
Evelyn kini tengah berada disamping kebun buah di rumah Kenrick sambil menikmati buah yang baru saja ia petik sendiri. Kini ia ditemani oleh keempat pelayannya juga Steve dan Sean yang juga menemaninya.
“Apa kalian tidak bekerja?” tanya Evelyn pada kedua laki-laki yang kini tengah duduk di depannya.
“Tentu saja aku tengah bekerja, bukankah tugas ku kali ini menemanimu?” tanya Steve dengan senyumannya yang membuat Evelyn hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan laki-laki tersebut.
“Dan kau?” tanya Evelyn menatap Sean karena yang ia tahu kini Sean begitu sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Mengingat laki-laki itu sekarang tak hanya menjadi asisten Kenrick namun juga memegang kendali pada dunia malam yang sempat Kenrick pegang.
“Aku sedang bekerja,” ucap Sean sambil menunjukkan iPad yang di pegang nya yang saat ini memperlihatkan berbagai dokumen yang berada di sana.
“Bekerjalah di ruangan mu Sean, atau kau bisa pergi ke kantor,” ucap Evelyn memberikan saran pada laki-laki tersebut yang kini masih saja sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Pantas saja sedari tadi Sean hanya sibuk dengan iPad nya sendiri. Berbeda dengan Steve juga Evelyn yang kini tengah bermain kartu sambil memakan buah yang mereka petik. Steve kini terlihat begitu serius dengan kartu nya sambil memakan buah ceri yang berada di atas meja.
“Aku diperintahkan untuk menjaga mu Eve. Lanjutkan saja permainanmu, jangan pedulikan aku,” ucap Sean yang kini mengambil jus di atas meja dan mulai menyesap nya.
Evelyn hanya bisa memutar bola matanya malas dan kembali melanjutkan permainan nya . Dan sesuai yang Sean katakan ia sama sekali tidak memperdulikan keberadaan laki-laki itu.
“Apa sudah ada pergerakan?” tanya Evelyn pada Steve yang kali ini hanya menggelengkan kepalanya.
Evelyn menghembuskan nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya. Apa rencananya kali ini salah hingga membuat pelakunya semakin waspada dan tak melakukan apapun? Sepertinya kali ini ia harus memikirkan rencana baru untuk menangkap pelaku.
“Sean kau memiliki saran?” tanya Evelyn sambil memakan ceri nya dan menatap Sean dengan tatapan seriusnya yang penuh tanya.
“Serahkan saja pada ku. Kau tangah hamil jadi fokus saja dengan kehamilan mu,” ucap Sean yang masih serius dengan pekerjaannya sendiri. Evelyn yang mendengarnya hanya bisa berdecak kesal lalu meletakkan semua kartu nya di atas meja.
Rasanya kini ia kehilangan minat untuk kembali bermain. Rasanya kini ia ingin kembali ke kamar nya saja.
“Aku tidak ingin bermain lagi. Aku akan pergi ke kamar,” ucap Evelyn yang setelahnya langsung pergi dan di ikuti oleh seluruh bawahannya.
Sean yang masih tetap di posisinya hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Evelyn.
“Kau jaga Eve. Aku harus keluar lebih dulu. Ada yang harus aku urus,” ucap Sean yang membuat Steve kini menaikkan sebelah alisnya namun tetap saja akhirnya ia menuruti ucapan Sean. Sean setelahnya langsung pergi dari sana.
Evelyn di dalam kamarnya kini tengah serius memperhatikan layar laptop nya. Tatapannya kini terlihat begitu fokus seolah tak ingin melewatkan hal kecil dalam tangkapan rekaman CCTV tersebut.
“Nyonya. Lebih baik Anda beristirahat. Bukankah Sean sudah mengatakan jika ia akan menyelesaikannya?” tanya Jessie dengan tatapan memohonnya pada Evelyn. Ia merasa kasihan pada Evelyn yang begitu bekerja dengan serius untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Evelyn kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Jessie. Ia ingin kali ini menangkap orang yang telah meneror nya itu dengan kemampuannya sendiri.
“Tidak. Kita tidak bisa hanya mengandalkan mereka saja. Kau tahu akhir-akhir ini mereka sudah begitu sibuk jadi aku tak ingin menambah pekerjaan mereka,” ucap Evelyn sambil menatap Jessie dengan tatapan seriusnya.
“Bukankah Steve hanya mengikuti Anda seharian ini?” tanya Jessie yang membuat Evelyn menghela nafasnya kasar.
