Mafia's woman

Mafia's woman
Teror 2



Evelyn memasuki kamarnya dengan begitu santai, ia baru saja selesai berjalan-jalan mengelilingi taman di rumah nya. Sekedar menghilangkan bosan juga untuk berolahraga pagi.


Kenrick kali ini tak ada di rumah karena laki-laki itu harus pergi untuk perjalanan bisnis ke kota lain jadilah, Kenrick sudah berjalan begitu pagi bersama dengan Sean. Jadilah kini ia dijaga oleh Steve yang ditugaskan untuk menjaga Evelyn.


Saat baru saja Evelyn akan mengambil ponselnya, matanya tertuju pada kotak berukuran sedang yang berada di kamarnya. Dengan mengerutkan keningnya dan langkah cepat nya Evelyn berjalan ke arah kotak tersebut untuk mengambilnya.


“Apa Kenrick yang memberikan ini?” tanya Evelyn menaikkan sebelah alisnya bingung. Evelyn segera mengambilnya lalu membawa kotak tersebut menuju ranjangnya.


Dengan senyumannya yang mengembang kini Evelyn mulai membuka kotak tersebut. Namun baru saja ia membuka nya terasa kotak tersebut berisi bangkai tikus.


Sontak saja hal itu membuat Evelyn menjerit. Steve yang berada di kamar Evelyn langsung masuk ke kamar atasannya itu dengan tergopoh-gopoh.


“Nyonya apa yang terjadi?” tanya Steve menatap Evelyn yang kini berada di ranjang nya sambil menatap lurus ke arah depan.


Melihat Evelyn yang hanya diam saja membuat Steve kini langsung mengikuti arah pandang Evelyn. Hingga matanya kini memelotot saat melihat bangkai tikus di depannya.


“Nyonya, minumlah. Saya akan memanggilkan Jessie,” ucap Steve sambil menyodorkan air minum yang baru saja ia ambil dari nakas pada Evelyn. Dengan sorot mata yang masih terlihat ketakutan Evelyn segera menerimanya.


“Terima kasih Steve,” ucap Evelyn yang Steve balas dengan anggukan.


Baru saja Steve akan keluar dari kamar atasannya itu tapi Evelyn lebih dulu menahannya yang membuat Steve kini menaikkan sebelah alisnya bingung.


“Jangan beritahu Kenrick sekaran. Saat ini pasti dia masih sibuk. Aku tak ingin membuatnya khawatir,” ucao Evelyn memohon pada Steve yang kali ini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung harus menjawab apa, karena Kenick yang selalu meminta nya melapor setiap jam dan kini nyonya nya malah meminta nya bungkam.


“Aku mohon Steve,” ucap Evelyn dengan tatapan memohon nya pada Steve saat melihat Steve yang kini terlihat ragu. Steve menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya ia hanya menjawabnya dengan anggukan. Melihat Evelyn yang kini menatapnya dengan tatapan memohon pada akhirnya ia luluh juga karena merasa kasihan dengan Evelyn.


“Terima kasih Steve,” ucap Evelyn yang dijawab dengan anggukan oleh Steve.


“Kalau begitu saya akan memanggil Jessie saja untuk menemani Anda Nyonya, Saya akan memeriksa CCTV lebih dulu,” ucap Steve yang setelahnya langsung melanggar keluar seolah tak ingin lagi mendengar bantahan dari Evelyn. Evelyn menghembuskan nafasnya kasar dan akhirnya ia hanya bisa untuk menerimanya saja.


“Jessie,” panggil Steve dengan sedikit berteriak memanggil Jessie yang tadi pergi untuk memeriksa sarapan yang akan ia bawakan untuk Evelyn.


Kini Jessie yang baru saja datang dengan nampan yang dibawa oleh wanita tersebut, bergegas menghampiri Steve saat melihat wajah khawatir juga ketakutan pada laki-laki tersebut.


“Temani Nyonya, dan bereskan kekacauan di dalam tanpa siapa yang tahu,” jelas Steve yang kini membuat Jessie mengerutkan keningnya mendengar ucapan Steve. Namun akhirnya ia tetap masuk ke kamar Evelyn untuk menjalankan perintah Steve yang kini sudah melenggang menuju tempat keamanan.


