Mafia's woman

Mafia's woman
Kabur



Saat ini Evelyn tengah berada di taman belakang sambil memberikan makanan pada ikan yang Evelyn pelihara. Kini usia kehamilannya sudah memasuki bulan kesembilan, dokter memprediksi Evelyn akan melahirkan dua minggu lagi.


Evelyn merasa begitu tak sabar untuk menunggu kelahiran anaknya itu. Ia begitu bahagia karena apa yang ditunggu-tunggu sekarang sedikit lagi mereka akan melihatnya secara langsung.


"Kau harus makan yang banyak ikan agar kau cepat tumbuh besar,” ucap Evelyn sambil mengelus perut nya yang sudah begitu membesar.


Berbicara dengan ikan peliharaannya yang ia pelihara dari kecil. Ikan-ikan yang ai dapatkan karena mengidam. Kini ia menganggap ikan tersebut sebagai anaknya juga karena ikan tersebut ada karena permintaan anaknya jadi ia akan merawatnya dengan baik.


“Nyonya, di depan ada Nona Livi,” ucap Jessie yang baru saja datang dari arah depan.


Evelyn yang mendengar ucapan pelayan pribadinya itu segera menoleh ke arah Jessie dengan menaikkan sebelah alisnya dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Evelyn. Senyuman wanita tersebut langsung mengembang saat mendengar jika sahabatnya datang.


" Livi? Suruh dia kemari,” ucap Evelyn yang kini meletakkan makanan ikannya.


Jessie segera membalasnya dengan anggukan lalu segera menuju ruang tamu untuk mencari Livi. Tak lama suara keras yang begitu khas terdengar menggelegar membuatnya menggeleng mendengarnya.


“Evelyn,” teriak Livi yang baru memasuki taman. Tak pernah berubah sikap Livi yang suka sekali berteriak.


Evelyn tersenyum ke arah wanita tersebut, Livi segera menghampirinya lalu memeluk sahabatnya dengan erat yang Evelyn balas dengan pelukan juga.


“Aku merindukanmu,” ucap Livi setelah melepaskan pelukan mereka dan kini menggenggam kedua tangan Evelyn dengan mata Evelyn dengan tatapan penuh rindunya.


"Aku juga merindukanmu. Bagaimana kabarmu?” tanya Evelyn pada sahabatnya itu yang kini membalas senyuman Evelyn.


“Seperti yang kau lihat. Kau sendiri kapan kau melahirkan hm?”  tanya Livi sambil mengelus perut Evelyn yang sudah membesar. Sebenarnya ia begitu ngeri melihat perut Evelyn yang sudah seperti akan meledak itu. Ia juga tak sabar untuk menanti kehadiran keponakannya itu.


Evelyn tersenyum sambil mengelus perutnya, Evelyn rasanya juga tidak sabar untuk menunggu anaknya lahir.


" HPL dua minggu lagi. Aku sungguh tidak sabar menunggunya,” ucap Evelyn dengan senyumannya lebar nya yang menular pada Livi.


Ia tahu Evelyn pasti merasa tak sabar, bahkan ia yang bukan ibu dari anak yang dikandung Evelyn saja merasa tak sabar untuk menunggu kelahiran anak itu. Ia ingin melihat akan seperti apa tampang anak sahabatnya itu mengingat orang tuanya saja merupakan bibit unggulan.


“Aku juga tidak sabar,” ucap Livi menyampaikan apa yang ia rasakan pada sahabatnya itu.


" Kau, mengapa bisa berada di sini? Tidak mungkin hanya karena merindukanku, kan?” tanya Evelyn menyipitkan matanya yang justru kini membuat sahabatnya itu terkekeh mendengar ucapan Evelyn yang memang ada benarnya.


“Perjalanan bisnis. Kau terlalu percaya diri, Nona!” ucap Livi dengan kekehannya yang membuat Evelyn kini malah berdecih mendengar ucapan sahabatnya yang satu itu.


Saat mereka tengah asyik berbincang Jessie datang membawakan minuman serta makanan ringan untuk mereka. Memang semenjak kejadian terakhir kali, Vera yang malah mencelakai Evelyn. Kenrick akhirnya tak mempercayai pelayan lain untuk berada di dekat Evelyn, kecuali Jessie yang sudah menjaganya dari kecil.


“Terima kasih Jessie,” ucap Livi dengan senyuman pada Jessie yang juga ikut tersenyum sembari menjawab ucapan Livi.


“Sama-sama Nona,” ucap Jessie yang setelahnya langsung pergi dari sana. Menjaga Evelyn dari jauh karena tak ingin mengganggu privasi Evelyn. Jessie berpikir jika Nyonya rumahnya itu juga membutuhkan ruang nay sendiri bersama dengan sahabat Evelyn, oleh karena itu ia menjauh dari sana.


"Bagaimana keadaan Ivey?” tanya Evelyn karena memang sudah lama ia tak pernah bertemu dengan sahabatnya itu.


