Mafia's woman

Mafia's woman
Ronald



Sinar mentari pagi menyeruak masuk ke celah kamar melalui jendela kaca besar yang berada di kamar sepasang kekasih yang akan segera berubah status menjadi sepasang suami istri tersebut. Evelyn menggeliat dalam tidurnya, hingga ia dapat merasakan tangan besar yang kini berada di perutnya.


Evelyn membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah Kenrick yang kini masih tertidur dengan pulas. Seulas senyum mengembang dengan begitu indah di wajah wanita tersebut, menatap lama pada wajah tampan di depannya.


“Kau memang sangat tampan,” gumam Evelyn sambil tersenyum mengamati wajah laki-laki di hadapannya tersebut dengan tangannya yang tak tinggal diam menjelajahi wajah tampan laki-laki itu.


“Kau sedang mengagumiku hm?” tanya Kenrick tanpa membuka matanya. Mendengar ucapan Kenrick sontak membuat Evelyn menjauhkan tangannya dari laki-laki tersebut. Kenrick berhasil membuat Evelyn gelagapan hanya karena ucapan laki-laki tersebut.


“Kenapa...Apa aku tak boleh mengagumimu?” tanya Evelyn yang berusaha untuk mengontrol kegugupannya.


“Tentu saja boleh. Kau memang harus mengagumi wajah tampan calon suamimu ini,” ucap Kenrick dengan begitu percaya dirinya, Kenrick kini sudah membuka matanya dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Evelyn yang kini tengah menahan tawanya saat mendengar pengakuan Kenrick. Namun tak lama tawa wanita tersebut akhirnya lepas juga.


“Tingkah percaya dirimu memang tinggi,” ucap Evelyn dengan tawanya yang masih saja terdengar.


“Tentu saja. Karena nyatanya aku memang tampan dan mapan,” ucap Kenrick yang tak sedikitpun luntur rasa percaya diri laki-laki tersebut.


“Padahal aku hanya sedang mengamatimu,” ucap Evelyn yang sudah menghentikan tawanya. Tentu saja ucapannya tersebut hanya alibi untuk menutupi rasa malunya.


“Apakah berbeda antara mengamati dan mengagumi?” tanya Kenrick menaik turunkan alisnya menggoda wanitanya tersebut yang kini menatapnya dengan tatapan menantang.


“Tentu saja berbeda. Aku hanya mengamati bagaimana bisa kau memiliki hidung yang begitu mancung,” sarkas Evelyn yang kini berbalik membuat Kenrick tertawa mendengar pengakuan wanitanya tersebut yang jelas mengakui jika ia mengagumi hidung mancung laki-laki tersebut yang sudah seperti perosotan anak TK.


“Bukankah itu mengagumi, Sayang?” goda Kenrick dengan tawanya.


“Ck! Tidak Kenrick. Itu hanya pertanyaan dari hasil pengamatanku,” tegas Evelyn tak mau kalah. Tentu ia tak ingin jika Kenrick mengetahui jika Evelyn tengah mengaguminya, bisa semakin percaya diri laki-laki itu.


“Baiklah, terserah padamu saja,” ucap Kenrick yang akhirnya memilih mengalah.


Kenrick mendekatkan dirinya lalu memeluk tubuh Evelyn. Namun wanita tersebut malah mendorongnya karena merasa tidak nyaman dengan tubuh mereka yang kini sama-sama tanpa sehelai benang pun.


“Menjauhlah Kenrick, cepet bersihkan tubuhmu. Kau harus pergi ke kantor,” usir Evelyn pada Kenrick. Namun bukan Kenrick namanya jika ia akan menyerah begitu saja. Kini laki-laki tersebut tetap saja mendekat ke arah wanitanya tersebut untuk memeluknya.


“Biarkan aku tidur sebentar lagi, Sayang,” gumam Kenrick yang kini sudah menelusupkan wajahnya di ceruk leher Evelyn, memeluk wanitanya tersebut dengan paksa seolah mencari kenyaman dalam pelukan tersebut.


“Tidak, kau harus bekerja,” tolak Evelyn yang masih berusaha melepaskan pelukan mereka.


“Aku adalah bos kau tahu,” tegas Kenrick yang membuat Evelyn menghela nafasnya kasar mendengar ucapan laki-laki tersebut. Pelukan Kenrick yang semakin erat pada akhirnya membuat Evelyn mengalah dan membiarkan laki-laki tersebut untuk memeluknya sebentar saja.,


“Ya, dan kau tak boleh semena-mena hanya karena kau bos,” tegas Evelyn sambil mengelus rambut Kenrick yang begitu lebat. Meskipun pernikahan mereka hanya tinggal dua hari lagi namun Kenrick masih saja masuk bekerja karena laki-laki tersebut tidak bisa untuk libur terlalu lama sedangkan Kenrick sudah merencanakan bulan madu setelah mereka menikah.


“Cepat berkemas!” perintah Evelyn pada Kenrick sambil menjauhkan tubuh mereka. Kenrick menghembuskan nafasnya kasar.


“Baiklah,” jawab Kenrick yang akhirnya memilih untuk mengalah dan menuruti keinginan Evelyn yang memintanya untuk membersihkan tubuh. Evelyn mengalihkan penglihatannya dari Kenrick kala laki-laki itu bangun, malu melihat tubuh polos Kenrick.


“Apa kau tak ingin mandi bersamaku?” tanya Kenrick dengan tatapan menggodanya pada Evelyn.


