? Apa sekarang kau mendukungnya?” tanya Evelyn yang malah ikutan kesal pada Sean.
“Aku tetap di pihakmu. Hanya saja apa kau tak memikirkan anakmu saat kau memasuki tempat itu?” tanya Sean tajam. Ia hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada Evelyn dan juga calon bos kecilnya itu.
“Aku memikirkannya. Maafkan aku,” ucap Evelyn sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah juga pada calon anaknya tersebut.
“Jika Kenrick tahu kau hamil dan pergi ke club. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan pada sahabatmu,” uca Sean tajam. Mendengar ucapan Sean, Evelyn jadi ikut takut jika Kenrick bisa saja melukai sahabatnya.
“Kenrick tak berniat menyakitimu,” ucap Sean tiba-tiba yang sontak membuat Evelyn menoleh.
“Kau melihat semuanya bukan. Kau pikir itu tak menyakitiku?” tanya Evelyn sinis.
Sean terlihat menghela napasnya lalu memberhentikan mobil di pinggir jalan serta menatap Evelyn dengan dalam.
“Razita meninggal,”
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.
Gak yangka ya kita udah sampai di penghujung tahun. Makasih semua yang udah nemenin aku selama ini.
Doa terbaik untuk tahun yang akan datang. Dan terima kasih 2022 yang sudah membawa luka ataupun bahagia.