
Malam ini adalah pesta lajang yang sengaja diadakan atas saran dari Evelyn. Dan mulai tadi pagi juga Evelyn tidak bertemu dengan Kenrick. Kenrick kini tengah berada di gedung selatan bagian atas bersama dengan sahabatnya juga kedua bawahannya yang begitu setia. Steve juga Sean.
“Saat pernikahan pertama mu aku sudah menyarankan pesta ini tapi kau malah menolak nya, lalu sekarang apa yang terjadi hingga kau mengadakan pesta lajang ini?” tanya Xavier dengan menaikkan sebelah alisnya penasaran.
Xavier masih begitu mengingatnya, bagaimana saat itu Xavier memaksa Kenrick untuk mengadakan malam pesta lajang. Namun Kenrick dengan tegas malah langsung menolaknya begitu saja dan malah bermalam bersama dengan Evelyn daripada berkumpul bersama dengan teman-temannya.
“Tentu saja karena Nyonya yang memintanya, apa kau pikir Tuan akan menolak nya jika Nyonya yang meminta?” tanya dan jelas Sean dengan begitu santainya sambil meminum minuman beralkohol yang berada di depannya.
“Sean, kau sungguh tak memiliki sopan santun. Aku ini sahabat bos mu,” ucap Xavier yang selalu kesal dengan Sean yang tidak ada sopan sopannya dengan laki-laki itu.
“Kau berharap Sean melakukanya? Bahkan terkadang dengan Tuan Kenrick saja dia bisa tidak sopan,” ucap Dennis sambil menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana Sean dan segera sikap tidak sopannya.
Kenrick hanya memelotot mendengar ucapan para bawahannya itu yang kini sama-sama tidak ada sopannya. Steve yang bahkan selalu bicara sopan padanya kini bisa berbicara santai padanya.
“Kau sama saja Steve,” ucap Xavier dengan menggelengkan kepalanya.
“Kau juga bukan Tuan ku,” jawab Steve dan Sean kompok yang membuat Xavier memelototkan matanya mendengar jawaban dari bawahan sahabatnya itu. Yaron yang mendengar nya langsung meledakkan tawanya sedangkan Kenrick kini hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari kedua bawahannya itu.
“Kalian hanya datang untuk bertengkar? Sudah lah lebih baik kita nikmati waktu itu untuk bersantai,” ucap Yaron menengahi pertengkaran tersebut sambil menuangkan minuman beralkohol pada gelas para laki-laki yang berada di sana.
“Kenrick hilangkan wajah sedihmu itu. Hanya satu malam saja kau sudah seperti tidak mendapat jatah satu tahun. Kau bisa mendapatkannya besok kawan,” ucap Yaron sambil menepuk pundak Kenrick saat melihat wajah sahabatnya yang tak bersahabat itu.
“Diam lah, tuang saja minumannya,” ucap Kenrick dengan begitu kesalnya pada sahabatnya itu yang malah hanya terkekeh mendengar ucapan
“Baik-baik lah,” ucap Yaron yang kembali menuangkan minuman beralkohol untuk gelas sahabatnya yang sudah kosong.
Mereka lalu saling menjulurkan gelas mereka dan saling menyentuh gelas satu sama lain dengan gelas nya untuk melakukan cheers.
“Sean, Steve kalian tak boleh mabuk. Ingat lah besok kalian harus berjaga. Jika sampai terjadi sesuatu. Kalian yang akan aku bunuh,” tegas Kenrick penuh dengan ancaman yang membuat dua bawahan Kenrick itu dengan kompak meletakkan kembali gelas berisi alkohol yang masih utuh tersebut dan mengambil jus sebagai penggantinya.
“Kau terlalu keras Kenrick,” ucao Yaron sambil menggelengkan kepalanya, walau ia tahu sahabatnya itu melakukannya juga demi kebaikan mereka agar tidak ada lagi keteledoran dan serangan kembali dalam pesta pernikahannya.
“Tidak masalah, ini sudah tugas kita. Kita bisa minum saat selesai acara nanti,” ucap Sean dengan begitu santainya yang dijawab dengan anggukan oleh Steve.
