
“Cih! kau pikir dia baik? Jika dia adalah orang yang baik. Dia tak mungkin membunuh kakakku!” tegas Kenrick yang berhasil membuat Evelyn terdiam mendengar pengakuan Kenrick tentang alasannya membenci Ronald.
“Apa? Maksudmu...Dia hanya pura-pura baik dan akan membunuhku?” tanya Evelyn berusaha menahan keterkejutannya, bahkan nada suara wanita tersebut kini sudah bergetar. Ucapan Kenrick tersebut benar-benar membuat Evelyn terkejut mendengarnya.
“Apa menurutmu aku akan percaya begitu aja? “ tanya Evelyn berusaha tertawa walau akhirnya yang terdengar adalah tawa hambar yang sarat akan ketakutan. Ia benar-benar tak menyangka jika orang yang Evelyn anggap baik malah justru sebaliknya.
“Sepertinya kau yang brengsek! Kenapa aku harus berbohong?” marah Kenrick karena Evelyn tak mempercayai ucapannya dan seperti mempercayai Ronald. Padahal Kenrick adalah calon suaminya namun Evelyn justru mempercayai orang lain, tentu saja hal tersebut membuat Kenrick merasa kecewa.
“Dia benar-benar membunuh kakakku!” ucap Kenrick dengan sendu saat mengingat tentang kakaknya yang kini sudah berada di sisi Tuhan. Hal tersebut lah yang membuat Kenrick begitu membenci Ronald dan merasa tak akan memaafkan laki-laki tersebut begitu saja.
“Ja-jadi… Kau benar memiliki kakak? Dan dia benar membunuh kakakmu?” tanya Evelyn dengan tatapan penasaran juga takutnya. Kenrick kini mengusap wajah nya gusar. Amarah itu masih saja melingkupinya, tak akan ada ikhlas untuk kehilangannya. Karena dia lah yang melihat bagaimana kakaknya tewas.
“Aku memilikinya sebelum laki-laki bajingan itu membunuhnya. Kau tak tahu bagaimana aku sangat menjaga kakakku.: Tapi dia malah membunuhnya! Dia hanya bajingan tengik yang tak tahu diri! Kalau saja kakakku masih di sini. Aku tidak akan mungkin membencinya,” ucap Kenrick dengan sendu. Terlihat jelas amarah juga kekecewaan yang terlihat jelas di wajah laki-laki tersebut. Tangan Evelyn terulur untuk memeluk Kenrick namun laki-laki tersebut malah menepis nya lalu segera bangkit dari posisinya.
“Dia dulu adalah sahabatku, sebelum akhirnya dia merusak kepercayaan ku. Dan itulah mengapa aku tak ingin kau terlibat dengannya. Aku tak ingin kehilanganmu seperti aku kehilangan kakakku,” ucap Kenrick yang kini tanpa sadar meneteskan air matanya. Evelyn dapat melihat kesungguhan dalam tatapan tersebut. Dapan Evelyn lihat jika Evelyn memang begitu menyayangi kakaknya.
Namun kini Evelyn sadar, jika dia tak tahu banyak tentang laki-laki yang akan menjadi suaminya tersebut. Bahkan sampai sekarang Evelyn belum mengetahui tentang keluarga Kenrick.
“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Evelyn dengan tatapan penasarannya, Evelyn penasaran apa yang dilakukan Ronald pada kakak Kenrick.
“Bajingan itu menghamilinya dan tak mau bertanggung jawab. Kakakku yang depresi memilih mengakhiri hidupnya. Sekarang kau tahu mengapa aku keras padamu?” tanya Kenrick dengan tajam pada Evelyn yang masih saja terdiam di tempatnya. Kenrick mengusap air matanya dengan kesar.
“Kenrick aku….” belum sempat Evelyn menyelesaikan ucapannya Kenrick malah lebih dulu pergi dengan kemarahannya hingga membanting pintu dengan keras. Evelyn memejamkan matanya, cukup terkejut dengan suara pintu yang cukup keras tersebut.
“Aku memang bodoh! Harusnya aku tidak mencampuri urusan mereka. Aku benar bodoh! Bodoh! Bodoh!” ucap Evelyn memaki dirinya sendiri yang malah tak pernah mempercayai Kenrick dan malah semakin melibatkan diri dalam keruhnya masalah yang ia buat sendiri.
