Mafia's woman

Mafia's woman
Ketegangan



Evelyn kini tengah membolak balik halaman majala nya dengan bosan. Kenrick kini tengah menonton televisi yang memuat berita dunia bisnis. Evelyn jelas tak tertarik dengan semua itu dan lebih tertarik untuk membaca majalah tentang kehamilan juga tentang bayi. Namun kali ini ia sudah begitu bosan.


“Kenrick, aku sungguh begitu bosan,” ucap Evelyn yang kini sudah menutup majalah nya dan merubah posisi nya yang awalnya rebahan dengan paha Kenrick sebagai bantalannya kini ia menegakkan tubuhnya untuk duduk.


“Kau ingin apa hm?” tanya Kenrick menaikkan sebelah alisnya. Kini Kenrick sudah menap Evelyn dengan bingung.


“Jalan-jalan,” ucap Evelyn dengan wajahnya yang di buat begitu imut. Kenrick bahkan di buat gemas sendiri melihat tingkah istrinya itu.


Dengan gemas Kenrick mengelus puncak kepala Evelyn. Lebih tepat nya membuat rambut istrinya itu berantakan. Bahkan kini Evelyn mengerucutkan bibirnya kesal karena rambutnya yang kini acak-acakan karena ulah suaminya itu.


“Baiklah. Tapi hanya sekitar mansion saja,” ucap Kenrick pada Evelyn dengan wajah seriusnya. Evelyn yang memang hanya bosan berada di kamar akhirnya menganggukkan kepalanya setuju.


Kenrick mengambil mantel hangat untuk Evelyn. Mengingat udara yang kini terasa begitu dingin sebab sedang musim gugur.


Setelah memakaikan mantel hangatnya Kenrick langsung mengajak Evelyn untuk keluar dari kamarnya dan berkeliling mansion. Udara malam yang terasa begitu dingin begitu menusuk kulit yang tak berlapis kain. Namun pemandangan indah saat musim gugur di taman bunga Kenrick begitu memanjakan mata.


Evelyn mengambil bunga yang gugur lalu tersenyum dengan begitu cerahnya saat  melihat indah nya bunga yang kini berada di tangannya.


“Indah kan?” tanya Evelyn sambil mendongak ke atas yang kini banyak sekali bunga yang mulai gugur dari pohonnya.


“Sangat indah,” ucap Kenrick sambil menatap Evelyn dengan begitu dalam. Tatapan yang penuh dengan cinta juga kasih sayang.


Siapa yang dapat mengelak dari kecantikan gadis yang kini terlihat begitu indah diantara bunga yang mulai gugur dengan indahnya itu.


“Jangan seperti bunga di musim gugur ya sayang. Terlihat indah namun membawa luka karena pergi dari pohon yang sudah membantunya menjadi indah,” ucap Kenrick dengan senyuman kecut nya yang membuat Evelyn kini segera berjalan ke arah Kenrick lalu memeluk suaminya itu dengan begitu erat.


“Mereka pergi dari pohon karena memang sudah waktu nya mereka pergi Kenrick. Jika saja bisa, mereka juga tak ingin meninggalkan rumah mereka dan hanya menjadi sampah saat mengering,” jelas Evelyn sambil mengelus punggung Kenrick.


Meskipun kini mereka saling berpelukan dengan penghalang di antara mereka. Perut Evelyn yang begitu besar memang menjadi penghalang di antara mereka saat berpelukan. Namun mereka tentu tak merasa keberatan malah mereka merasa senang akan karunia yang tuhan berikan untuk mereka itu.


“Tetap saja aku tak menginginkannya. Aku ingin kau terus berada di sisi ku,” ucap Kenrick begitu tegas dan tak rela jika suatu saat nanti ia harus kehilangan wanitanya itu.


***


Dapur kini begitu heboh karena Tuannya yang begitu anti menginjakkan kakinya di dapur kini malah sudah berdiri di depan kompor untuk membuat telur mata sapi sebagai sarapan untuk istrinya. Para koki rumahnya kini bahkan menatap waspada Tuannya itu.


“Tuan, biar kami saja yang melakukannya,” uap salah satu koki yang kini menatap Kenrick. Bahkan ia mengatakannya dengan begitu hati-hati, takut jika sampai ia membuat Kenrick marah atas ucapannya itu.


“Tak perlu, kau tunjukkan saja cara melakukannya dan biar aku yang menyelesaikannya,” ucap Kenrick tegas. Dengan hati-hati kini laki-laki tersebut memecahkan telur nya lalu segera meletakkannya di atas wajan yang sudah panas dan di tambahkan minyak di atasnya.


