
Setelah mengantar Evelyn dan kedua sahabatnya itu kerumah Livi. Sean memilih untuk langsung kembali karena tak ingin Kenrick curiga. Ia tak ingin Kenrick mengetahui tentang Evelyn lebih dulu, sesuai dengan keinginan Evelyn.
Meskipun ia sudah membuat perjanjian dengan Kenrick. Ia tak ingin Kenrick mengetahuinya lebih dulu. Siapa yang tahu jika laki-laki tersebut membohonginya. Dari yang ia lihat, Sean tahu jika Evelyn masih marah dan tak ingin terlibat dengan Kenrick.
“Siapa laki-laki tadi itu? Sangat arogan dan dingin,” tukas Livi sambil bergidik ngeri membayangkan bagaimana Sean dan bagaimana ia yang terus diabaikan oleh laki-laki tersebut yang malah hanya fokus pada Evelyn. Laki-laki yang terus mengabaikannya dan berwajah datar.
"Dia sebenarnya baik hati dan sangat hangat. Dia adalah penyelamatku, Sean bagai dewa Hermes dalam hidupku,” ucap Evelyn dengan senyumannya kala membayangkan laki-laki tersebut. Livi yang melihat Evelyn mengatakannya sambil tersenyum di buat bergidik ngeri.
“Kau terlihat berlebihan. Bagaimana laki-laki yang begitu menyeramkan dengan wajah datar seperti itu kau sebut sebagai Dewa tampan,” ucap Livi sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya setelah ia diabaikan oleh Sean, wanita tersebut memiliki dendam nya sendiri pada Sean. Tak salah Livi adalah wanita cantik yang banyak dikejar laki-laki namun kini Sean malah mengabaikannya. Harga dirinya seolah dilukai.
"Tapi itu adalah fakta. Bukankah dia sangat tampan?” tanya Evelyn dengan senyuman menggodanya pada Livi yang hanya bisa berdecih mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
“Tampan memang, tapi sangat dingin. Siapa yang akan tahan dengan laki-laki seperti itu?” sinis Livi sambil menggelengkan kepalanya kuat, membayangkannya saja jika ia harus hidup dengan laki-laki seperti Sean rasanya tidak.
"Bukankah banyak wanita yang menyukai laki-laki misterius? Lagi pula dia adalah orang yang baik dan perhatian jika kau berhasil meluluhkannya,” ucap Evelyn menjelaskan. Tak salah bukan? Nyatanya jaman sekarang memang banyak wanita yang menyukai laki-laki yang begitu misterius dan cuek.
“Jadi apa Tuan Putri kita bisa meluluhkannya?” tanya Ivey dengan senyuman mengejeknya pada Evelyn yang terlihat begitu percaya diri saat mengatakan jika Sean akan baik saat luluh. Seolah wanita tersebut memang sudah meluluhkannya.
"Tentu saja karena dia menyukaiku. Orang yang aku katakan tadi. Dia salah satu orang baik yang aku temukan di Las Vegas,” ucap Evelyn menyombongkan dirinya jiak ia bisa meluluhkan dua laki-laki menyeramkan seperti Kenrick juga Sean.
“Sepertinya di sana kau kekurangan orang baik,” ucap Ivey dengan kekahannya namun juga merasa iba dengan sahabatnya tersebut karena menghadapi hidup yang susah.
“Tapi dia tahu kau hamil anak Kenrick. Apa dia mau menikahimu?” tanya Livi yang kini malah menanyakan masalah Sean. Apa wanita tersebut memang tertarik pada Sean atau calon ayah dari anaknya nanti?
"Entah dia akan menerima ku dan anak ku atau tidak, tapi aku rasa tidak Dan aku tidak kekurangan orang baik disana. Aku menemukan banyak orang baik. Hanya saja mereka tidak seberani Sean,” ucap Evelyn menjelaskan dengan mengedikkan bahunya.
“Mengapa kau berpikir dia tak menyukaimu? Bukankah kau mengatakan jika dia menyukaimu?” tanya Livi lagi sambil menaikkan sebelah alisnya penasaran.
"Ya memang, tapi dia adalah orang kepercayaan Kenrick. Kau pikir dia berani melakukan itu?” tanya Evelyn menaikkan sebelah alisnya meminta persetujuan pada kedua sahabatnya tersebut. Ivey dan Livi dengan kompak menggeleng mendengarnya lalu menghembuskan napasnya berat.
