
“Kenrick,” suara yang begitu lembut itu mengganggu lamunan Kenrick yang kini tengah berada di kamarnya sambil meneguk minuman beralkohol miliknya.
Sedari tadi pikiran Kenrick terus tertuju pada ucapan Ronald yang kini terus berputar di kepalanya. Tentang kakaknya yang ternyata dihancurkan oleh musuhnya sendiri. Ia merasa benar-benar gagal untuk menjaga keluarganya sendiri. Perkatakan Evelyn yang pernah memintanya untuk keluar dari dunia gelap ini.
Memiliki kekuasaan tak membuatnya bisa untuk selalu menjaga keluarganya sendiri. Meskipun ia kini sudah keluar dari dunia gelap itu tapi terkadang ia masih terlibat dalam dunia gelap ini. Benar-benar keluar begitu sulit untuknya.
Namun setelah apa yang kini di dengarnya dari Ronald membuat nya menjadi begitu memikirkan untuk menyerahkan dunia gelapnya itu pada orang terdekat nya. Disisi lain ia masih memikirkan tentang ayahnya yang sudah membangun semuanya dari bawah.
Rasanya kini Kenrick tengah berada dalam kondisi berada di tengah-tengah.
“Kenrick. Apa yang kau pikirkan?” tanya Evelyn sambil menepuk pundak Kenrick karena laki-laki itu tak menghiraukannya.
Setelah menatapnya Kenrick malah kembali melamun yang membuat Evelyn jadi bingung dengan apa yang sebenarnya dialami oleh suaminya itu. Sedari kepergian Ronald, Kenrick menurut Evelyn begitu berbeda. Laki-laki itu terus saja melamun membuat Evelyn begitu penasaran sebenarnya apa yang Ronald katakan hingga mempengaruhi Kenrick sampai seperti itu.
“Duduk lah,” ucap Kenrick sambil menepuk pangkuannya.
Evelyn langsung menuruti perintah Kenrick dan kini ia duduk di pangkuan Kenrick. Tangannya merangkul leher Kenrick dan terus menatap Kenrick dengan tatapan penuh tanya pada suaminya itu.
“Apa yang mengganggu pikiranmu Kenrick? Apa Ronald mengatakan hal yang buruk pada mu?” tanya Evelyn ambil menatap penasaran ke arah Kenrick.
Tatapannya begitu dalam, menatap lembut pada Kenrick. Bukannya menjawab kini Kenrick malah memeluk Evelyn dengan begitu erat nya. Evelyn kini semakin di buat penasaran tentang apa yang sebenarnya dikatakan oleh Ronald.
“Biarkan seperti ini lebih dulu,” ucap Kenrick yang kini memejamkan matanya menikmati kebersamaannya dengan istrinya itu, juga berusaha menenangkan pikirannya dengan pelukan yang begitu nyaman.
Setelah merasa sedikit tenang akhirnya Kenrick melepaskan pelukannya namun Evelyn kini tetap merangkul kan tangannya di leher Kenrick menatap suaminya itu dengan tatapan dalam nya.
"Sudah mau untuk bercerita?" Tanya Evelyn setelah merasa jika Kenrick sudah sedikit tenang.
Kenrick menghembuskan nafasnya kasar sebelum memulai ceritanya, tentang apa yang baru saja ia ketahui dari Ronald tentang kakaknya.
"Kakak ku bukan bunuh diri karena Ronald, tapi karena musuh ku," ucap Kenrick sambil menundukkan wajahnya.
Evelyn yang mendengar ucapan Kenrick tentu saja di buat terkejut. Namun sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya. Lalu menangkup wajah Kenrick membuat laki-laki tersebut kini menatap Evelyn dengan tatapan sendunya.
"Kau sudah mengetahui pelakunya? Dan menemukan buktinya?” tanya Evelyn dengan begitu lembutnya pada Kenrick yang dijawab dengan anggukan oleh laki-laki tersebut.
“Ronald yang mendapatkannya,” ucap Kenrick yang membuat Evelyn menjawabnya dengan anggukan.
“Kau tahu bukan sekarang, jika Ronald adalah orang yang baik?” tanya Evelyn yang lagu-lagi Kenrick balas dengan anggukan.
Rasanya kini ia bagaikan tak memiliki tenaga untuk membuka suaranya. Semua fakta yang baru saja ia terima juga kemungkinan terburuk di masa depan membuat Kenrick begitu takut. Semua energi nya seperti diserap akan fakta.
