Mafia's woman

Mafia's woman
Gadis Sean?



Tumpukan dokumen di atas meja membuat laki-laki yang kini berusaha menyelesaikan pekerjaannya di depannya yang sudah siap untuk ditangani. Laki-laki yang tak lain adalah Kenick itu kini begitu serius menyelesaikan satu persatu pekerjaannya. Mulai dari pekerjaan di rumah nya tentang para pelayan juga penjaga, sampai pekerjaan kantor.


Beruntung kini ia sudah menyerahkan pekerjaan di dunia gelapnya pada Sean juga pamannya dan Max. Pekerjaannya kini lumayan berkurang karena itu. Suara pintu dibuka membuat Kenrick menoleh ke arah pintu tersebut. Hingga dapat ia lihat kini Evelyn yang masuk ke ruang kerja nya sambil membawa kopi untuk suaminya itu.


“Masih belum selesai?” tanya Evelyn yang di jawab dengan helaan nafas dan gelengan oleh Kenrick.


Evelyn berjalan dengan senyumannya ke arah Kenrick, lalu meletakkan kopi yang sudah di bawanya ke atas meja kerja Kenrick lalu ia duduk di depan Kenrick. Mengambil salah satu dokumen yang berada di atas meja. Evelyn mengerutkan keningnya saat melihat dokumen tersebut berisi data para pelayan dan pengawal.


“Untuk apa ini Kenrick?” tanya Evelyn mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Kenrick dengan bingung.


Mendengar pertanyaan Evelyn, Kenrick menghela nafasnya kasar lalu membuka kaca mata miliknya dan memijat pangkal hidungnya merasa pusing dengan pekerjaannya yang kini bertambah dua kali lipat karena pengawalnya yang malah mengkhianatinya itu.


“Aku ingin mengecek ulang data pelayan dan pengawal baru. Aku tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi,” ucap Kenrick dengan helaan nafasnya.


Mendengar ucapan laki-laki tersebut Evelyn segera bangun dari posisinya lalu berjalan ke arah Kenrick dengan senyumannya lalu ia segera duduk di pangkuan Kenick. Menatap laki-laki tersebut dengan senyuman lembutnya.


“Maaf karena telah membuatmu khawatir,” ucap Evelyn sambil mengalungkan tangannya di leher Kenrick. Mendengar ucapan wanita nya itu Kenrick tersenyum menenangkan.


“Ini bukan salahmu sayang. Tapi salahku yang tidak bisa selektif dalam memilih pengawal. Pengawal yang tugas nya menjaga kini malah membahayakan mu,” ucap Kenrick dengan tatapan sendunya yang membuat Evelyn menggeleng sambil menangkup wajah laki-laki tersebut dan mencium bibir Kenrick singkat.


“Jangan merasa bersalah karena semua ini bukan salahmu sayang,” ucap Evelyn menenangkan.


Kenrick langsung saja membawa Evelyn ke dalam pelukannya berusaha mencari kenyamanan dan menenangkan dirinya dengan pelukan Evelyn.


“Boleh aku membantu? Aku bisa untuk mengerjakan pekerjaan kantor mu,” ucap Evelyn dengan senyumannya yang dibalas dengan gelengan oleh Kenrick. Sudah bisa Evelyn tebak pasti Kenick tak akan mengizinkannya untuk melakukan pekerjaan apapun.


“Lebih baik kau membantuku di ranjang saja,” ucap Kenrick yang setelahnya malah langsung mengangkat tubuh Evelyn untuk ia bawa masuk ke kamarnya.


Evelyn hanya tertawa sambil melingkarkan tangannya di leher Kenrick. Dan mereka selanjutnya melakukan hal panas di malam yang dingin ini.


***


Suara dentuman musik yang begitu keras dengan lampu yang berganti ganti warna menjadi teman pada dua laki-laki yang kini terus saja memperhatikan target nya dari jauh. Laki-laki tersebut adalah Sean dan Steve yang kini tengah memperhatikan Rudolf yang kini terlihat begitu asik dengan kegiatannya di lantai dansa.