“Abaikan dia,” decak Evelyn yang ingin sekali rasanya membuat Jessie tertawa mendengar ucapan atasannya itu.
“Anda menemukan pelakunya?” tany Jessie dengan tatapan tak percayanya. Melihat senyuman Evelyn yang begitu misterius membuat wanita paruh baya itu menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya wanita itu dapatkan.
“Panggil Steve,” ucap Evelyn yang segera di turuti oleh Jessie yang langsung pergi untuk memanggil Steve.
Evelyn kini menatap serius layar di depannya yang memperlihatkan pelayan terakhirnya yang datar ke arah tempat di mana Evelyn menemukan kotak tersebut.
“Ada apa Nyonya? Apa Anda baik-baik saja?” tanya Steve saat baru saja masuk ke kamar Evelyn dan menghampiri Evelyn yang kini tengah serius memperhatikan layar di depannya.
Senyuman Evelyn yang kini terlihat begitu misterius membuat Steve menjadi semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya wanita itu lakukan.
“Lihat lah,” ucap Evelyn sambil menunjukkan layar laptopnya.
Steve segera mengambilnya lalu mengerutkan keningnya melihat layar di depannya yang memperlihat kan CCTV di kamar Evelyn dan Kenrick. CCTV yang bisa otomatis mati saat sensor menunjukkan keberadaan Evelyn ataupun Kenrick di dalam kamar itu.
“Ada apa ini Nyonya? Bukankah kita sudah pernah melihatnya dan tidak menemukan apapun?” tanya Steve dengan menatap Evelyn begitu serius. Evelyn menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Steve dan meminta kembali laptop nya.
“Karena kita kurang teliti saat itu,” ucap Evelyn dan kini memutar kembali tayangan tersebut hingga sampai di bagian akhir Evelyn mem Pause tayang itu.
“Lihat lah, dia yang takhir datang,” ucap Evelyn sambil menunjuk layar di depannya.
“Vera?” tanya Jessie terkejut saat melihat pelayan itu adalah Vera. Pelayan yang biasanya melayani Evelyn dan pelayan yang sudah Evelyn bantu untuk keluar dari rumah Selatan.
Evelyn mengangguk mendengar ucapan Jessie. Setelahnya ia kembali untuk memutar tayangan itu. Hingga kembali terlihat kini Vera yang mengambil barang yang terjatuh. Namun karena jatuhnya di bawa meja jadi kamera tidak melihatnya.
Setelah mengambil barang yang jatuh Vera segera pergi. Dan saat di bagian itu Evelyn kembali mem Pause rekaman itu membuat Steve mengerutkan keningnya begitu pun dengan Jessie.
“Lihat lah. Ini adalah tongkat kecil berwarna putih. Jika kau tak melihatnya dengan seksama kau tak akan melihatnya,” ucap Evelyn membiarkan Steve dan Jessie melihatnya lebih jelas. Mereka masih terdiam hingga mereka memelototkan matanya melihat hal itu.
Dan setelah Vera menutup pintu rekaman itu berakhir.
“Jadi Vera pelakunya?” tanya Steve menaikkan sebelah alisnya yang kini membuat Evelyn mengedikkan bahunya.
“Minta Jola untuk mengirimkan video setelah ini,” ucap Evelyn pada Steve yang menjawabnya dengan anggukan.
“Tentang ini jangan biarkan siapapun tahun selain kita. Termasuk Kenrick. Namun kini harus membiarkan Vera mengetahuinya jika kita sudah menemukan pelakunya. Dan untuk ini aku percayakan pada kalian. Aku ingin mengetahui alasannya melakukan ini, Setelah apa yang aku lakukan untuk nya, dia malah ingin mencelakai ku,” ucap Evelyn dengan senyuamn sinisnya.
“Tapi Nyonya. Bukan kah kita harus menenangkan nya. Dan membiarkan Tuan tahu?” tanya Jessie yang Evelyn balas dengan gelengan. Untuk kali ini ia memiliki rencananya sendiri.
“Besok. Aku akan memberitahu Kenrick besok. Jika malam ini aku tak mengetahui alasannya melakukan hal jahat ini padaku,” ucap Evelyn diselingi dengan janjinya. Steve dan Jessie menghembuskan nafasnya kasar lalu akhirnya hanya bisa menjawabnya dengan anggukan dan menjalankan perintah Evelyn.
Setelah keluar dari kamar Evelyn, Steve dan Jessie benar-benar membicarakan masalah ini hanya di depan Vera agar gadis itu mengetahui jika kebusukannya sudah diketahui.
***