
Seorang gadis berjalan dengan bingung memasuki rumahnya yang pagarnya terbuka dengan lebar. Kakinya melangkah semakin masuk ke rumah tersebut. Namun saat sampai di depan pintu ia berhasil dibuat terkejut melihat banyak penjaga rumah nya yang kini sudah terkapar di lantai dengan banyaknya luka tembak serta darah yang sudah berada di mana-mana.
Kakinya rasanya kini sudah lemar melihat pemandangan di depannya itu. Hingga kini pikirannya langsung melayang pada kedua orang tuanya. Dengan ketakutan yang kini melingkupi dirinya, gadis tersebut berlari menuju kamar orang tuanya.
Dengan sekali tarikan knop pintu, ia langsung membuka pintu kamar dan kini ia benar-benar dibuat tak percaya melihat pemandangan di depannya. Di mana ayahnya yang kini berada tepat di depan pintu, dengan kondisi yang begitu mengenaskan. Kepala dan dada yang tertembak.
“Daddy,” gumam nya yang kini sudah bersimpuh tepat di depan samping ayahnya sambil membekap mulutnya. Menatap ayahnya yang kini sudah tak lagi bernafas. Tangisnya pecah, meraung meratapi nasibnya yang kini terasa begitu hancur dengan ayahnya yang sudah meninggalkannya dalam kondisi dan cara yang begitu mengenaskan seperti ini.
Mengingat tak ada ibunya di sana. Gadis tersebut segera bangkit dari posisinya untuk mencari keberadaan ibunya. Dan saat melihat ruang kerja ayahnya yang terbuka dengan segera ia berjalan ke arah ruang kerja tersebut. Namun ia tak mendapat apapun selain noda darah yang berada di lantai dan mengarah ke arah jendela yang memang terbuka.
“Tidak. Dimana Mommy? “ tangis nya sambil berteriak karena tak mendapati keberadaan ibunya.
Dengan berlari gadis tersebut melihat ke arah jendela namun saat melihat ke arah bawah ia hanya melihat adanya noda darah yang begitu banyak juga benar orang yang diseret dengan darahnya yang kini sudah memenuhi lantai. Lagi-lagi kini ia hanya bisa membekap mulutnya sendiri.
Ia rasanya kini begitu lemas mendapati fakta yang begitu menyakitkan untuknya. Hanya dalam satu malam ia rasanya sudah kehilangan semua nya. Ia kehilangan keluarga. Ia kehilangan kedua orang tuanya. Gadis tersebut kini menekuk lututnya dan memeluk dirinya sendiri dengan tangisnya yang semakin mengalir dengan begitu derasnya.
“Aku kehilangan kalian? Bagaimana aku harus menjalani hari ku? Aku tak bisa sendiri. Bawa aku juga Mommy, Daddy,” ucap nya dengan begitu sendu dan begitu terluka.
Hingga suara ambulan juga mobil polisi datang dan ada akhirnya mengevakuasi semua korban juga membawa gadis tersebut dari sana. Tatapannya tapi begitu kosong dengan pandangan yang lurus ke arah depan. Kehilangan kedua orang tuanya secara langsung dengan cara yang begitu mengenaskan. Siapa yang tidak akan terpukul dengan semua kejadian ini?
Disisi lain kini seorang laki-laki yang sedari tadi mengikuti dan mengawasi gadis tersebut menatap ke arah gerombolan orang yang kini menonton proses evakuasi. Dan dapat ia lihat gadis yang sedari tadi ia awasi dan pernah ia tolong adalah anak dari orang yang baru saja ia bunuh.
Dan ya, laki-laki tersebut adalah Sean. Laki-laki yang menghabisi seluruh isi rumah. Namun kini ia juga yang memanggil polisi juga ambulan agar mereka datang. Aneh memang tapi itulah Sean. Entah mengapa saat melihat gadis yang ia bantu tadi ia jadi merasa kasihan pada nya hingga ia terus mengikutinya dan mengetahui jika gadis tersebut adalah anak dari orang yang ia bunuh.
