
Evelyn merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, tubuhnya akhir-akhir ini memang seringkali merasa lelah. Ditambah dengan perjalanan hari ini yang begitu panjang dan melelahkan. Setelah perjalanan yang memakan waktu yang begitu lama kini akhirnya Evelyn sampai di sebuah Apartemen yang berbeda dengan apartemennya sebelumnya.
Sean benar-benar menepati ucapannya untuk membelikan sebuah Apartemen untuk Evelyn. Laki-laki tersebut juga sudah menyiapkan keperluan Evelyn selama di apartemen tersebut. Juga memberikan ponsel baru untuk Hazel yang sudah berisi salinan dari nomor ponsel sahabatnya juga pamannya.
"Kepalaku terasa begitu pusing,” ucap Evelyn sambil memegangi kepalanya yang sudah terasa begitu pusing.
Evelyn berjalan ke arah kotak obat yang berada di dapur untuk mencari obat pusing tapi Evelyn malah tidak menemukannya. Evelyn menghela nafasnya kasar. Kepalanya kini sudah terasa begitu pusing sampai berjalan saja ia sudah kesusahan apalagi jika harus berjalan jauh untuk membeli obat.
"Lebih baik aku menelepon Ivey meminta bawakan obat,” ucap Evelyn yang merasa tak kuat jika harus berjalan jauh. Evelyn berjalan kembali ke arah tas nya yang berada di kamar untuk menghubungi sahabatnya tersebut. Namun baru saja membuka ponselnya ternyata ada pesan dari Sean yang menanyakan kabarnya.
Evelyn terlebih dulu membalas pesan Sean dan memberitahu laki-laki tersebut jika ia sudah sampai.
Baru setelahnya Evelyn memutuskan untuk menghubungi Evelyn. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya wanita tersebut menjawab panggilannya.
"Halo Ivey,” sapa Evelyn setelah panggilannya tersebut dijawab oleh wanita tersebut.
“Evelyn, apa ini kau? Nomormu baru? Kenapa kau baru menghubungiku?! Kemana saja kau?!” tanya Ivey dengan begitu hebohnya saat mengetahui jika yang menelponnya tersebut adalah Evelyn. Ia sudah begitu mengkhawatirkan sahabatnya tersebut namun Evelyn malah sama sekali tidak menghubunginya. Jadi kini tak salah jika ia membrondong Evelyn dengan banyak pertanyaan saat akhirnya wanita tersebut menghubungi.
"Ivey berhentilah berbicara! Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang kepalaku begitu pusing. Bisakah kau membelikan obat untukku?” tanya Evelyn dengan penuh harap jika kini Ivey bisa diandalkan. Dari suara dentuman musik yang masih terdengar jelas walau samar namun Evelyn masih bisa untuk mendengarnya jika ternyata sahabatnya tersebut pasti berada di club malam. Sahabatnya tersebut memang tak berubah.
“Kau sakit? Apa yang terjadi Evelyn?” tanya Ivey dengan begitu khawatirnya pada sahabatnya tersebut.
"Cepatlah datang Ivey. Aku akan mengirimkan alamat ku pada mu, ucap Evelyn pada Ivey.
“Baiklah, aku akan datang bersama Livi. Kirimkan saja alamat mu, aku langsung datang dan membawakan mu obat. Apa ada lagi yang kau butuhkan?” tanya Ivey takut jika ada hal lain yang dibutuhkan oleh sahabatnya tersebut.
“Tidak. Hanya obat pusing saja,” ucap Evelyn yang sudah begitu lemas. Pusingnya kini terasa semakin menjadi.
“Baiklah, aku akan kesana,” ucap Ivey. Setelah mendengar jawaban Ivey, Evelyn segera memejamkan matanya untuk beristirahat.
Hingga tak lama suara bel terdengar membuat Evelyn segera menuju pintu untuk membukakannya.
Evelyn berjalan dengan gontai sambil memegangi kepalanya menuju pintu. Saat ia membuka pintunya, dapat ia lihat kini kedua sahabatnya yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir juga rindunya pada Evelyn.
Mereka segera memeluk Evelyn mengungkapkan kerinduan mereka pada sahabatnya tersebut.
“Evelyn, aku merindukanmu,” ucap Livi pada sahabatnya setelah melepaskan pelukan mereka.
“Evelyn kau baik-baik saja?” tanya Ivey saat melihat wajah sahabatnya tersebut yang sudah begitu pucat.
"Aku baik-baik saja kau tenang saja. Kau membawa obat yang ku minta?” tanya Evelyn pada kedua sahabatnya tersebut. Livi mengangkat tangannya menunjukkan obat yang dibawanya.
