
Sean kini menatap gadis di depannya dengan tatapan datar nya begitupun dengan gadis di depannya itu yang kini juga menatap datar ke arah Sean.
“Kau akan tetap bekerja di tempat seperti ini?” tanya Sean dengan tatapan datarnya sambil melihat ke arah sekeliling klub malam yang kali ini terlihat begitu ramai.
“Apa masalah mu Tuan? Ini adalah pekerjaan ku. Aku harus mengurus biaya kuliah ku karena seluruh harta ku sudah diambil oleh paman ku,” ucap gadis tersebut dengan senyuman sinisnya. Sean menghela nafasnya kasar mendengar ucapan gadis di depannya yang sampai saat ini belum diketahui siapa namanya itu.
“Siapa namamu?” tanya Sean menaikkan sebelah alisnya.
“Kirana,” ucap gadis yang ternyata bernama Kirana itu. Anak dari adik rudolf yang orang tuanya sudah Sean bunuh. Memang Sean sering kali menghampirinya dengan alasan mencari informasi tentang Rudolf.
“Bekerjalah dengan Nyonya ku. Dia sedang mencari teman sekaligus asisten,” ucap Sean yang membuat Kirana menaikkan sebelah alisnya.
“Kau serius?” tanya Kirana dengan tatapan tak percayanya pada Sean yang kini menjawabnya dengan anggukan.
“Kau bisa bekerja sesukamu, karena Nyonya ku juga hanya di rumah saja,” ucap Sean yang kini malah membuat Kirana tertawa mendengar ucapan Sean.
“Lalu pekerjaan ku sebagai asisten untuk apa? Jika Nyonya mu hanya di rumah saja?” tany Kirana dengan tawanya yang membuat Sean kini memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari Kirana.
“Hanya menemani Nyonya ku saja. Sudah lah terima saja, lagi pula gajinya lebih besar dua kali lipat dari pekerjaanmu disana. Lakukan saja sampai aku menyelesaikan urusan ku dengan paman mu dan kau akan mendapatkan milikmu lagi. Anggap saja sebuah kesepakatan,” ucap Sean yang kini membuat Kirana terdiam mendengar ucapan dari Sean.
Seolah menimbang-nimbang tentang keputusan yang akan diambilnya. Sean kini terdiam seolah menunggu jawaban dari gadis di depannya itu yang kini menghela nafasnya kasar sebelum akhirnya menjawabnya dengan anggukan.
“Aku akan memikirkannya,” ucap Kirana akhirnya.
“Jika kau setuju datang lah ke alamat ini. Katakan saja jika Sean yang memintamu datang. Atau kau bisa menghubungi nomor ponsel ku yang berada di bawah sana,” ucap Sean sambil menunjukkan kartu nama miliknya yang memang memakai alamat milik Kenrick mengingat ia yang masih tinggal di kediaman Kenrick.
Kirana hanya menjawabnya dengan anggukan. Entah ia akan menerimanya atau tidak. Namun sejujurnya ia sudah ingin pergi dan berhenti dari pekerjaan malam seperti ini yang hanya membuatnya kurang istirahat. Belum lagi jika ia harus berurusan dengan laki-laki hidung belang.
“Aku pergi,” ucap Sean yang setelah nya langsung pergi dari sana meninggalkan Kirana untuk memikirkan tawaran Sean baik-baik.
****
Keadaan mansion pagi ini begitu heboh karna Steve yang tak sengaja memakan kue milik Evelyn yang berada di dalam kulkas.Begitulah keadaan Mansion Kenrick jika sudah Evelyn akan ribut dengan ketiga laki-laki itu.
Meskipun mereka bawahan dan atasan namun jika sudah bawahannya seperti Sean dan Steve yang sudah di anggap teman juga keluarga oleh Evelyn mereka cukup melunjak. Meskipun Evelyn senang karena tidak ada canggung dan harus saling begitu menghormati.