Terakhir kali mereka bertemu adalah saat pernikahan Evelyn dengan Kenrick, setelahnya mereka sudah tak pernah bertemu lagi karena kesibukan satu sama lain yang menghalangi mereka untuk bertemu.


“Baik, dia juga sekarang sudah bekerja di perusahaan besar,” ucap Livi dengan senyumannya yang membuat Evelyn memelototkan matanya mendengar ucapan sahabatnya itu. Tak percaya karena akhirnya sahabatnya itu bisa memiliki pekerjaan yang lebih baik dari yang sebelumnya.


" Aku senang mendengarnya,” ucap Evelyn dengan tulus. Sebenarnya ia juga ingin bekerja, namun Kenrick jelas tak akan membiarkan Evelyn untuk bekerja. Evelyn hanya untuknya dan anak mereka nantinya. Kenrick tak ingin jika Evelyn sampai menghabiskan waktunya untuk bekerja dan melupakan keluarganya.


“Ingin jalan-jalan? Aku ingin membelikan hadiah untuk calon keponakanku ini,” tawat Livi dengan begitu semangatnya. Sudah lama mereka tak jalan bersama dan kini rasanya Livi ingin menebusnya karena kebetulan ia sedang tak ada pekerjaan dan sedang berada di Las Vegas. Kapan lagi memangnya mereka bisa untuk jalan bersama?


"Hm sebenarnya ini ide yang bagus hanya saja Kenrick pasti tidak akan mengizinkan,” ucap Evelyn yang kini mengerucutkan bibirnya mengingat tentang Kenrick yang begitu posesif padanya. Karena memang sudah beberapa hari ini ia tak dibiarkan pergi kemanapun dengan alasan takut melahirkan di jalan.


“Kau benar juga,” ucap Livi hingga kini mereka sama-sama menghembuskan nafasnya gusar.


Livi jelas tahu bagaimana Kenrick. Bahkan saat sedang tak hamil besar saja Kenrick begitu posesif, apalagi saat akan melahirkan seperti ini? Jelas a tak ingin mengorbankan dirinya sebagai tumbal dan memilih jalan aman saja.


"Tapi kita bisa pergi diam-diam,” usul Evelyn dengan senyuman lebar nya yang malah membuat Livi menggelengkan kepalanya dengan begitu tegas, ia jelas tak ingin mati muda dan masih belum menikah. Membawa Evelyn kabur sama saja dengan memasuki liang lahatnya sendiri sebelum malaikat pencabut nyawa mengirimnya ke sana.


“Tidak, itu tidak akan bagus untukku,” tolak Livi, menggelengkan kepalanya dengan begitu tegasnya. Evelyn hanya berdecih mendengarnya. Terkadang ia kesal juga dengan sikap suaminya itu meskipun ia tahu Kenrick melakukan semua itu karena ia mencintai Evelyn. Dan Evelyn merasa beruntung karena Kenrick begitu mencintainya namun disisi lain ia juga kesal jiak Kenrick malah terus saja menjadi posesif begini.


" Ck kau tenang saja serahkan ini padaku,” ucap Evelyn meyakinkan sahabatnya itu agar mau untuk kabur dengannya. Lagi pula mereka kabur juga pada akhirnya akan kembali lagi bukan untuk benar-benar kabur dari Kenrick.


" Itu tidak akan terjadi, ayo pergi,” ajak Evelyn dengan tatapan memohonnya pada Livi sambil menarik-narik tangan Livi untuk merayu sahabatnya itu yang kini hanya bica berdecak mendengar permintaan dari sahabatnya itu.


“Kau yakin Kenrick tak akan membunuh kita?” tanya Livi memastikan. Sepertinya sahabatnya itu memang begitu mudah untuk ia bujuk. Bahkan hanya dengan menampikan wajah memelasnya saja Livi bisa ia pengaruhi.


Evelyn segera menarik tangan Livi untuk segera berdiri. Evelyn memaksanya untuk menuju berjalan menuju kamarnya untuk bersiap dan mengambil tas nya.


“Kau yakin ini akan baik-baik saja bukan?” tanya Livi yang kembali memastikan. Mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu membuat Evelyn berdecak mendengarnya.


" Kau terlalu bawel!” kesal Evelyn yang memutar bola matanya malas mendengar ucapan Livi. Padahal ia sudah meyakinkan sahabatnya itu jika semua akan baik-baik saja.


“Jangan lupakan ancaman Kenrick terakhir kali Evelyn!” ucap Livi yang kini mengingat sahabatnya itu bagaimana terakhir kali Kenrick mengancam nya karena membawa Evelyn jalan-jalan.


Evelyn terkekeh mendengarnya lalu mengelus puncak kepala Livi sambil terkekeh membuat gadis itu menghela nafasnya.


“Serahkan semua padaku,” ucap Evelyn dengan penuh percaya dirinya. Tak bisa lagi menolak Livi akhirnya hanya mengangguk kan kepalanya setuju.


***


Setelah mengambil tas di kamar Evelyn, kedua wanita itu langsung berjalan keluar untuk mencari taksi. Tentu mereka tak akan menggunakan mobil pribadi karena mereka saja keluar dengan sembunyi-sembunyi dan Livi yang memang tidak datang dengan mobil nya.