"Terima kasih,” ucap Evelyn dengan senyumannya.
Evelyn segera masuk yang diikuti dengan sahabatnya juga. Namun saat Evelyn berjalan menuju dapur, Evelyn malah terjatuh pingsan membuat kedua sahabatnya itu terkejut.
“Evelyn,” teriak mereka kompak saat melihat Evelyn yang sudah menjadi gelap.
***
Kenrick datang ke rumahnya tepat setelah mengantar Razita pulang. Saat sampai di rumahnya ternyata Jessie sudah berada di mansion. Dengan keadaan lelah Kenrick berjalan ke arah kamarnya untuk menemui Evelyn dan meminta maaf pada wanitanya tersebut.
Namun saat masuk ke kamarnya ternyata keadaan kamar begitu sepi dan hanya terdapat banyak belanjaan Evelyn tanpa ada wanita tersebut. Kenrick memeriksa seluruh kamar namun tak ada wanita nya tersebut akhirnya ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan bertanya keberadaan Evelyn pada Jessie.
“Jessie, di mana Evelyn?” tanya Kenrick saat menemui Jessie yang kini sudah terlihat ketakutan membuat Kenrick kini merasakan takut pada dirinya. Takut jika terjadi sesuatu pada Evelyn.
“Sudah berapa lama mereka pergi?” tanya Kenrick yang masih berusaha untuk menahan amarahnya.
“Nyonya dan Sean sudah pergi setelah dari mall Tuan, Nyonya meminta saya untuk pulang lebih dulu,” ucap Jessie yang kini sudah berlutut karena begitu takut pada Kenrick. mendengar hal tersebut Kenrick sudah memelototkan matanya lalu melayangkan sebuah tamparan untuk Jessie.
“Beraninya kau meninggalkan mereka hanya berdua saja,” ucap Kenrick yang terus saja melayangkan sebuah tamparan pada Jessie yang hanya terdiam melihat apa yang Tuannya lakukan tersebut.
Steve yang baru saja datang begitu terkejut melihat Jessie yang kini sudah di pukulu oleh Kenrick. Melihat hal tersebut Steve dengan segera menghampiri mereka.
“Tuan kendalikan diri Anda. Jessie adalah wanita yang merawat Tuan selama ini,” ucap Steve sambil menahan Tuannya tersebut agar tak lagi memukuli Jessie yang kini sudah terduduk di tempatnya dengan air matanya yang sudah mengalir.
Namun Jessie sama sekali tidak menyesali perbuatannya karena menurutnya Kenrick juga harus merasakan apa yang Evelyn rasakan. Kenrick sudah begitu keterlaluan pada Evelyn jadi laki-laki tersebut harus mendapatkan balasannya.
“Di mana Sean?” tanya Kenrick yang kini berkacak pinggang berusaha menahan marahnya. Deru nafasnya kini sudah memburu.
Steve yang tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi menjadi begitu penasaran namun tak berani untuk menanyakannya pada Kenrick.
“Sean?” tanya Steve yang sebenarnya juga tak tahu di mana Sean karena sedari tadi ia belum bertemu dengan laki-laki tersebut.
“Tuan mencari saya?” tanya Sean yang baru saja datang dengan wajah santainya. Laki-laki tersebut berjalan ke arah Kenrick dengan langkah pastinya.
Kenrick segera menghampiri Sean dengan wajah menantang dan galaknya pada laki-laki tersebut.
“Di mana Evelyn?” tanya Kenrick saat tak melihat keberadaan Evelyn yang berada di belakang Sean. Steve yang tak mengetahui apapun kini malah berpikir jika Sean dan Evelyn tengah berselingkuh hingga membuat Kenrick begitu marah.
“Aku sudah mengantarnya ke Bandara,” ucap Sean yang tentu begitu memancing amarah Kenrick.
Tanpa mengatakan apapun Kenrick langsung menghajar Sean dengan membabi buta. Steve kini hanya terdiam di tempatnya mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Di bawah Kenrick kini Sean tak bisa melawan karena bagaimanapun Kenrick adalah Tuannya jadi ia membiarkan Kenrick memukulinya hingga puas. Sampai Sean hampir tak sadarkan dirinya baru Kenrick menghentikan aksinya.
“Bawa Sean ke penjara atas,” ucap Kenrick tegas pada Steve yang masih terpaku namun akhirnya ia menuruti ucapan Kenrick dengan membawa laki-laki tersebut menuju penjara atas dengan bantuan dari penjaga yang berada di sana.
“Semua adalah kesalahan Anda Taun.”
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.