
“Kau bercanda?” tanya Kenrick dengan begitu sinisnya. Tatapan kini terlihat begitu kosong. Ia berharap jika apa yang dikatakan oleh Ronald hanya sebuah alibi saja.
“Apa aku bisa membuat hal seperti sebagai candaan Kenrick?” tanya Ronald dengan tatapan yang begitu dalam pada Kenrick.
Laki-laki tersebut menepuk pundak Kenrick namun Kenrick dengan kasa menepis tangan laki-laki di depannya itu. Ronald menghembuskan nafasnya kasar. Ia mengerti, pasti Kenrick masih terkejut dengan fakta yang baru saja laki-laki itu terima.
“Jangan membuat alibi untuk menutupi perbuatan mu Ronald,” marah Kenrick. Ia masih saja berharap jika semua ini ia hanya alibi Ronald semata.
Namun jika apa yang Kenrick katakan adalah benar maka semua adalah salahnya yang sudah lalai menjaga kakaknya. Dirinya yang salah karena tak bisa menjaga kakaknya itu dengan baik. Maka biarkan ia berharap jika semua hanya alibi Ronald semata.
“Aku memiliki bukti atas apa yang aku katakan Kenrick. Aku tak pernah menyentuh kakak mu, aku selalu menjaga nya dengan baik karena aku memiliki prinsip untuk tidak merusak seseorang yang aku cintai,” jelas Ronald dengan helaan nafasnya yang terdengar kasar, laki-laki tersebut kini mulai terduduk di lantai begitu juga dengan Kenrick. Para pelayan yang merasa jika mereka membutuhkan privasi segera pergi sedari tadi saat Evelyn juga keluar dari ruang makan itu. Jika Nyonya rumah mereka saja pergi, maka mereka juga tak pantas berada di sana.
“Apa aku sudah gagal menjaga kakak ku?” tanya Kenrick dengan tatapan kosong nya menatap ke arah depan. Ronald menghembuskan nafasnya kasar lalu mengelus punggung Kenrick. Seolah memberikan kekuatan untuk Kenrick.
“Tak hanya kau Kenrick. Aku juga merasa gagal menjaga nya. Aku sudah menerima anak itu dan berencana untuk menikahi kakak mu, tapi kakak mu menolak ku. Dan saat pagi aku terbangun, aku sudah mendengar berita kakakmu tewas karena bunuh diri. Kau tahu aku begitu hancur saat mengetahui hal itu,” jelas Ronald yang tanpa sadar kini sudah meneteskan air matanya.
“Moreta adalah cinta pertama ku, dan bahkan sampai sekarang aku belum bisa melupakan nya. Sudah lima tahun berlalu namun semua masih sama,” ucap Ronald dengan tatapan sendunya.
Kenrick melihat ke arah Ronald menatap penuh selidik pada laki-laki tersebut namun ia sama sekali tidak menemukan kebohongan di sana. Ia malah ketulusan yang begitu besar pada laki-laki tersebut.
“Siapa pelaku nya?” tanya Kenrick dengan amarahnya yang sudah memuncak.
Jelas ia tak akan diam saja saat mengetahui semua fakta yang selama ini tertutup oleh kebohongan. Apa yang ia percaya selama ini ternyata adalah sebuah alibi untuk menutupi kejahatan yang sebenarnya terjadi. Mengapa selama ini ia begitu bodoh tak mengetahui semua ini.
“Adik kandung Ben,” ucap Ronald yang langsung membuat Kenrick menoleh ke arah Ronald dengan tatapan terkejutnya.
Padahal selama ini ia tahu jika Ronald berkomplot dengan Ben. Mafia yang selama ini selalu menjadi lawannya. Tangan laki-laki tersebut mengepal dengan begitu erat nya.
Ronald mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu segera memberikannya pada Kenrick. Ponselnya kini sudah menampilkan bagaimana kelakuan bejat adik dari musuh bebuyutannya itu. Tangan Kenrick sudah mengepal begitu kuat. Akan ia pastikan mereka mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah mereka lakukan pada kakaknya.
“Kau bisa saja mengedit nya, bukankah kau berkomplot dengan nya,” sinis Kenrick lalu memberikan ponsel di tangannya pada Ronald kembali.
Ia tahu pasti pasti akan sulit untuk Kenrick mempercayainya, namun ia kan tetap meyakinkan Kenrick. Karena ia tak ingin ada lagi perselisihan di antara mereka.
“Aku tahu kau pasti tak akan mudah percaya pada ku, jadi aku menyiapkan bukti lain,” ucap Ronald yang setelahnya menyerahkan rekaman telepon antara dirinya juga kakak Kenrick yang menangis dan menceritakan apa yang terjadi pada wanita yang dicintainya itu.
