
“Sialan beraninya kau menyentuh calon istriku!” amarah Kenrick kian memuncak saat melihat apa yang telah dilakukan oleh mantan kekasih istrinya itu pada Evelyn. Bahkan kini dengan gelap mata Kenrick mulai memberikan bogeman mentah pada Karel yang juga melawan, namun tenaganya jelas kalah jika dibandingkan dengan Kenrick yang memang selalu berlatih bela diri juga menggunakan senjata.
Kedua orang tua Karel kini tak kalah terkejutnya melihat apa yang anak nya itu lakukan. Ibu Karel yang masih belum tersadar dari keterkejutannya kini hanya bisa untuk membekap mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Sedangkan Joe kini hanya diam saja karena merasa anaknya pantas mendapatkan hal tersebut. Perusahaan dan bisnis nya seolah lebih penting dari anaknya itu.
Evelyn membekap mulutnya tak percaya melihat adegan di depannya. Kenrick tengah menghajar Karel membabi buta. Laki-laki itu tak memberi celah bagi Karel untuk menghindar ataupun membalasnya. Evelyn melihat ke arah Steve juga orang tua Karel namun mereka hanya diam saja seolah mendukung Karel.
Evelyn segera mendekati Kenrick dan memeluknya dari belakang. Ia tahu Kenrick bisa membunuh siapa saja, namun tidak di depan matanya. Ia tak ingin melihat Kenrick membunuh siapapun di depannya.
"Sayang, sudah kau bisa membunuhnya,” ucap Evelyn dengan memohon pada Kenrick agar menghentikan aksinya itu. Namun bukannya menghentikan aksinya Kenrick malah melepas pelukan Evelyn dan tetap memukuli Karel.
“Kenapa kau hanya diam saja? Anakmu tengah di hajar seperti itu,” marah Marry yang kini mulai tersadar dan mulai mengguncang tangan suaminya itu agar bertindak. Melihat anaknya yang dipukul dan akan kehilangan kesadarannya membuatnya tak tega. Air matanya perlahan mulai mengalir membasahi pipi putih wanita paruh baya tersebut. Namun suaminya itu malah bergeming di tempatnya, seolah tak berminat untuk membantu anaknya.
“Itu yang aku mau, berani sekali kau menyentuh milikku,” marah Kenrick yang sudah tak terkendali lagi. Evelyn berusaha untuk memisahkan mereka karena kini tak ada yang membantunya jadi ia harus berusaha sendiri untuk memisahkan Kenrick.
“Aku mohon Kenrick, aku tak ingin anak kita melihat ayah nya seperti ini,” ucap Evelyn sambil memegangi tangan Kenrick yang sudah siap untuk memberikan sebuah bogem mentah untuk Karel kembali. Mendengar ucapan Evelyn, Kenrick akhirnya menurunkan tangannya lalu segera bangkit dari atas tubuh Karel dengan nafasnya yang sudah tak beraturan. Sebuah apapun singa jika sudah menyangkut anaknya bukankah akan tetap luluh? Begitu juga dengan Kenrick.
Namun baru saja Kenrick berusaha untuk mengontrol dirinya, ucapan Karel berhasil memancing emosinya kembali.
“Sebelumnya dia adalah milikku. Kau yang mengambilnya dariku,” ucap Karel dengan sedikit kesadaran yang masih dimilikinya. Baru saja Kenrick akan menyerangnya lagi namun Evelyn segera menahan tangan suaminya itu.
"Karel hentikan. Kau hanya akan memperburuk keadaan. Kau yang sudah membuangku, dan Kenrick hanya memungut juga menghiasku semakin baik. Apa pantas kau mengatakan hal seperti itu?” marah Evelyn yang setelahnya langsung membawa Kenrick pergi dari sana. Sedangkan Karel kini mengepalkan tangannya dan menatap nanar ke arah Evelyn.
“Aku akan membuat perhitungan atas kejadian ini,” tegas Kenrick saat sampai di samping Joe yang kini terkejut mendengar ucapan Kenrick. Ia tahu perusahaannya akan terkena imbas dari masalah ini.
“Tuan, kita bisa membicarakannya baik-baik Tuan,” mohon Joe sambil mengejar Kenrick untuk meminta maaf tanpa mempedulikan anaknya yang kini kesakitan.
Marry yang melihat hal tersebut segera menarik suaminya itu. Ia begitu marah akan sikap suaminya itu yang lebih mementingkan perusahaan daripada anaknya sendiri.
“Sial apa lagi? Semua ini karena kalian berdua. Tidak bisakah kalian hanya diam dan menjamu mereka tanpa menyinggung mereka?” marah Joe sambil menghempaskan tangan istrinya yang kini terkejut mendengar bentakan dari suaminya itu yang terlihat jelas dengan amarahnya.
Joe mengusap wajahnya gusar. Perusahannya bisa berada di ambang jurang karena tingkah istri juga anaknya itu.
“Jika perusahaan kita bangkrut, apa kalian mau hidup miskin? Baru sehari kau menjadi direktur tapi kau sudah membuat keluarga kita jatuh miskin,” marah Joe yang setelahnya langsung pergi dari sana untuk mengendalikan tamu di luar.
“Apa yang kau lakukan Nak? Kau membuat keadaan kita menjadi sulit. Bahkan kau kini terlihat begitu mengkhawatirkan,” ucap Marry dengan air matanya yang mulai mengalir deras.
Marry segera membantu anaknya itu berdiri dengan susah payah lalu berniat membawa anaknya untuk ke rumah sakit lewat pintu belakang. Meskipun marah dengan tingkah anaknya yang hampir saja melecehkan Evelyn namun hati nurani nya sebagai seorang ibu masih bekerja. Ia masih mengkhawatirkan anaknya itu.
