
Evelyn menatap pantulan dirinya di cermin membenarkan make up-nya setelah selesai membuang air kecil. Sejak kehamilannya, Evelyn memang lebih sering ke kamar mandi untuk buang air kecil. Efek kehamilan nya memang memang nya sering sekali harus bolak balik ke kamar mandi. Mengingat kini usia kehamilannya yang sudah memasuki usia empat bulan.
Jika saja kini Evelyn tidak menggunakan gaun yang mengembang di bagian perut nya mungkin kini semua orang tahu jika Evelyn hamil. Karena bisa dilihat dengan jelas perutnya yang kini sudah mengembang namun gadis itu menutupinya dengan baik.
“Aku tak menyangka Kenrick akan benar-benar menikahi ****** sepertimu,” ucapan tiba-tiba dari wanita yang baru saja memasuki bilik kamar mandi membuat Evelyn menoleh ke arah sumber suara yang ternyata dari Sellyn. Evelyn menatap Sellyn dengan pandangan meremehkan.
Sebenarnya ia sudah muak untuk berhadapan dengan wanita tersebut hanya saja sepertinya kali ini ia tak bisa untuk menghindar dari wanita itu.
"Sudah aku katakan bukan sebelumnya,” ucap Evelyn yang tampak acuh tak acuh sambil mencuci tangannya setelah keluar dari kamar mandi.
“Entah apa yang sebenarnya menarik darimu. Hingga Kenrick bisa begitu mencintaimu dan mau menikahimu,” senyuman sinis jelas tercetak di wajah wanita licik itu saat mengatakannya, seolah kini ia tengah meremehkan Evelyn.
"Haha kau pasti iri! Karena aku akan jadi istri dan ibu yang baik sedangkan kau kan hanya ******!” sini Evelyn yang jelas tidak ingin jika terus disudutkan maka jalan yang tepat adalah melawan wanita ular tersebut.
“Untuk apa iri pada wanita sepertimu? Aku adalah orang pertama yang tidur bersama Kenrick. Harusnya aku yang berada di sisinya.” Sellyn tersenyum dengan begitu mengejek memberitahu Evelyn jika dia lah yang pertama kali mengambil keperjakaan Kenrick. Wanita itu memang begitu percaya diri, dan Evelyn mengagumi tingkah percaya diri wanita itu yang begitu besar.
"Kau yakin? Dari mana kau bisa tahu? Bukankah laki-laki tak berbekas, berbeda dengan perempuan.” Evelyn benar-benar tak mau mengalah kali ini. Emosinya benar-benar tersulut atas ucapan dari wanita itu yang begitu bangga memamerkan apa yang ia dapat dari Kenrick.
“Dia memberitahuku.” Sellyn tersenyum dengan senyuman bangganya dan terlihat begitu mengejek bagi Evelyn. Untuk kali ini ia benar-benar merasa kesal dengan Kenrick setelah mendengar apa yang Sellyn jelaskan. Padahal dari awal ia sudah tahu jika Kenrick memang bukan orang alim yang menjaga kesuciannya seperti Evelyn yang menjaga kesuciannya.
Laki-laki itu sering melakukan hubungan satu malam tanpa cinta di dalamnya dan hanya melakukannya karena nafsu. Namun mengingat semua itu dan apa yang baru saja Sellyn katakan membuat Evelyn jadi merasa kesal.
"Kau percaya ucapannya? Jika ucapannya bisa dipercaya harusnya kini ia menikahimu bukan aku. Kau lihatlah kaca di depanmu begitu besar. Ah tapi cantik tak menjamin seseorang baik. Cantik tidak menjamin seseorang memiliki hati yang baik.” Evelyn menepuk pundak Sellyn sambil tersenyum sinis ke arah wanita itu. Tatapan menghina yang Evelyn tunjukkan pada Sellyn terlihat begitu jelas dan mampu membuat Sellyn mengepalkan tangannya marah.
Tentu ia begitu merasa terlihat dengan apa yang dikatakan oleh Evelyn.
"Perbaiki sikapmu. Aku yakin kau akan mendapatkan laki-laki yang baik,” lanjut Evelyn dengan senyumannya.
Setelah mengatakan hal tersebut Evelyn langsung keluar dari kamar mandi untuk mencari Kenrick.
Saat sampai pada laki-laki itu Evelyn masih saja menampilkan wajah datarnya. Hormon kehamilannya memang begitu membuat wanita tersebut tidak stabil pada moodnya.
Bahkan hanya karena ucapan Sellyn bisa begitu mempengaruhi moodnya. Evelyn menghembuskan nafasnya berusaha untuk mengendalikan dirinya dan berusaha untuk menghilangkan ucapan Sellyn yang terus berputar di kepalanya.
“Kau harus berhenti memikirkannya Evelyn,” tegas Evelyn pada dirinya sendiri. Kenrick yang melihat tingkah aneh Evelyn dari kejauhan menaikkan sebelah alisnya bingung. Namun setelah melihat senyuman Evelyn akhirnya ia hanya bisa untuk ikut tersenyum.
