
“Nyonya saya dan Nancy akan mencari makanan untuk Nyonya dan teman Anda,” pamit Jessie sambil menundukkan kepalanya pada Evelyn saat hendak pergi.
“Terima kasih Jessie,” ucap Evelyn dengan senyumannya yang dibalas dengan anggukan oleh Evelyn. Setelah nya wanita paruh baya tersebut segera pergi bersama dengan Nancy yang berada di belakangnya dengan setia mengikuti kepala pelayan tersebut.
“Apa dia adalah pelayan di kediaman Tuan Kenrick?” tanya Livi dengan tatapan penasarannya. Sudah sedari tadi ia ingin menanyakannya namun merasa tak enak saat masih ada orang nya di sana.
“Ya, Jessie adalah kepala pelayan sekaligus perawat Kenrick dulu,” ucap Evelyn menjelaskan yang membuat mereka menganggukkan kepalanya mendengar ucapan tersebut.
“Ingin berjalan-jalan?” tawar Ivey dengan senyumannya sambil menaikkan turunkan sebelah alisnya. Ia tahu pasti sahabatnya tersebut merasa bosan jika terus berada di kamar rumah sakit.
“Tentu saja, kau tahu Kenrick terus mengurungku disini bahkan tadi pagi jika kalian datang lebih awal kalian akan melihat banyak pengawal yang berjaga di depan,” tukas Evelyn dengan helaan nafasnya yang terdengar kasar sedangkan kedua sahabatnya memelototkan matanya mendengar ucapan tersebut.
“Benarkan?” tanya Livi menatap Evelyn dengan tatapan seriusnya yang Evelyn balas dengan anggukan.
“Mereka juga tampan,” imbuh Evelyn dengan senyumannya yang semakin membuat kedua sahabat Evelyn itu memelototkan matanya merasa begitu tertarik juga menyesal karena ia malah datang terlambat.
“Harusnya ku datang lebih pagi, ini salahmu karena kau harus ke kantor lebih dulu,” ucap Livi dengan dengusan kasar nya yang kini malah menyalahkan Ivey yang sontak memelototkan matanya mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
“Hey aku bukanlah dirimu yang pengangguran,” ucap Ivey dengan kekesalannya pada Livi yang kini memelototkan matanya.
“Yang benar saja. Aku pengangguran? Kau tak tahu aku pemilik perusahaan itu?” dengus Livi tak terima dengan ucapan sahabatnya itu. Evelyn yang melihat pertengkaran kedua sahabatnya itu menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Berhentilah bertengkar. Jika Jessie datang kita tak akan bisa keluar,” ucap Evelyn dengan kekesalannya yang membuat kedua sahabatnya itu sontak menoleh ke arah Evelyn dengan kompak. Lalu segera membantu sahabatnya itu untuk turun dari ranjang rumah sakit dan mendorong infus nya.
“Kemana kalian akan pergi?” suara tegas tersebut sontak membuat ketiga perempuan yang awalnya sibuk membantu Evelyn menoleh ke arah sumber suara dan kini mereka sudah dihadapkan oleh dua wajah datar laki-laki tampan juga dua pelayan yang kini menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.
“Wah Evelyn, suami mu begitu tampan,” ucap Livi tanpa sadar saat melihat Kenrick yang kini berdiri dengan begitu gagahnya di depan mereka.
“Apa dia seorang titisan dewa?” tanya Ivey yang kini ikut memuji ketampanan laki-laki di depannya.
“Apa kau hidup dengan banyak laki-laki tampan selama ini?” tanya Livi yang kali ini membuat Evelyn memutar bola matanya malas mendengar ucapan kedua sahabatnya tersebut yang masih sempatnya mengagumi Kenrick dalam keadaan seperti ini.
“Apa kalian masih bisa memikirkan laki-laki tampan di saat tertangkap basah seperti akan kabur begini?” tanya Evelyn menyadarkan kedua sahabatnya dari tatapan memujanya pada Kenrick.
“Evelyn kau mau kemana?” tanya Kenrick lagi mengulangi pertanyaannya saat melihat ketiga perempuan di depannya itu yang kini malah tengah berdiskusi.
“Aku hanya ingin jalan-jalan sore,” ucap Evelyn dengan datar pada Kenrick yang kali ini menghembuskan nafasnya kasar mendengar ucapan tersebut.