“Apa dia benar orang kepercayaan Kenrick? Ini terasa gila saat bawahan menyukai calon istri atasanya,” ucap Ivey dengan tatapan tak [percaya nya. Karena menurutnya ini begitu menghebohkan. Seorang bawahan mencintai majikannya. Sungguh hal luar biasa.
"Sudahlah aku ingin istirahat,” ucap Evelyn yang enggan untuk membalasnya dan lebih memilih untuk beristirahat karena ia sudah begitu lelah dan ingin merebahkan tubuhnya.
Evelyn segera naik menuju kamarnya yang telah disiapkan oleh pelayan di rumah Livi.
***
Evelyn kini tengah beristirahat di kamar yang sudah biasa ia gunakan saat menginap di rumah Livi, sambil membaca majalah kehamilan. Ini adalah hari ketujuh Evelyn berada di rumah Livi dan belum memiliki niat untuk kembali ke apartemennya. Suara ketukan pintu dari luar membuatnya segera menutup majalah yang tengah dibaca.
"Livi, ada apa?” tanya Evelyn menaikkan sebelah alisnya bingung saat melihat sahabatnya yang kini berdiri di depan kamarnya itu.
"Akan pergi kemana kita?” tanya Evelyn mengerutkan keningnya bingung.
“Ini adalah malam minggu jadi kita harus bersenang-senang,” ucap Livi dengan begitu bersemangat. Livi mendorong Evelyn menuju meja rias dan mulai merias wajahnya tanpa persetujuan dari Evelyn yang tak sempat lagi untuk menolaknya karena Livi sudah lebih dulu melakukan aksinya.
Setelah selesai dengan kegiatannya itu langsung saja Livi meminta Evelyn menggunakan pakaiannya. Evelyn menghembuskan nafasnya hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut.
"Club?” tanya Evelyn mengerutkan keningnya bingung. Dari pakaian yang Livi berikan padanya bisa Evelyn tebak jika Livi akan membawanya ke club karena baju tersebut yang begitu seksi dan terbuka. Pilihan Livi memang begitu berani.
"Aku tak bisa pergi kau tahu aku sedang hamil,” tolak Evelyn sambil menyerahkan baju tersebut lagi pada Livi.
“Kau tenang saja aku hanya memintamu ke club untuk bersenang-senang. Bukan untuk meminum alkohol,” ucap Livi yang kini kembali menyodorkan dress tersebut pada Evelyn. Ucapan wanita tersebut begitu tegas. Seolah tak ingin untuk menerima penolakan.
"Tapi asap rokok tak akan bagus untuk kehamilanku,” tolak Evelyn yang hanya tak ingin untuk membahayakan anak yang tengah ia kandung. Bagi Evelyn anaknya tentu jauh lebih penting daripada kesenangan semata yang akan Livi tawarkan padanya.
“Aku sudah menyiapkan privat room untuk kita, juga ini, ucap Livi sambil memberikan sebuah masker pada Evelyn. Livi memang paling bisa untuk memaksa orang lain. Mempersiapkan segala nya agar lawannya tersebut tidak dapat untuk menolaknya.
"Kau sungguh memaksaku Livi,” ucap Evelyn sambil menghembuskan nafasnya kasar. Merasa tak bisa lagi untuk menolak permintaan wanita tersebut yang memang selalu bisa untuk memaksanya. Kini ia hanya berdoa jika Sean tak datang dan marah padanya. Bisa-bisa jika Sean tahu, laki-laki tersebut akan langsung memberitahu Kenrick karena ia yang membahayakan kesehatannya juga kandungannya.
Sean selama beberapa hari memang memang kerap datang walau tak sering dan tak lama karena tak ingin membuat Kenrick curiga.
“Sudahlah ayo kita pergi,” ajak Livi setelah Evelyn selesai bersiap. Kini Evelyn sudah terlihat begitu cantik dengan pakaian yang Livi berikan padanya.
“Kau harus bersenang-senang Sayang. Keponakanku ingin Mamanya bahagia,” ucap Livi sambil mengelus perut Evelyn yang masih datar. Evelyn akhirnya hanya bisa menghela napas kasar dan mengikuti Livi. Namun sebelumnya, Evelyn memakai masker untuk menghindari asap rokok saat memasuki club.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.