Evelyn mengacak rambutnya, menangis, dan terdiam di kamar sambil menangis tersedu memikirkan ucapan Kenrick. Di dalam kamar yang begitu sunyi tersebut, hanya suara dari tangis Evelyn lah yang terdengar begitu menyakitkan.
Hari sudah semakin gelap tapi belum ada tanda-tanda Kenrick akan datang membuat Evelyn begitu khawatir dengan laki-laki itu. Tangisnya kini sudah reda, namun matanya tak bisa dibohongi, mata wanita tersebut begitu sembab karena terlalu lama menangis.
“Apa yang harus aku lakukan? Aku akan mencarinya,” ucap Evelyn meyakinkan dirinya. Tanpa memperdulikan jam yang kini sudah menunjukkan pukul 12.25 AM. Yang Evelyn pikirkan sekarang hanyalah keadaan Kenrick.
Evelyn segera bergegas untuk keluar dan mencari laki-laki itu. Baru saja Evelyn akan turun namun ternyata di depan kamarnya ada Dennis yang berjaga di sana.
“Nyonya kau mau ke mana?” tanya Dennis saat melihat Evelyn yang keluar dari kamarnya. Sedari tadi ia berjaga di depan kamar Evelyn karena Kenrick yang memerintahkannya dan sedari tadi pula ia mendengar tangis wanita tersebut. Bahkan kini Dennis begitu kasihan melihat keadaan Evelyn yang terlihat menyedihkan dengan wajah sebabnya.
“Aku ingin mencari Kenrick,” ucap Evelyn dengan suaranya yang terdengar begitu lemah.
“Lebih baik Anda kembali ke kamar Nyonya. Tuan sedang tak berada di rumah,” ucap Dennis dengan lembut, ia menjadi tak tega untuk bersikap keras dan datar pada Evelyn. Meskipun umurnya baru berada di usia 23 tahun namun laki-laki tersebut begitu begitu dewasa dan baik. Dennis adalah anak dari orang kepercayaan ayah Kenrick dulu hingga membuat Kenrick kini juga mempercayai Dennis.
“Kemana dia pergi?” tanya Evelyn dengan tatapan seriusnya pada Dennis. Evelyn kini semakin di buat khawatir pasalnya Kenrick belum juga pulang padahal hari sudah semakin malam.
Evelyn menggigit jarinya lalu kembali ke kamar untuk mengambil ponsel menghubungi Kenrick. Evelyn mengambil ponselnya mencari nomor Kenrick lalu menelponnya. Namun tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan menjawabnya.
“Kemana laki-laki itu? Hanya tahu membuat khawatir saja,” ucap Evelyn dengan gerutunya.
Evelyn akhirnya menyerah menelepon Kenrick setelah panggilan ke tiga puluh. Evelyn memutuskan untuk menunggu laki-laki itu pulang saja.
***
Di lain tempat kini suara musik yang begitu keras mengalun dengan begitu energiknya membuat para pendengarnya merasa tak tahan jika hanya mengabaikan musik tersebut. Bau alkohol yang begitu menyengat malah membuat penghuninya semakin bersemangat menikmati suasana yang berada di club malam tersebut.
Kenrick kini duduk di salah satu sofa yang berada di sana sambil menikmati minumannya dengan seorang wanita malam yang kini sudah berada di sampingnya menggoda Kenrick dengan memperlihat tubuh indahnya.
“Tuan apa kita hanya diam saja di sini?” tanya wanita tersebut dengan nada menggodanya, bahkan kini wanita tersebut sudah dengan berani duduk di pangkuan Kenrick. Kenrick sama sekali tidak marah dan tetap menikmati minumannya.
“Lakukan saja apa yang membuatmu suka,” ucap Kenrick dengan tegas yang membuat wanita tersebut akhirnya memilih untuk mengalah dan menikmati tubuh atas Kenrick.
Kenrick meletakkan minumannya lalu meminta wanita tersebut untuk segera berdiri membuat wanita tersebut langsung tersenyum senang karena merasa jika Kenrick akan membawanya ke tempat yang lebih privat.
“Kita ke mansion ku saja,” ucap Kenrick yang sebenarnya sudah kehilangan kesadarannya. Wanita tersebut tentu saja senang karena Kenrick akan membawanya menuju kediaman Kenrick. Memangnya siapa yang akan menolak pesona laki-laki tampan dan mapan yang begitu disegani itu?
Bahkan banyak wanita yang rela mengantri hanya untuk Kenrick.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.