“Lakukan lah pesta jika pernikahan ini lancar,” ucap Kenrick yang sontak membuat Steve berseru sedangkan Sean hanya tersenyum dengan begitu santainya.
“Kau yang terbaik Tuan,” ucap Steve sambil mengulurkan gelas berisi jus nya yang membuat mereka langsung
Mereka kembali melanjutkan pesta tersebut dengan banyak canda juga cerita. Sean yang pendiam pun juga ikut larut dalam cerita tersebut.
***
Awal nya wanita paruh baya itu sudah menolaknya namun Evelyn malah memaksa pelayan nya ikut dalam pesta mereka agar semakin ramai.
“Kira-kira apa yang kini dilakukan oleh para laki-laki itu?” tanya Livi dengan senyuman misteriusnya. Isi kepalanya kini tengah menebak - nebak tentang kegiatan pada laki-laki yang juga tengah melakukan pesta lajang.
“Aku berpikir sekarang Tuan sedang kalang kabut karena tak bisa menemui Nyonya,” ucap Vera dengan senyumannya yang dijawab dengan anggukan setuju oleh perempuan yang lainnya lalu mereka meledakkan tawanya.
“Tuan memang begitu mudah diu tebak,” ucap Jessie yang merupakan ibu asuh Kenrick. Mereka kini saling tertawa memikirkan ekspresi Kenrick saat ini. Laki-laki yang tak bisa jauh dari Evelyn itu pasti lah kini tengah uring-uringan.
“Tuan Sean pasti tengah bertengkar dengan salah satu sahabat Tuan Kenrick,” ucap Nancy yang mendapatkan anggukan dari pelayan lain sedangkan ketiga wanita yang tak mengetahui hal tersebut menaikkan sebelah alisnya penasaran.
“Benarkah? Sean bisa melakukannya?” tanya Evelyn dengan tatapan tidak percayanya yang dijawab dengan anggukan kompak dari keempat pelayan tersebut yang memang sudah mengetahui bagaimana perangai Sean juga kedua sahabat bosnya itu.
“Mereka memang suka bertengkar hanya karena sikap tidak sopan tuan Sean pada sahabat Tuan Kenrick.” ucap Jessie menjelaskan yang sontak membuat mereka tertawa mendengar ucapan dari Jessie.
“Aku tak tahu Sean bisa bersikap begitu,” ucap Evelyn dengan tawanya.
“Dan Tuan Steve aku bisa menebak kini tengah menampilkan kepolosannya,” ucap Fira yang sontak membuat mereka tertawa jika memikirkan bagaimana Steve yang bisa berubah sikap dari datar menjadi begitu polos.
Rasanya kini mereka benar-benar seperti keluarga, setelah bersama selama beberapa tahun mereka bagai mengenal sikap satu sama lain dengan baik.
“Aku benar-benar penasaran,” ucap Ivey yang memang belum mengenal sikap mereka satu persatu namun dari yang diceritakan empat pelayan tersebut seperti nya mereka begitu asik saat di kenal lebih dalam lagi.
“Sudah aku katakan, jika kau mengenalnya kau akan merasa terhibur dengan mereka dan merasakan kebaikan mereka,” puji Evelyn sambil memakan kuaci yang sudah disediakan di sana.
Malam terus berlanjut dengan mereka yang saling bercerita dan bercanda bersama. Evelyn benar-benar memanfaatkan malamnya untuk bersama dengan teman-temannya. Ia masih tak menyangka semua ini akan menjadi indah pada waktunya.
“Sudah lah, ini sudah malam. Lebih baik kita tidur agar tidak meninggalkan lingkaran hitam di bawah mata, besok. Kita tak akan cantik jika itu terjadi,” ucap Ivey menyarankannya yang di jawab dengan anggukan oleh semua orang yang berada di sana.
Hingga malam itu mereka tidur di kamar Evelyn. Tak ada canggung. Meskipun Evelyn atasan mereka namun pelayan Evelyn merasa nyaman dengan Evelyn yang begitu baik dan menganggap mereka sebagai keluarga dan bukanlah pelayan.
***