Namun jika keadaannya sudah seperti ini makan pertempuran sengit baru saja dimulai. Seperti saat ini Steve terus saja menghindar dari lemparan Evelyn. Kenrick dan Sean yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Anak ku belum lahir kini malah istri dan pengawal ku yang menjadi seperti anak-anak,” ucap Kenrick sambil menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya kasar. Sean yang berada di samping Kenrick hanya bisa mengelus pundak atasannya itu berusaha untuk menenangkan.
“Tuan, ada yang datang mencari Anda. Seorang perempuan,” ucap Jessie yang baru saja datang ke ruang tamu yang kini sudah begitu kacau. Bersama seorang perempuan yang kini masih berdiri di depan pintu dengan terbengong melihat laki-laki dengan pakaian formal seorang penjaga tengah berjalan bersama seorang ibu hamil.
“Kirana, kau datang?” tanya Sean sambil menghampiri perempuan yang tak lain adalah Kirana yang kini masih cengo melihat adegan di depannya.
Evelyn yang awalnya akan melempar bantal lagi kini menghentikan aksinya dan menatap Kirana dengan tatapan bingungnya. Hingga senyumannya mengembang saat tahu jika gadis itu adalah gadis yang kini di sukai oleh Sean.
Evelyn segera menghampiri mereka begitupun dengan Kenrick dan Steve. Kirana berusaha untuk mengendalikan dirinya lalu menunduk dengan hormat pada orang di depannya.
“Eve. Ini adalah Kirana. Dia yang akan menjadi asisten sekaligus teman mu,” ucap Sean yang kini malah membuat Evelyn kebingungan sehingga bisa terlihat jelas kerutan di kening wanita itu.
“Sean yang meminta nya untuk direkrut, bahkan dia mau gajinya dipotong untuk wanita itu,” ucap Kenrick menjelaskan sambil berbisik pada Evelyn yang kini langsung tersenyum juga terkekeh mendengar ucapan Kenrick.
“Baiklah. Kau bisa bekerja di sini sesuka mu,” ucap Evelyn dengan senyumannya yang di juga di jawab oleh senyuman oleh Kirana.
“Perkenalkan aku adalah Evelyn. Kau bisa memanggilku Eve seperti Sean,” ucap Evelyn dengan senyumannya memperkenalkan dirinya.
Di luar dugaan Kirana. Ia pikir majikannya nanti adalah orang yang galak dan tidak berperasaan namun siapa yang tahu jika yang kini ada di depannya itu adalah majikan yang begitu baik. Bahkan ia tak mau untuk di panggil Nyonya.
Dilihat dari bagaimana bawahannya memperlakukannya Kirana bisa menebak jika Evelyn adalah orang yang asik dan tidak membeda-bedakan.
“Ini adalah suamiku, Kenrick. Dan ini adalah pengawal pribadi ku, Steve,” ucap Evelyn memperkenalkan yang membuat mereka saling menduk hormat.
“Jessie,” panggil Evelyn pada wanita paruh baya yang kini langsung berlari ke arah Evelyn saat namanya dipanggil.
“Ini adalah Jessie, ketua pelayan sekaligus ibu asuh Kenrick. Kau bisa meminta bantuan padanya jika membutuhkan sesuatu,” ucap Evelyn memperkenalkan Jessie pada Kirana yang langsung membuat gadis itu menunduk hormat begitupun dengan Jessie.
“Jessie lain kali bantulah Kirana. Mulai sekarang dia juga akan menemani ku,” ucap Evelyn yang di balas dengan anggukan oleh Jessie.
“Baik Nyonya,” ucap Jessie.
“Sean. Kau bisa mengajaknya untuk berkeliling mansion agar lebih mengenal tempat ini,” ucap Evelyn sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sean yang kini hanya bisa tersenyum tipis ke arah Evelyn yang seolah begitu mengerti dirinya.
“Kenrick aku begitu lelah lebih baik kita kembali ke kamar saja,” ucap Evelyn yang di jawab dengan anggukan oleh Evelyn.
“Awas kau,” ancam Evelyn yang masih tak melupakan kekesalannya pada Steve yang kali ini hanya menyengir mendengarnya.
***