“Kenrick! Cepatlah!” tegas Evelyn yang malah membuat Kenrick terkekeh dan akhirnya segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah Kenrick membersihkan tubuh barulah Evelyn memilih untuk membersihkan tubuhnya juga.


“Sayang aku menunggumu di ruang makan,” teriak Kenrick memberitahu Evelyn yang kini masih di dalam kamar mandi.


“Baiklah,” jawab Evelyn.


***


Setelah selesai sarapan Kenrick segera berangkat ke kantor hingga kini tak ada yang dapat Evelyn lakukan selain bersantai di taman belakang.


“Aku harus memikirkan cara untuk membantu Kenrick,” monolog Evelyn yang pikirannya kini terus terarah pada laki-laki tersebut, bagaimana Kenrick yang terlihat begitu lelah saat pulang dari kantor. Saat Evelyn sedang sibuk memikirkan cara untuk membantu Kenrick, Evelyn melihat Sean yang datang dengan banyak pengawal.


“Saya juga tidak tahu Nyonya,” ucap Jessie seadanya. Evelyn mendengus kasar, ia tahu Jessie tak akan dengan mudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka selalu menutupi apapun dari Evelyn. Evelyn akhirnya memilih untuk menghampiri Sean untuk menanyakan apa yang terjadi.


“Ada apa ini Paul?” tanya Evelyn saat sudah berada di hadapan laki-laki tersebut yang terlihat begitu serius mengatur para bodyguard barunya.


“Hanya penambahan bodyguard saja,” ucap Paul dengan alibinya. Sebenarnya sia-sia saja menanyakannya pada Sean karena jelas mereka adalah bawahan Kenrick dan Kenrick memang selalu menutupi apapun darinya. Ia mengerti Kenrick melakukannya karena tak ingin membuat Evelyn khawatir namun justru jika seperti ini malah membuat Evelyn semakin khawatir.


“Jujurlah padaku Paul!” tegas Evelyn. Ia sudah lelah menjadi orang bodoh. Semua orang menganggapnya lemah padahal ia tak selemah itu. Evelyn hanya ingin berbagi beban dengan Kenrick namun nyatanya sampai saat ini laki-laki tersebut seperti tak mempercayainya.


“Sudah aku katakan Nyonya,” ucap Paul yang masih kekeh menyembunyikan apa yang sebenarnya tersebut.


“Nyonya, bukankah saya sebelumnya sudah mengatakan jika Tuan akan menambah banyak bodyguard juga pelayan baru?” tanya Jessie pada Evelyn. Wanita tersebut begitu kompak ikut menipunya dan membantu Sean.


“Apa Ronald akan menyerang?” tanya Evelyn yang tak bisa lagi bungkam jika ia tak mengetahui apapun karena nyatanya ia sudah mengetahuinya.


Pertanyaan Evelyn itu sukses membuat Paul juga Jessie terkejut karena Evelyn mengetahui apa yang tengah terjadi.


“Apa yang Anda bicarakan Nyonya?” tanya Sean yang masih saja menyembunyikan fakta dari Evelyn. Evelyn yang mendengarnya tersenyum dengan sinis. Sebelah alisnya ia naikkan lalu menatap serius pada Sean.


“Maxi memberitahuku tentang masalah Ronald,” ucap Evelyn tegas. Sean menghela nafasnya karena merasa percuma saja menyembunyikannya dari Evelyn yang ternyata sudah mengetahui apa yang terjadi.


“Saya rasa Anda tak perlu ikut campur dan menciptakan masalah baru,” tegas Sean yang malah membuat Evelyn berdecih mendengarnya.


“Cih…Kau sama saja seperti Max. Hanya bisa menyalahkanku,” ucap Evelyn yang tak terima jika ia kembali disalahkan. Ia tahu jika ia salah karena sudah percaya pada Ronald namun semua ini tak sepenuhnya kesalahannya. Ia hanya ingin terbebas, apakah itu salah? Memangnya siapa yang mau di penjara begitu saja?


“Jangan membuat masalah jika tak ingin disalahkan,” sinis Sean pada Evelyn yang kini sudah tersenyum sinis pada Sean yang hanya menatapnya datar.


“Lihatlah kau memang seperti Maxi. Kau membenciku juga bukan? Hanya Dennis lah yang bersikap baik padaku,” ucap Evelyn dengan memelas.


“Nyonya jangan bertingkah kekanakan,” sarkas Sean yang lelah dengan sikap Evelyn yang begitu kekanakan, bahkan kini wanita tersebut sudah membandingkannya.


“Mengapa aku tak boleh mengambil tindakan Paul? Siapa yang tahu masalah ini akan selesai dengan caraku,” tegas Evelyn menatap Sean dengan penuh harap, berharap laki-laki tersebut akan membantunya. Namun sepertinya ia salah, karena berharap pada orang seperti Sean.


“Jika masalah ini semakin berlarut dengan caramu. Kau akan mempertanggung jawabkannya lagi? Semua akan terus berulang. Diam, dan jangan lakukan apapun,” tegas Sean yang terdengar begitu seperti celaan bagi Evelyn, dengan tatapan laki-laki tersebut yang seolah menghunus Evelyn. Merasa kesal dengan laki-laki tersebut Evelyn memutuskan untuk segera berlalu dari sana yang dengan kemarahannya yang segera diikuti oleh Jessie yang memang begitu setia mengikuti Evelyn, namun juga begitu setia menutupi semua hal darinya demi Kenrick.


Evelyn jadi berpikir Jessie ini sebenarnya pendukung siapa. Namun jelas saja jawabannya adalah pengikut Kenrick mengingat laki-laki tersebut lah yang membayar nya.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita teman aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.