Saat Jessie baru saja masuk ke kamar Evelyn ia buat terkejut dengan adanya bangkai tikus dan box yang sudah terlempar tak jauh dari ranjang. Dan Nyonya nya kini tengah duduk di pinggiran ranjang dengan pikirannya yang entah berada di mana.


“Nyonya, apa yang Anda katakan? Tidak perlu melakukan apapun Nyonya. Biarkan Steve yang mengurus nya,” ucap Jessie sambil meletakkan namanya di atas nakas.


“Tidak Jessie. Ketakutan ku adalah hal yang ingin mereka lihat. Jadi lebih baik aku bertindak agar mereka tak semakin keterlaluan karena menganggap aku takut pada mereka,” ucap Evelyn yang kini sudah bangkir dari posisunhya.


Jessie yang melihatnya langsung menahan tangan Evelyn. Yang membuat Evelyn kini menatap tak suka pada Jessie yang hanya menghela nafasnya kasar.


“Lebih baik sekarang Anda makan sarapan Anda dulu. Setelah ini saya akan menemani Anda ke ruang pengawas,” ucap Jessie yang akhirnya memilih mengalah dan berusaha untuk membujuk Evelyn agar wanita hamil itu mau untuk mengisi perutnya.


Ia tak ingin jika Evelyn sampai kelaparan dan berpengaruh pada janin nya, jadi lebih baik kini ia membantu Evelyn namun dengan sebuah imbalan untuk Evelyn sendiri.


Evelyn menghembuskan nafasnya kasar dan akhirnya mau tak mau ia segera memakan sarapannya dan juga meminum susu hamil serta vitamin nya.  Evelyn bhakna memakannya dengan cepat.


Setelah selesai dengan semuanya, wanita itu segera mengelap mulutnya dengan tissue yang berada di sana. Setelahnya ia langsung mengajak Jessie untuk segera pergi menuju ruang pengawas.


“Nyonya, Anda yakin? Tidakkah lebih baik jika membiarkan Steve saja yang menyelesaikannya?” tanya Jessie berusaha untuk tetap menahan Evelyn. Ia hanya tak ingin Evelyn terlalu lelah. Namun sikap keras kepala Evelyn, tentu tak ,membuat wanita itu menyerah begitu saja.


“Kau akan ikut masuk atau tidak?” tanya Evelyn dengan tegas pada Jessie yang menghembuskan nafasnya kasar dan pada akhirnya ia memilih untuk mengalah dan mengikuti Evelyn untuk masuk ke dalam ruang pengawas.


Saat melihat kedatangan Evelyn banyak yang menunduk dengan hormat. Jelas mereka tahu jika Evelyn adalah istri dari atasan mereka karena di mansion in kini hanya ada satu wanita hamil. Apa lagi dengan pakaian yang Evelyn kenakan yang jelas berbeda dengan pelayan.


Evelyn berjalan dengan leluasa menuju ruangan atas. Namun saat akan keluar dari lift yang kini sudah berada di lantai pengawas inti. Seorang pengawal menghentikan mereka membuat Evelyn menatap pengawal itu dengan tajam.


“Maaf Nyonya, tapi pelayan Anda tidak bisa untuk ikut ke dalam,” ucap pengawal tersebut yang kini membuat Evelyn menatap tajam pada pengawal tersebut.


“Kau tahu dia adalah ibu asuh Kenrick? Kau pikir dia bisa berkhianat?” tanya Evelyn dengan wajahnya yang kini terlihat begitu marah.  Pengawal tersebut hanya menunduk takut saat melihat amarah Evelyn.


“Maaf Nyonya tapi ini sudah aturan yang Tuan buat,” ucap pengawal itu lagi saat Evelyn sudah akan pergi dengan membawa Jessie. Evelyn menghembuskan nafasnya kasar.


“Sangat merepotkan,” ucap Evelyn.


“Tak apa Nyonya, saya akan menunggu di sini, Anda masuk lah,” ucap Jessie dengan senyuman menenangkannya yang membuat Evelyn menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Jessie.


“Kau berani membantahku? Aku bisa saja memecatmu. Atau mengatakan pada Kenrick jika kalian menyakiti ku, jadi sekarang enyah lah dari pandangan ku,” marah Evelyn yang setelahnya langsung menarik Jessie untuk masuk lebih dalam lagi. Pengawal tadi akhirnya hanya bisa diam saja karena terlalu takut untuk membantah Evelyn.


***