Mafia's woman

Mafia's woman
Ketahuan Hamil



“Razita meninggal,” hanya satu kata namun mampu membuat Evelyn terkejut mendengarnya. Evelyn langsung menoleh ke arah Sean yang kini juga tengah menatapku dengan serius.


“Ini adalah alasan mengapa Kenrick memberikan perhatian lebih padanya. Karena Razita mengidap lemah jantung. Kenrick tak bermaksud menyakitimu. Dia sangat mencintaimu, hanya saja keadaan yang membuatnya melakukan itu,” jelas Sean. Sean juga baru mengetahui fakta ini beberapa hari yang lalu saat pemakaman Razita.


Mendengar hal tersebut membuat sinis tersenyum sinis.


“Jika Razita tak meninggal aku yakin dia masih mengurus wanita itu. Tanpa memikirkanku!” sinis Evelyn yang kini malah kembali memiliki pemikiran buruk pada Kenrick.


“Bisakah kau tidak bersikap egois?” tanya Sean dengan begitu tajam pada Evelyn.


“Kau tahu selama kau pergi Kenrick sudah seperti orang gila. Yang ia tahu hanya meminum alkohol. Datang ke rumah sakit saat pelayan mengatakan Razita memburuk. Razita tak memiliki keluarga. Orang tuanya meninggal saat ia berusia tujuh belas tahun dalam kecelakaan pesawat, selama ini paman nya yang merawatnya namun kini pamannya malah melupakannya dan sudah begitu sibuk dengan keluarganya sendiri juga pekerjaannya,” jelas Sean. Evelyn menatap Sean mencari kebohongan dalam setiap kata yang laki-laki itu ucapkan. Namun ia sama sekali tidak menemukannya.


“Aku masih tak bisa menerima semua ini,” ucap Evelyn sambil menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya. Sean menghela napasnya kasar lalu menatap Evelyn dengan serius.


“Aku tahu kau masih belum menerimanya. Hatimu pasti begitu terluka. Tapi percayalah Kenrick mencintaimu. Sealam ini ia tak mencarimu bukan karena masih ada Razita di sisinya, dia hanya diam tak mencarimu, karena dia ingin memberimu waktu untuk berpikir dan menenangkan dirimu,” jelas Sean tanpa memberitahu Evelyn tentang kesepakatan yang di buat nya dengan Kenrick. Sean jelas tahu Kenrick tak akan memiliki kesabaran setinggi itu untuk tetap menunggu Evelyn hingga tenang. Bahkan sekarang alasannya datang karena sudah tak bisa lagi bersabar. Walau Sean sudah berusaha untuk menahannya akhir nya ia kalah juga.


“Apa dia melakukan itu?” tanya Evelyn dengan tatapan seriusnya pada Sean yang kini menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Evelyn.


“Ya dia melakukannya untukmu. Dia sangat mencintaimu hingga takut kehilanganmu. Pikirkanlah dengan baik,” ucap Sean dengan tatapan teduhnya.  Evelyn akhirnya hanya membalasnya dengan anggukan. Melihat hal itu Paul segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat mereka berhenti dan menuju apartemen Evelyn sesuai keingin wanita itu.


“Apa dia tahu jika aku hamil?” tanya Evelyn ragu. Menatap Sean dengan tatapan penasarannya. Evelyn berharap Kenrick tak mengetahuinya.


“Tidak, aku ingin kau yang memberitahukan ini sendiri padanya,” jelas Sean. Evelyn akhirnya hanya mengangguk dan selama perjalanan tak ada yang mereka bicarakan. Ia cukup bersyukur Kenrick belum mengetahuinya setidaknya dengan ini tak ada yang Kenrick bisa dijadikan sebagai alasan kuat mereka untuk bersama.


Saat sampai di depan gedung apartemen Evelyn. Sean meminta Evelyn untuk langsung masuk ke apartemen dan meminta maaf karena ia tak bisa untuk mengantarnya. Laki-laki itu sendiri memilih pergi entah kemana, Sean hanya mengatakan jika ia memiliki urusan. Evelyn berjalan menuju lift tapi sial saat sampai di depan lift, malah terlihat tulisan jika lift tengah rusak.


“Sial” Evelyn akhirnya memilih menaiki tangga ke lantai tujuh. Padahal ia sudah begitu lelah sekarang. Begitu sampai di depan apartemennya. Evelyn pun merasakan perutnya yang kram sepertinya karena ia terlalu lelah setelah menaiki tangga.


“Sial sekali lift itu malah rusak. Perutku jadi sangat kram,” keluh Evelyn sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Nafasnya bahkan masih tak teratur karena ngos-ngosan.


“Evelyn kau sudah pulang hm?” suara tersebut adalah suara terakhir yang Evelyn dengar.