“Tetap saja dia melakukan semuanya tanpa memberi tahu ku lebih dulu. Mengancam keamanan keluarga sendiri dan membocorkan kelemahan keluarga sendiri,” ucap Kenick dengan tatapan kesal nya yang begitu jelas terlihat.
“Sudah lah lupakan Ronald, lalu apa yang akan kau lakukan setelah apa yang mereka lakukan?” tanya Evelyn sambil mengelus rahang kokoh Kenrick yang kini sudah mengeras.
“Membuat mereka mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan,” ucap Kenrick dengan sorot matanya yang kini sudah mengibarkan bendera perang.
Sorot matanya yang mulai menajam dengan banyak kebencian di dalamnya. Evelyn tahu, Kenrick tak akan melepaskan musuh nya begitu saja. Kepada Ronald yang masih sepupu nya saja Kenrick tak sungkan. Apalagi pada musuh nya sendiri.
“Setelah apa yang terjadi pada keluargamu atas dunia gelap mu itu, apa kau masih belum ada niat untuk segera keluar? Kau sudah berjanji pada ku Kenrick,” ucap Evelyn yang kali ini kembali menyinggung masalah yang sama.
Masalah yang sedari tadi terus Kenrick pikirkan dan kini Evelyn kembali untuk mengungkitnya. Sebenarnya Evelyn tahu di saat seperti ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya hanya saja jika terus di diamkan Kenrick akan terus melakukannya di belakang Evelyn.
“Kau tahu aku sudah keluar,” ucap Kenrick dengan helaan nafas kasarnya. Keadaannya kini begitu sensitif dan Evelyn mengganggunya dengan pertanyaan yang membuatnya bingung.
“Dan aku tahu jika di belakangku terkadang kau masih suka ikut di dalam nya. Untuk saat ini semua kembali pada mu Kenrick, namun aku harap kau memikirkan nya dengan baik,” ucap Evelyn yang kini memilih untuk turun dari pangkuan Kenrick.
Kenrick menghembuskan nafasnya kasar melihat Evelyn yang kini mulai berjalan menjauh dari Kenrick untuk memasuki kamarnya.
Kenrick akhirnya mengikuti istrinya itu yang ternyata kini sudah berbaring di ranjangnya dengan posisi membelakangi Kenrick. Kenrick berjalan ke arah istrinya dan kini ia ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu dan memeluk Evelyn dari belakang.
“Aku sudah memikirkannya dan kita aku akan benar-benar keluar dari bisnis gelap ini. Namun mereka akan tetap menjadi bawahan ku sebagai pengawal kita,” ucap Kenrick tegas sambil mengelus perut Evelyn yang kini sudah membesar.
Evelyn yang mendengar ucapan Kenrick sontak membalikkan tubuhnya agar ia bisa melihat ke arah Kenrick dengan jelas. Evelyn menatap Kenrick dengan tatapan penuh tanya yang meminta kepastian akan ucapan laki-laki tersebut yang kini membuat Kenrick menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Evelyn.
“Aku juga akan meminta Sean untuk membalaskan dendamku atas pembunuhan kakak ku, agar aku tak lagi mengotori tangan ku untuk mereka,” ucap Kenrick penuh keyakinan dalam ucapannya.
“Kau mengatakan yang sejujur nya?” tanya Evelyn yang Kenrick balas dengan anggukan.
Mendengar ucapan tersebut Evelyn langsung memeluk suaminya itu yang dibalas dengan pelukan juga oleh Kenrick. Kenrick memejamkan matanya begitu juga dengan Evelyn yang kini memejamkan matanya. Namun tak lama anak yang berada dalam kandungan Evelyn malah menendang membuat mereka kini saling menoleh lalu tertawa bersama.
“Sepertinya ia merasa iri karena kita tak mengajaknya berbicara,” ucap Kenrick dengan tawanya yang membuat Evelyn juga tertawa mendengar ucapan dari suaminya itu.
“Kau ingin diajak berbicara boy? Maka Daddy akan mengajakmu untuk berbicara sekarang,” ucap Kenrick yang kini sudah memposisikan dirinya menghadap ke arah perut Evelyn yang sudah membesar.
“Dari mana kau tahu dia laki-laki?” tanya Evelyn menaikkan sebelah alisnya. Mereka memang belum melakukan USG lagi, baru dua hari lagi mereka akan kembali ke rumah sakit untuk USG.
“Hanya firasat,” ucap Kenrick yang membuat Evelyn terkekeh mendengarnya.
Hingga malam itu mereka habis kan untuk membicarakan anak mereka hingga merasa mengantuk mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
***