Kenrick yang mendengar suara kakaknya yang terdengar begitu lemah dengan tangisnya yang begitu pilu benar-benar sudah dilingkupi oleh amarah yang begitu besar.
“Kau tahu selama ini aku melakukan semua ini karena aku tengah menyelidiki semua ini Kenrick. Maaf sudah mengorbankan mu, Evelyn, juga keluarga kita demi kepentingan ku sendiri,” ucap Ronald menjelaskan sambil menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang pernah diperbuat.
“Kau tahu saat aku membawa Evelyn untuk pergi? Karena saat itu Ben sebenarnya akan menyerang mu, namun setelah aku meyakinkannya untuk tidak menyerang mu lebih dulu dia akhirnya setuju. Dan saat pernikahanmu, aku benar-benar tak bisa lagi untuk menahannya agar tidak menyerang mu. Maaf kan aku,” ucap Ronald penuh rasa penyesalan yang begitu dalam.
Sedangkan Kenrick kini terdiam mendengar ucapan dari Ronald. Ia tak pernah tahu jika selama ini Ronald bekerja sendiri untuk menyelidiki kematian kakaknya dan menangkap pelakunya.
“Aku tahu, maafkan aku,” ucap Ronald penuh dengan penyesalan.
“Aku pasti akan membalaskan semua nya,” tega Kenrick dengan wajah nya yang sudah mengeras dan tatapannya yang kini terlihat begitu tajam.
“Jangan gegabah Kenrick. Aku akan selalu membantu mu untuk itu,” ucap Ronald yang Kenrick balas dengan anggukan.
“Jika terjadi hal seperti ini, bicarakan dulu pada ku. Keluarga ini adalah milik ku,” ucap Kenrick tajam yang membuat Ronald mendengus kasar dan menganggukkan kepalanya.
“Aku tahu, maaf,” ucap Ronald.
Kenrick memeluk Ronald ala laki-laki yang dibalas dengan pelukan juga oleh Ronald. Kenrick tak tahu apa ia sudah benar dengan mempercayai Ronald? Namun semua bukti yang diberikan oleh Ronald menunjukkan kebenarannya.
Untuk kali ini ia akan mempercayai laki-laki yang dulu pernah menjadi sahabatnya itu. Setidaknya ia harus memberikan kesempatan untuk Ronald memperbaiki semua. Dan tentang keluarga Ben. Jelas ia akan membuat perhitungan untuk mereka yang sudah mengganggu keluarganya.
“Tentang kau yang mencium Evelyn di cafe, apa itu juga rencana nya?” tanya Kenrick penasaran setelah ia melepaskan pelukan mereka.
“Tidak. Saat itu aku sengaja untuk membuat mu cemburu,” ucap Ronald yang sontak membuat Kenrick memelototkan matanya mendengar pertanyaan Ronald.
“Sialan kau,” marah Kenrick yang setelahnya langsung memukul laki-laki di depannya itu hingga tersungkur di lantai.
Evelyn dan Sean yang baru datang sontak memelototkan matanya melihat apa yang terjadi. Mereka datang karena Sean yang sedari tadi tak ada hentikan khawatir pada Kenick dan takut terjadi sesuatu di dalam.
“Sudah aku katakan kan,” ucap Sean yang setelahnya langsung menghampiri Kenrick.
Sedangkan Evelyn kini masih berdiri di posisinya karena tak bisa berjongkok untuk membantu Ronald ataupun Kenrick bangun. Perutnya yang membesar memang menyusahkannya saat bergerak.
“Kalian memang tak bisa akur, tak bisakah kalian berbaikan saja? Kalian membuat ku pusing,” ucap Evelyn yang kini mengeluh pada Kenrick juga Ronald.
“Kami sudah berbaikan,” ucap Kenrick dan Ronald kompak.
Evelyn juga Sean bahkan sampai di buat bengon juga kaget mendengar ucapan yang penuh semangat itu.
“Aku tak salah dengar?” tanya Evelyn pada Sean yang kini sudah berdiri di sampingnya. Saat mendengar Kenrick mengatakan hal tersebut Sean segera bangun saking terkejutnya.
“Sepertinya kita salah ruangan Nyonya,” ucap Sean yang setelahnya segera mengajak Evelyn untuk pergi.
Padahal tadi Evelyn sendiri yang meminta mereka untuk berbaikan. Setelah mereka berbaikan wanita itu malah pergi dengan Sean.
“Sean, kembali kau sialan,” marah Kenrick pada Sean yang sudah membawa istrinya itu menjauh.
***