“Tuan, Anda bisa membalik telur nya sekarang, Jika dibiarkan terlalu lama nanti bisa gosong,” ucap Koki yang menemani Kenrick memasak.


“Sudah Tuan, itu sudah matang,” ucap Koki tersebut yang membuat Kenrick mengangguk lalu segera memindahkan masakannya ke atas piring yang sudah tersedia.


Setelah selesai ia segera membuat roti panggang masih dibantu oleh koki yang sedari tadi mengawasinya itu. Kenrrick rasanya tak sabar untuk menunjukkan hasil masakannya pada Evelyn.


“Apa aku tak salah lihat? Seorang Kenrick Osvaldo kini turun tangan langsung untuk memasak di dapur?” suara yang terdengar begitu tak asing itu membuat Kenrick yang tengah menyajikan masakannya di atas piring sontak menoleh ke arah sumber suara.


Senyuman yang awalnya terlihat begitu manis mengembang dengan begitu sempurna di wajah laki-laki tersebut kini sontak menajam dengan wajah datarnya. Perubahan ekspresi yang begitu mendadak itu tentu membuat bawahannya sontak menundukkan kepalanya dan mulai menyelesaikan pekerjaannya sendiri tanpa mau untuk mengganggu Kenrick dengan urusannya.


“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Kenrick dengan begitu tajamnya.


Kebencian dan amarahnya kini begitu terlihat jelas yang ia ciptakan untuk lawan bicaranya. Namun pada akhirnya laki-laki tersebut berusaha untuk mengontrol amarahnya sendiri dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya. Walau sebenarnya ia ingin sekali untuk terus menatap tajam ataupun mengusir laki-laki di depannya itu.


Namun sebagai sepupu yang baik ia berusaha untuk menetralkan dirinya sendiri. Ya, yang kini berdiri di depannya itu adalah sepupu yang menjadi musuhnya sendiri, Ronald. Laki-laki itu lah yang kini datang begitu pagi untuk mengacaukan mood Kenrick.


“Aku hanya ingin mengobrol dengan mu,” ucap Ronald nya yang kini menampilkan senyumnya.


Melihat laki-laki itu yang tersenyum, justru kini Kenrick dibuat kebingungan dengan tingkahnya itu. Kerutan di keningnya terlihat begitu jelas. Namun ia berusaha untuk mengontrolnya dan menciptakan sebuah senyuman sinis.


“Apa kita sedekat itu? Aku rasa tidak,” sinis Kenrick yang kini beralih menuju meja makan untuk meletakkan sarapan yang sudah ia buat untuk istrinya itu di sana.


Ronald masih saja mengikuti Kenrick untuk segera keluar dari dapur dan menuju ruang makan. Kenrick sama sekali tidak peduli meskipun ada sedikit rasa penasaran tentang apa yang kini laki-laki itu inginkan hingga kini ia berada di rumah Kenrick.


“Bukankah kita dulu begitu dekat?” tanya Ronaldo yang kini duduk di sebelah kanan Kenrick yang sudah duduk di kepala meja dengan menautkan tangannya dan menatap Ronald dengan begitu datar nya.


“Enyah lah. Di sana tempat istri ku,” sinis Kenrick yang membuat Ronald berdecih mendengarnya namun tak urung kini ia tetap saja pindah posisi menjadi di sebelah kiri Kenrick.


“Enyah lah. Di sana tempat duduk Sean,” ketus Kenrick yang benar-benar begitu menguji kesabaran Ronald. Ronald menghembuskan nafasnya kasar dan segera berpindah posisi di seberang Kenrick. Duduk begitu jauh dari kakak sepupunya itu.


“Tidak ada yang memiliki tempat ini kan?” tanya Ronald dengan senyumannya yang membuat Kenrick memutar bola matanya malas mendengar ucapan Ronald.


“Tempat itu milik setan penunggu rumah ku,” ucap Kenrick sinis yang kini berhasil membuat Ronald melongo mendengar ucapan Kenrick.


“Sangat kekanakan,” sinis Ronald begitu kesal yang kini hanya membuat Kenrick menatap datar pada sepupunya itu. Mereka kini malah saling menatap satu sama lain dengan tatapan saling menilai dan begitu tajam milik mereka.


Para pelayan pun rasanya merasa enggan berada dalam atmosfer yang begitu menyesakkan itu. Namun tugas mereka adalah melayani Tuannya. Jadi mau tak mau kini mereka tetap berada disana. Jika saja bisa pergi mungkin sudah sedari tadi mereka pergi dari sana.


***