“Ck! Dari awal aku memang sudah ragu jika laki-laki tersebut benar-benar mau bekerja sama dengan mudah dengan kita,” ucap Steve dengan senyuman sinisnya menatap laki-laki yang kini tengah asik menggoda perempuan yang ada di sana.


“Kita selesaikan saja semua dengan baik. Jangan banyak berkomentar,” sarkas Sean yang mulai lelah mendengar ucapan Steve yang tak ada hentinya menggerutu. Steve menghembuskan nafasnya kasar dan mulai fokus dengan target nya lagi.


“Aku akan memesan minuman agar kau tak bosan. Tunggu lah,” ucap Sean pada Steve lalu ia segera berlalu meninggalkan sahabatnya itu. Kini tujuannya adalah bar yang berada di seberang tempat mereka duduk.


Sean mulai memesan minumannya, setelah selesai ia langsung kembali menuju sofa yang tadi ia tempati bersama dengan Steve. Lalu segera meletakkan nya di meja.


“Belum ada pergerakan?” tanya Sean yang di balas dengan gelengan oleh Steve yang kini mulai menuangkan minuman beralkohol di depannya.


“Tunggu saja,” ucap Sean yang kini ikut meminum minuman beralkohol di depannya.


“Apa Tuan tak akan marah jika kita minum di saat tugas?” tanya Steve menaikan sebelah alisnya menatap Steve penuh tanya.


“Kau tenang saja, kau lupa sekarang aku yang mengambil alih semua nya?” tanya Sean dengan seringainya yang membuat Steve kini berdecih mendengar ucapan dari sahabat nya itu sekaligus laki-laki yang kini menjadi atasannya itu.


“Ya ya ya,” ucap Steve sambil memutar bola matanya malas sedangkan Sean kini hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.


Hingga tak lama suara keributan dari klub tersebut membuat Sean menoleh ke arah sumber suara yang terdengar begitu ribut itu. Dan pandangannya langsung terpaku pada gadis yang kini terlihat begitu risih dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki di depannya.


“Maaf Tuan tapi saya hanya pengantar minuman,” ucap gadis tersebut sambil menyingkirkan tangan laki-laki di depannya itu dengan tatapannya yang begitu risih.


“Jangan jual mahal sayang. Aku akan memberikanmu uang lebih,” ucap laki-laki hidung belakang itu dan menarik gadis yang menjadi atensi Sean.


Sean mengepalkan tangannya melihat hal tersebut sambil menatap datar ke arah laki-laki tersebut. Steve yang melihat Rudolf yang sedari tadi mereka awasi akan pergi dengan segera menarik tangan Sean. Namun Sean malah menghempaskan tangan Steve membuat laki-laki tersebut mengerutkan keningnya bingung.


“Ada apa Sean? Kita harus cepat sebelum laki-laki itu lolos,” ucap Steve yang kembali menarik Sean namun Sean kembali menghempaskan tangan Steve yang tentu membuat Steve kesal sendiri melihatnya.


“Kau urus Rudolf. Aku ada urusan lain, nanti aku menyusul,” ucap Sean yang setelahnya langsung pergi sedangkan Steve kini sudah dibuat terbengong dengan Sean.


“Cepat Steve,” kesal Sean saat melihat Steve yang masih saja berada di posisinya tanpa berniat untuk segera pergi.


“Aku akan mengadukan mu pada Tuan,” kesal Steve yang setelahnya langsung pergi untuk menemui Rudolf, Sean sama sekali tidak memedulikan ucapan sahabatnya itu dan tetap berjalan menjauh.


Namun sebelum pergi ia melihat apa yang sebenarnya Sean lakukan. Dan kini saat melihat apa yang Sean lakukan Steve menganga tak percaya jika yang mengganggu tugasnya kali ini adalah seorang perempuan.


“Wah, apa aku melewatkan sesuatu? Sean sudah tak menyukai Nyonya?” tanya Steve dengan tatapan tak percaya nya saat kini sahabatnya itu sudah menjadi objek perhatian atas apa yang dilakukan oleh Sean.


***