
Saat Evelyn dan Kenrick menuju ruang makan ternyata disana sudah ada Max, Sean, dan Steve yang tengah berbincang. Sementara Jessie tengah menyiapkan makanan yang sudah selesai ia masak. Jessie kini memasak banyak makanan mengingat kini makanan yang dimasak bukan hanya untuk Evelyn dan Kenrick namun juga ada tiga orang kepercayaan Kenrick juga Jessie sendiri.
"Maaf tak bisa membantumu memasak Jessie,” ucap Evelyn dengan tatapan penuh sesalnya Ia cukup merasa kasihan pada Jessie yang harus memasak banyak makanan seorang diri.
“Tidak Nyonya, ini adalah tugas saya,” ucap Jessie dengan senyumannya. Evelyn hanya mengangguk lalu segera duduk di samping Kenrick dengan laki-laki itu yang berada di kepala kursi meja makan.
"Duduklah Jessie, ayo kita makan bersama,” ajak Evelyn pada Jessie. Tak tega jika Jessie hanya makan seorang diri dan hanya melihat mereka yang tengah makan bersama.
“Tidak Nyonya, kalian makanlah lebih dulu,” tolak Jessie dengan begitu lembut, ia hanya seorang pelayan jadi merasa tidak pantas jika harus duduk bersama dengan majikannya tersebut.
“Duduklah,” perintah Kenrick seolah tak ingin mendengar bantahan lagi. Mendengar perintah tegas dari Kenrick akhirnya pelayan tersebut menurut dan duduk di samping Evelyn yang kosong sedangkan ketiga pria lainnya duduk di hadapan Evelyn.
“Bagaimana keadaan sekarang?” tanya Kenrick karena memang sejak tadi ia belum bertanya tentang info terkini dari pengkhianatan tersebut.
“Semua sudah terkendali Tuan,” ucap Max yang kini menjawab pertanyaan atasannya tersebut.
“Ronald sudah mendapatkan balasannya. Paman dan Bibi Anda sudah mengambil alih untuk menghukumnya. Sedangkan para pengikutnya dan juga gangster yang mendukungnya sudah kamu kurung di penjara bawah Tuan,” ucap Sean melanjutkan ucapan Max karena memang ia yang bertugas untuk mengurus tentang kekacauan yang diakibatkan oleh Ronald.
“Sepertinya dia tak akan berani melawan orang tuanya,” sinis Steve menahan tawanya mengingat bagaimana Ronald yang begitu patuh pada orang tuanya.
“Ya kita tahu bagaimana laki-laki itu begitu mencintai orang tuanya,” ucap Sean melanjutnya hingga mereka tertawa bersama. Sedangkan Sean hanya tersenyum mendengarnya.
Ronald memang bekerja sama dengan gangster kecil untuk pengkhianatannya.
“Jadi benar dia orang yang membeli senjata dan melakukan berter informasi?” tanya Kenrick yang dijawab dengan anggukan oleh ketiga bawahannya tersebut. Kenrick menghela nafasnya ia tak menyangka jika Ronald bisa bertindak sejauh ini.
Saat mereka tengah membicarakan tentang kejadian yang tadi terjadi tiba-tiba Evelyn teringat tentang pamannya.
"Pamanku? Apa dia baik-baik saja? Dimana dia berada?” tanya Evelyn memotong pembicaraan keempat laki-laki tersebut yang kini sontak mengalihkan atensinya pada Evelyn. Evelyn berharap pamannya baik-baik saja. Ia begitu mengkhawatirkan pamannya itu.
“Pamanmu baik-baik saja Sayang. Kau tenang saja, Max sudah mengurusnya,” ucap Kenrick dengan senyuman menenangkannya. Evelyn menghembuskan nafasnya lega mendengar ucapan Kenrick tersebut. Meskipun hubungan Evelyn tidak baik dengan Max namun ia cukup mempercayai laki-laki tersebut.
“Paman Anda baik-baik saja. Saat ini ia sudah kembali ke New York,” jelas Max yang terdengar lebih bersahabat dari biasanya. Entah memang karena laki-laki tersebut yang memang ingin berubah pada Evelyn atau karena ada Kenrick di antara mereka. Namun Evelyn tidak perlu yang jelas ia begitu berterima kasih pada laki-laki tersebut.
"Terima kasih Max,” ucap Evelyn tulus. Max menganggukkan kepalanya
“Sudah tugasku Nyonya,” ucap Max.