“Aku akan menemanimu,” ucap Kenrick yang sontak mendapatkan gelengan tegas oleh Evelyn.
“Aku ingin bersama sahabat ku,” tolak Evelyn sambil mengalihkan tatapannya dari Kenrick yang kini menatapnya begitu datar.
“Siapa yang tahu jika kau akan kabur,” ucap Kenrick yang kini membuat Evelyn segera menoleh ke arah Kenrick dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Kau memikirkan hal seperti itu? Yang benar saja. Aku akan kabur pun itu adalah hak ku. Sudah aku katakan aku belum masih memaafkan mu sepenuhnya Kenrick. Jadi jangan bersikap berlebihan atau aku benar-benar tak akan memaafkan mu,” tegas Evelyn panjang lebar, yang lain yang berada di sana hanya diam saja karena tak ingin ikut campur masalah rumah tangga Evelyn dan Kenrick. Bahkan jika bisa mereka ingin pergi saja dari sana agar tidak menjadi penonton.
“Evelyn maaf, sepertinya aku harus pergi,” ucap Ivey juga Livi yang perlahan melepaskan tangannya dari Evelyn juga infus wanita tersebut. Evelyn memutar bola matanya malas.
“Suamimu begitu menyeramkan Evelyn,” ucap Livi yang membuat Ivey menjawabnya dengan anggukan. Kini mereka menatap Evelyn dengan tatapan bersalahnya.
“Bukankah kau kemarin berkata akan menghajarnya?” tanya Evelyn dengan tatapan menantangnya.
“Sepertinya aku harus bertapa dan berguru dulu untuk itu,” ucap Ivey dengan cengirannya yang membuat Evelyn berdecih mendengarnya.
“Pergilah dan hati-hti,” ucap Evelyn yang dibalas dengan anggukan oleh kedua sahabatnya tersebut yang setelahnya segera pergi setelah berpamitan pada semua orang yang berada di sana.
Evelyn akhirnya mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan dan memilih untuk kembali ke ranjang rumah sakit nya.
“Kenapa kalian masih di sana? Lakukan saja pekerjaan kalian,” tugas Evelyn sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Dan kau, mengapa kau sudah pulang? Biasanya kau begitu senang bekerja,” ucap Evelyn sambil menunjuk kedua laki-laki di depannya yang kini hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar pertanyaan Evelyn. Karena yang sebenarnya mereka tidaklah pergi bekerja melainkan mengawasi Evelyn di ruang samping tempat rawat inap Evelyn dengan CCTV yang sudah mereka pasang. Oleh karena itu saat Evelyn akan pergi mereka langsung tiba.
“Aku masih baru di kantor New York. Tentu saja tak banyak pekerjaan,” ucap Kenrick dengan alibina yang dijawab dengan anggukan oleh Sean yang hanya bisa mengikuti atasannya tersebut. Evelyn awalnya memicingkan matanya, menatap mereka dengan tatapan curiganya namun akhirnya ia hanya menjawabnya dengan anggukan. Berusaha untuk mempercayai kedua laki-laki tersebut.
“Besok aku sudah boleh pulang dan aku akan pulang ke apartemen ku,” ucap Evelyn tegas yang sontak membuat Kenrick kini menatap Evelyn dengan bingung.
“Bukankah Apartemen Anda sudah di bakar oleh Tuan Nyonya,” ucap Sean mewakili rasa bingung Kenrick dengan permintaan Evelyn tersebut. Evelyn memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya, ia baru mengingat hal tersebut.
“Tenang saja sayang, aku memiliki mansion di sini. Kita bisa tinggal jika kau ingin,” ucap Kenrick dengan senyumannya yang membuat Evelyn berdecak. Namun akhirnya ia hanya bisa menurut saja. Karena yakin tak akan bisa lepas dari Kenrick. Lagi pula kini ia sudah tak memiliki apapun. Kedua sahabatnya bahkan tak ada yang berani pada Kenrick.
Dan Sean juga sudah menyerahkannya pada Kenrick kembali. Sepertinya memang ia harus terus terjebak pada Kenrick.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Maaf ya cuma bisa up 1 bab untuk hari ini. Karena aku lagi kurang sehat jadi belum bisa untuk nulis.
Kalian jaga kesehatan ya.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.