***
Evelyn yang baru saja memasuki ruang makan di buat bingung dengan Sean yang pagi-pagi sekali kini sudah berada di meja ruang makan mansion mereka dengan tatapannya yang terlihat tengah berpikir keras. Bahkan kopi hangat di depannya hanya diputar-putar saja.
Melihat laki-laki yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri itu terlihat begitu aneh. Evelyn segera berjalan ke arah Sean lalu duduk di hadapan laki-laki tersebut dengan tatapan bingungnya. Evelyn melambaikan tangannya di depan Sean namun tetap saja tak ada respon dari laki-laki tersebut yang kini membuat Evelyn semakin bingung.
Apa yang sebenarnya membuat laki-laki seperti Sean bisa melamun seperti ini. Dengan gemas akhirnya Evelyn langsung menepuk pundak Sean yang sontak membuat Sean terkejut karena nya. Sean menoleh ke arah Evelyn dengan helaan nafas kasarnya sedangkan Evelyn kini menatap Sean dengan tatapan penuh tanya.
Ia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Sean. Sean menghembuskan nafasnya kasar bukannya menjawab pertanyaan Evelyn kini laki-laki tersebut malah balik bertanya pada Evelyn.
“Kau ingin jalan-jalan siang ini?” tanya Sean yang kini membuat Evelyn menaikkan sebelah alisnya bingung karena tak biasanya Sean akan bertanya seperti itu.
Padahal selama ia hamil Sean juga menjadi laki-laki yang tak kalah posesoif dari Kenrick dan kini tiba-tiba saja laki-laki tersebut pada Evelyn. Jelas Evelyn merasa ada yang tak beres sebenarnya dari Sean. Dan Evelyn tahu jika Sean kini tengah membutuhkan ruang.
“Bagaimana jika berbelanja perlengkapan bayi? Aku ingin ke mall,” ucap Evelyn yang membuat Sean mengangguk dengan semangat. Evelyn menaikkan sebelah alisnya ia rasanya sudah begitu penasaran namun ia masih harus menahannya.
Ia tahu Sean tak bisa untuk memberitahunya disini oleh karena itu Sean mengajaknya untuk jalan-jalan secara tidak langsung. Karena jelas ia tak berani untuk mengajak Evelyn jalan-jalan mengingat bagaimana Tuannya itu.
“Aku akan menemani mu,” ucap Sean yang Evelyn balas dengan anggukan.
Hingga tak lama Kenrick datang dengan senyumannya menyapa Evelyn sambil mengecup kening Evelyn lalu duduk di tempatnya. Melihat jika Kenrick sudah datang para pelayan langsung menghidangkan sarapan para majikannya itu.
“Di mana Steve?” tanya Evelyn saat tak melihat keberadaan laki-laki tersebut di meja makan karena biasanya mereka selalu sarapan dalam anggota lengkap namun kini Steve malah tak ada di antara mereka.
“Steve sedang ada pekerjaan Nyonya,” ucap Sean menjelaskan yang membuat Evelyn menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Sean.
“Sepagi ini?” tanya Evelyn tak percaya yang Kenrick dan Sean balas dengan anggukan kompak.
Evelyn yang mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya melihat bagaimana dua laki-laki di depannya itu menyiksa Steve dengan pekerjaan di pagi hari.
“Kau begitu jahat Kenrick. Masih begitu pagi dan kau sudah memerintahkan nya untuk bekerja,” ucap Evelyn dengan tatapan tajamnya pada Kenrick yang kini menggelengkan kepalanya dengan begitu polos karena merasa bukan ia yang menyuruh Steve untuk bekerja begitu pagi.
“Itu perintah Sean,” ucap Kenrick membela dirinya yang kini malah menyalahkan Sean karena memerintahkan Steve bekerja begitu pagi.
“Tapi atas persetujuan mu bukan? Dan kau Sean, ini masih begitu pagi dan kau sudah meminta Steve untuk bekerja. Kalian begitu jahat,” ucap Evelyn dengan begitu tajamnya sambil menoleh bergantian ke arah dua laki-laki tersebut yang kini hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena wejangan yang diberikan oleh Evelyn pada mereka.
***