***
Setelah pulang dari pesta Karel, Kenrick terus mendiamkan Evelyn, membuat Evelyn kesal sendiri melihatnya. Sepertinya kali ini laki-laki itu marah padanya. Evelyn berjalan ke arah dapur untuk membuatkan harles susu hangat. Saat Evelyn masuk ke kamar terlihat Kenrick yang tengah sibuk dengan laptopnya di atas ranjang.
“Kenrick aku membuatkan susu hangat untukmu.” Evelyn berjalan ke arah laki-laki tersebut yang tidak sekalipun mengalihkan tatapannya pada istrinya itu yang membuat Evelyn kini menghembuskan nafasnya kasar melihat respon Kenrick padanya.
Dengan helaan nafas kasarnya kini Evelyn berjalan ke arah Kenrick dan meletakkan susu hangatnya di atas akas namun lagi-lagi Kenrick mengabaikannya.
“Kau marah padaku?” tanya Evelyn dengan tatapan sendunya pada Kenrick.
Evelyn kini duduk di samping Kenrick tapi laki-laki itu malah menghindar dan duduk menjauh dari Evelyn membuat Evelyn mengerucutkan bibirnya kesal.
“Siapa yang salah siapa yang menerima akibatnya.” gumam Evelyn dengan kekesalannya.
Evelyn berjalan ke arah Kenrick menyingkirkan laptop yang berada di pangkuan laki-laki tersebut dan menggantikannya yang kini duduk dipangkuan Kenrick. Kenrick yang melihatnya hanya menghembuskan nafasnya kasar.
“Kau marah padaku?” tanya Evelyn dengan wajah kesalnya pada Kenrick.
“Aku hanya kesal,” jawab Kenrick dengan begitu datar pada Evelyn yang kini menghela nafasnya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Mengapa kau malah kesal denganku? Semua itu karena Karel,” kesal Evelyn apa adanya. Ia tak habis pikir pada Kenrick yang menyalahkannya padahal jelas jika semua ini adalah ulah dari Karel yang sengaja menjebak mereka.
“Lalu mengapa kau menghentikanku untuk membunuhnya?” tanya Kenrick begitu tajamnya. Sepertinya menjelaskan pada Kenrick memang harus dengan lembut agar tak membuatnya salah paham.
“Kau pikir aku mau memiliki suami pembunuh? Kalaupun kamu pernah melakukannya, tolong berhenti untukku! Dan sudah aku katakan aku tak mau anakku melihat sisi gelapmu,” jelas Evelyn apa adanya sesuai dengan apa yang kini ia pikirkan. Evelyn menghentikan tangannya yang mengelus wajah Kenrick yang kini menatapnya dengan tatapan sinis. Kenrick menghela napasnya kasar berusaha untuk menghilangkan rasa kesalnya.
“Maafkan aku,” ucap Kenrick akhirnya. Merasa bersalah karena telah mendiamkan istrinya itu.
“Kau harus meminta maaf pada Karel,” ucap Evelyn. Dan berusaha untuk mengatasi kekacauan ini. Ia juga berusaha untuk menyelamatkan perusahaan keluarga Karel karena bagaimanapun keluarga laki-laki itu tak bersalah.
“Tidak akan. Anggap saja itu sebagai hukuman berani menyentuh wanitaku,” teas Kenrick yang seolah tak ingin dibantah. Ia memang harus memberikan pelajaran yang setimpal pada Karel setelah apa yang laki-laki itu lakukan pada wanitanya.
“Kau memang sangat keras kepala. Lagipula aku sudah mengatakan tidak perlu datang tapi kau malah memaksa. Setelah kekacauan seperti ini tidak perlu menyalahkan keluarga Karel dan membuatnya bangkrut,” tegas Evelyn tak mau mengalah.
“Dia sangat terobsesi padamu bahkan disaat tau kau adalah milikku. Tak salah jika aku juga menghancurkan keluarganya agar dia tahu apa akibatnya jika bermain-main dengan ku,” tegas Kenrick yang membuat Evelyn kini menatap datar pada Kenrick.
“Aku mohon, jangan melibatkan keluarga Karel,” ucap Evelyn dengan tatapan memohonnya pada Kenrick.
“Aku akan memikirkannya,” ucap Kenrick yang akhirnya memilih mengalah.
Evelyn membalasnya dengan anggukan lalu memeluk Kenrick dengan erat. Melingkarkan tangannya di leher Kenrick.
“Apa yang membuatmu berpikir ingin membunuhnya?” tanya Evelyn tiba-tiba. Saat keadaan mereka mulai tenang.
“Kau masih bertanya? Jika saja aku tak datang tadi dia pasti sudah menciummu,” kesal Kenrick kala mengongat kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya begitu marah itu.
“Tapi kau datang dan menghajarnya bukan?” tanya Evelyn menantang.
Kenrick terlihat mengeraskan wajahnya mengingat kejadian tersebut. Ia masih saja sangat tidak terima laki-laki itu menyentuh wanitanya.
“Sudah aku katakan jika terjadi sesuatu harusnya kau meneleponku,” ucap Kenrick tegas mengingat pesannya yang tidak Evelyn laksanakan.
“Bagaimana aku bisa menggunakan ponsel saat Karel berada di sana menahan ku,” jelas Evelyn kesal.
“Sudahlah lebih baik sekarang kita istirahat. Ini sudah malam. Mengingatnya hanya akan membuat ku kesal dan membalas nya dengan menghancurkan laki-laki itu juga keluarganya,” kesal Kenrick yang setelahnya langsung menggendong Evelyn untuk ia bawa ke ranjang mereka. Evelyn melingkarkan tangannya pada Kenrick dengan senyumannya yang mengembang saat melihat wajah tampan suaminya itu.
***