Mereka kembali melanjutkan perbincangan tentang kejadian yang baru saja Evelyn alami tadi.
“Evelyn kau kembalilah lebih dulu. Masih ada yang harus aku bahas dengan mereka,” ucap Kenrick setelah mereka selesai dengan makan malam mereka. Evelyn hanya membalasnya dengan anggukan lalu segera berlalu dari sana menuju kamarnya. Sedangkan Jessie memilih untuk pergi dan membersihkan ruang makan.
Evelyn akhirnya kini hanya berdiam diri di kamar karena tak ada ponsel yang bisa Evelyn mainkan. Evelyn hanya melihat-lihat ruangan seperti ruangan bawah tanah ini. Saat Evelyn tengah fokus mengamati sekeliling kamar, suara pintu dibuka membuat Evelyn menoleh. Terlihat Kenrick yang berjalan dengan pincang menuju ke arah wanita tersebut.
“Cepat bantu aku Sayang. Kenapa kau hanya diam saja hm?” kesal Kenrick melihat Evelyn hanya terdiam di posisinya tanpa niat membantunya yang tengah kesusahan.
Evelyn terkekeh mendengarnya lalu segera menghampiri laki-laki tersebut. Evelyn merangkul Kenrick membantu laki-laki itu untuk duduk di sofa yang berada di sana.
“Sayang sepertinya kita harus menunda pernikahan kita hingga semua aman,” ucap Kenrick dengan penuh sesal. Karena lagi-lagi pernikahan mereka harus ditunda. Belakang ini memang banyak sekali musibah yang menimpah mereka.
Kenrick memeluk wanita nya tersebut dengan erat, sesekali laki-laki itu mengecup kening Evelyn dengan menyalurkan betapa ia begitu mencintai wanita dalam pelukannya tersebut.
“Lagi pula ini semua salahku,” ucap Evelyn setelah lama mereka saling terdiam dalam posisi tersebut.
“Berhentilah menyalahkan dirimu. Semua sudah terjadi dan ini untuk pelajaran kita,” peringat Kenrick. Ia tak ingin Evelyn terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada mereka.
"Terima kasih karena sudah memaafkanku Kenrick,” ucap Evelyn lagi. Setelah kekacauan yang ia perbuat dan keras kepalanya yang terus membantah Kenrick namun laki-laki tersebut malah masih berbaik hati untuk memaafkannya lagi.
“Bagaimana bisa aku marah pada wanita yang begitu aku cintai?” ucap Kenrick yang kini menyelipkan kepalanya di antara ceruk leher wanitanya tersebut. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh khas wanitanya tersebut yang begitu menenangkan dan menjadi candu untuknya.
Wangi Evelyn baginya begitu memabukkan. Tak ada kandungan alkoholnya atau nikotinnya namun begitu memabukkan dan membuat ia candu. Kenrick ingin terus seperti ini, beralam-lama berada di dekat wanitanya tersebut.
"Aku juga mencintaimu,” ungkap Evelyn sambil mengelus tangan Kenrick yang memeluk pinggangnya.
“Terima kasih karena telah mencintaiku,” ucap Kenrick dengan senyuman bahagianya.
"Sudah menjadi tugasku. Semua juga karena usahamu,” ucap Evelyn. Kenrick memperlihatkan senyuman manisnya membuat Evelyn juga ikut tersenyum melihatnya.
“Ingin berjalan-jalan?” tawar Kenrick setelah melepaskan pelukan mereka.
Evelyn terlihat berpikir sejenak lalu membalikkan tubuhnya dan kini mereka saling berhadapan.
“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana jika mu sakit dan bertambah parah saat di buat berjalan?” tanya Eveltyn dengan tatapan khawatirnya pada Kenrick yang justru terkekeh mendengar pertanyaan Evelyn yang penuh rasa khawatir tersebut.
Kenrick juga merasa senang karena Evelyn yang mengkhawatirkannya.
“Aku baik-baik saja sayang, anggap saja sebagai latihan,” ucap Kenrick dengan senyuman menenangkannya. Evelyn terlihat terdiam lalu menganggukkan kepalanya setuju. Hitung-hitung mencari udara segar dan menenangkan pikiran mereka setelah serangkaian kejadian yang mereka alami belakang ini. Terutama kejadian yang menerima pernikahan mereka.
Setelahnya mereka akhirnya bergegas untuk pergi.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.