“Tuhan aku mohon selamatkan aku! Semoga baik-baik saja!” doa Livi sambil menakutkan tangannya. Berharap tuhan mau mengabulkan doa nya padahal ia pun sebelumnya tak pernah berdoa ataupun datang ke gereja untuk ibadah.


Namun kini ia malah berdoa seolah tuhan masih menganggapnya sebagai hambanya. Padahal ia hanya berdoa di saat terdesak seperti ini.


" Aku tak tahu jika kau percaya pada Tuhan,” ucap Evelyn yang memang tak pernah melihat sahabatnya itu beribadah sebelumnya.


“Hanya mencoba peruntungan,” ucap Livi dengan cengiran nya yang membuat Evelyn tertawa dengan keras mendengar jawaban Livi karena memang yang Evelyn tahu Livi bukanlah orang yang taat beragama. Bahkan gadis itu masih ragu dengan agamanya.


Saat sampai di pintu utama mereka tak sengaja bertemu dengan Steve yang langsung menghentikan mereka. Mereka berdecak kesal karena harus bertemu dengan laki-laki tersebut di saat yang tidak tepat seperti ini.


“Nyonya Anda akan pergi kemana?” tanya Steve yang menghentikan langkah Evelyn juga Livi saat kedua perempuan itu akan keluar dari mansion besar milik Kenrick.


Evelyn menghembuskan nafasnya lalu segera menoleh ke arah Stevc yang kini menatap kedua wanita tersebut dengan mengerutkan keningnya dan menaikkan sebelah alisnya penuh tanya.


" Aku hanya mengantar Livi ke depan,” ucap Evelyn dengan senyuman nya berusaha untuk meyakinkan Steve jika ia hanya mengantar Livi dan bukan berniat untuk pergi.


“Tapi Tuan melarang Anda untuk keluar Nyonya,” ucao Steve yang membuat Evelyn kini memutar bola matanya malas mendengar ucapan Steve tersebut yang begitu patuh pada Kenrick. Padahal ia hanya berkata jika mereka akan pergi ke depan saja untuk mengantar Livi.


" Kau tak tahu, ibu hamil dianjurkan untuk sering berjalan. Lagipula tidak akan jauh. Hanya mengantar Livi ke depan saja,” ucap Evelyn dengan begitu tegas. Senyuman wanita tersebut kini bahkan sudah memudar dan terganti dengan tatapan tajamnya pada Steve.


“Aku akan ikut dengan kalian,” ucap Steve yang kini membuat Evelyn memelototkan matanya mendengar ucapan Steve. Steve sepertinya begitu mencurigainya, takut jika Evelyn akan kabur.


Evelyn memutar otak nya untuk mencari cara agar ia bisa lolos dari Steve. Livi yang berada di samping Evelyn hanya diam saja sambil berdoa dalam hatinya. Ia begitu takut untuk ikut berbicara jadi lebih baik ia diam saja daripada disalahkan.


“Aku hanya mengantar Livi saja. Kau tunggu di sini dengan tenang. Dan jangan melawan,” tegas Evelyn dengan tatapan tajamnya pada Steve. Steve yang kini mendengar ucapan Evelyn hanya diam saja ingin membantah namun melihat bagaimana Evelyn menatapnya dengan tajam akhirnya ia hanya bisa diam saja.


“Baiklah Nyonya, berhati-hati,” ucap Steve yang akhirnya memilih untuk mengalah dari pada membuat Nyonya itu marah padanya.


Evelyn membalasnya dengan anggukan. Evelyn tak tahu akan semudah itu menipu Dennis yang biasanya begitu teliti. Terlihat kini Steve begitu takut ia marah dan itu membuat Evelyn senang karenanya.


“Nyonya tunggu! Apa mengantar Nona Livi memerlukan Tas?” tanya Steve yang kini menghentikan langkah Evelyn dan Livi yang kini sontak saling menatap satu sama lain. Evelyn menggigit bibirnya berusaha mencari alibi yang tepat.


" Ini? Aku memberikannya pada Livi, aku hanya membantunya membawa,” ucap Evelyn menjelaskan berusaha untuk menutupi kegugupannya karena ia yang mencari kebohongan untuk menutupi apa yang akan ia rencanakan.


“Jangan coba untuk keluar jika tak ingin Tuan Kenrick marah, Eve,” tegas Steve pada Evelyn yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Steve. Padahal tanpa laki-laki itu tahu jika kini Evelyn tengah merencanakan untuk kabur.


Livi sendiri kini hanya diam saja karena ia kini begitu takut. Apalagi saat mendengar ancaman dari Steve yang mengingatkannya bagaimana Kenrick.


"Tentu saja, kau tenang saja.” Evelyn segera menarik tangan Livi untuk segera keluar. Tanpa Evelyn tahu Livi sudah menahan takut.


“Aku seperti sedang di adu nasib sekarang,” ucap Livi yang membuat Evelyn terkekeh mendengar ucapan dari sahabatnya itu.


***