***
Setelah acara selesai, Kenrick langsung mengajak Evelyn pulang untuk istirahat. Kini laki-laki itu tengah membersihkan tubuhnya sedangkan Evelyn kini tengah berdiri di depan kaca untuk melihat perutnya yang sudah membesar.
"Mommy tidak sabar menanti kehadiranmu,” ucap Evelyn yang kini terus mengelus perutnya hingga tak sadar ternyata Kenrick sudah berdiri di belakang wanita yang kini sudah berstatus resmi menjadi istrinya itu memeluk Evelyn dengan erat.
“Kau sedang apa hm?” tanya Kenrick dengan senyumnya yang kini sudah menumpukan kepalanya pada pundak Evelyn.
“Baik-baik di dalam sana Sayang. Dad dan Mom sudah menunggumu.” Kenrick mengelus perut istriya sayang membuat Evelyn tersenyum lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Kenrick.
“Kau menginginkan sesuatu Sayang?” tanya Kenrick menaikkan sebelah alisnya bingung. Kini Kenrick menangkup kedua pipi Evelyn sayang.
"Aku ingin jus peach dengan mentega.” ucap Evelyn yang mengapa tiba-tiba menginginkan buah tersebut.
Mendengar permintaan Evelyn membuat Kenrick melongo. Bagaimana rasa buah tersebut jika dicampur mentega?
“Apa kau tak ingin yang lain?” tanya Kenrick yang berusaha untuk membuat penawaran pada Evelyn.
"Mengapa? Kau tak ingin memberikannya? Kau tidak mau memenuhi istri uang tengah mengidam? Sudah tidak mencintaiku lagi? Atau kau tak suka anakmu menginginkan sesuatu?” tanya Evelyn yang kini sudah membrondiongi Kenrick dengan banyak pertanyaan yang begitu asal-asalan ia tanyakan karena semua pertanyaan Evelyn begitu tak berbobot bagi Kenrick. Bagaimana bisa istrinya itu membuat pertanyaan tersebut di kepalanya.
“Bukan tidak mau. Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu? Aku sangat mencintai kalian. Hanya saja aku takut terjadi sesuatu padamu karena meminum minuman tidak sehat itu,” ucap Kenrick menjelaskan pada Evelyn. Berusaha untuk membuat Evelyn mengerti.
Evelyn yang mendengarnya malah memutar bola matanya malas dan tidak percaya dengan ucapan Kenrick.
"Kau memang sangat pintar mencari alasan. Kau pasti merasa direpotkan, bukan? Aku bahkan hanya meminta jus buah bagaimana dapat dikatakan minuman tidak sehat?” tanya Evelyn pada Kenrick dengan tatapan marahnya. Kini wanita tersebut bahkan sudah menghempaskan tangan Kenrick yang berada di wajahnya.
“Aku tidak mencari alasan dan aku tidak merasa direpotkan. Kau memang meminta jus buah namun kau akan mencampurnya dengan mentega, Sayang.” Kenrick mengelus dengan tatapan gusarnya. Begitu bingung harus mengatakan apa pada wanita itu agar Evelyn mengerti.
"Aku tidak mau tahu! Aku menginginkannya! Kau ingin anakmu terus mengeluarkan air liur?” tanya Evelyn dengan tatapan menentangnya. mendengar ucapan Evelyn kni mata Kenrick langsung melotot. Tepatnya saat mendengar ucapanmu Evelyn di akhir kalimatnya.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Kenrick dengan tatapan bingung juga terkejutnya.
"Kau tak tahu jika kau tak menuruti permintaan anakmu ini. Nanti anakmu terus mengeluarkan air liur.” Evelyn menjelaskan apa yang ia maksud. Kenrick yang tak pernah mendengar itu tentu saja dibuat terkejut. Sepertinya setelah ini ia harus lebih mengetahui tentang ibu hamil. Ternyata ada yang ia lewatkan hingga ia tak menetahuinya.
“Ck! Baiklah aku akan memenuhinya. Aku akan mencarikan buah peach untukmu,” puitis Kenrick yang akhirnya memilih mengalah karena tak mau jika anaknya nanti terus mengeluarkan air liur selain itu juga karena melihat mata Evelyn yang sudah siap menumpahkan airnya akhirnya laki-laki itu setuju. Evelyn tersenyum mendengarnya dengan mata yang berbinar.
"Aku mencintaimu Kenrick.” Evelyn langsung memeluk Kenrick dengan erat. Setelahnya Evelyn segera melepaskannya lalu memberikan kecupan singkat di bibir laki-laki itu
“Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Jika membutuhkan sesuatu yang lain katakan saja,” pesan Kenrick.
Evelyn mengangguk setelahnya, Kenrick terlebih dulu menggunakan pakaian dan langsung pergi. Laki-laki itu sengaja tidak meminta anak buahnya yang membeli karena ia ingin melakukan sendiri semua kebutuhan istri juga anaknya. Tak lama berselang Kenrick sudah kembali tapi Evelyn malah sudah terlelap.
“Dasar!” Kenrick hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihatnya.
***