“Kenrick?!” gumam Evelyn. sebelum akhirnya rasa sakit tersebut semakin parah dan merenggut kesabarannya. Kenrick yang melihat Evelyn pingsan tentu saja merasa begitu khawatir dan segera menggendong wanitanya itu menuruni tangga untuk menuju rumah sakit terdekat dengan keadaan yang begitu khawatir. Takut jika terjadi sesuatu pada Evelyn.


Kenrick yang sudah siap akan marah pada Evelyn kini malah dibuat khawatir oleh wanitanya itu.


 ***


Evelyn membuka matanya saat tenggorokannya merasa haus. Evelyn melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 4.30 dini hari. Melihat ke arah sampingnya saat Evelyn merasakan berat di tangannya yang ternyata adalah Kenrick yang tengah tertidur.


“Kau memang sangat tampan, tapi juga berbahaya,” gumam Evelyn. Tangannya terangkat hendak menyentuh laki-laki tersebut tapi sial laki-laki itu malah terbangun dan membuatnya mengalihkan pandangan.


“Kau sudah bangun Sayang?” tanya Kenrick dengan suara khas bangun tidur namun terdengar begitu khawatir.


Evelyn hanya diam tak berminat untuk menjawab pertanyaan laki-laki itu. Membuat Kenrick menghela napasnya kasar.


“Kau membutuhkan sesuatu?” tanya Kenrick.


“Air.” Evelyn berkata singkat tapi Kenrick begitu mengerti dan langsung mengambilkan air untuk Evelyn. Evelyn segera mengambilnya dan menegaknya hingga separuh.  Setelah selesai Evelyn kembali menyerahkannya pada Kenrick.


“Tidurlah kembali, ini masih pagi,” ucap Kenrick sambil membenarkan selimut Evelyn.


“Untuk apa kau berada disini?” tanya Evelyn yang bukannya menuruti perintah Kenrick untuk tidur kembali. Mendengar ucapan Evelyn yang begitu sinis membuat Kenrick menghela napasnya lalu menggenggam tangan wanitanya itu. Evelyn hanya diam membiarkan laki-laki memegang tangannya karena sebenarnya ia juga merindukan Kenrick.


“Aku tidak memerlukannya,” sinis Evelyn sambil mengalihkan perhatiannya ke arah lain karena masih enggan untuk menatap Kenrick. Rindunya kini sepertinya sudah tertimbun ego atas luka yang Kenrick berikan.


“Kau masih marah padaku? Bukankah kini seharusnya aku yang marah padamu?” tanya Kenrick dengan wajah seriusnya. Evelyn melihat ke arah Kenrick saat laki-laki itu menatapnya datar dengan tatapan tajamnya.


“Kau bahkan tidak memberitahuku jika kau sedang hamil,” kesal Kenrick yang baru mengetahuinya dari dokter yang adi memeriksa Evelyn. Evelyn yang mendengar jika Kenrick sudah mengetahuinya tentu merasa terkejut.


“Karena itu tidak perlu. Aku akan merawatnya sendiri tanpa dirimu,” ucap Evelyn berusaha untuk mengalihkan rasa terkejutnya.


“Bisakah kau tidak bersikap egois? Bahkan kemarin malam kau hampir membahayakannya. Apa kau yakin bisa merawatnya sendiri? Dan apa kau sudah gila menaiki tangga ke lantai enam saat kandungan masih lemah. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada kalian?” Charles terlihat begitu marah, semua itu terlihat jelas di raut wajahnya yang begitu datar dan tajam.


“Itu urusanku!” sinis Evelyn yang masih tak mau mengalah.


“Masih mau egois? Kenapa kau pergi ke club saat hamil? Ada apa denganmu?!” marah Kenrick yang kini sudah berdiri sambil memijat pangkal hidungnya. Kenerick berusaha menahan amarahnya agar tidak berbicara dengan nada tinggi pada Evelyn.


“Apa pedulimu Kenrick? Bahkan jika aku mati bersama anak ini kau tidak perlu memusingkannya. Masih banyak wanita yang menginginkanmu. Dan kau bisa meminta anak darinya. Jadi kau tidak perlu menikahiku lagi!” kesal Evelyn dengan tatapan menentangnya pada Kenrick yang sama sekali tidak merasa takut pada laki-laki tersebut. Amarah sudah mematahkan perasaan takut pada Evelyn.


“Aku sudah memiliki anak darimu. Untuk apa aku memiliki anak dari wanita lain? Aku akan tetap menikahimu,” ucap Kenrick tegas.


“Ini adalah anakku!” tegas Evelyn yang tak mau kalah.


Setelah berhasil untuk mengontrol amarahnya kini Kenrick memilih duduk di tempatnya lag. Hingga tangan laki-laki tersebut terulur untuk mengelus perut Evelyn. Evelyn terdiam, ia dapat merasakan ketenangan saat Kenrick mengelus perutnya. Kram nya yang tadi masih sedikit ada kini perlahan membaik karena Kenrick yang mengelus perutnya.


“Juga anakku, Sayang. Tolong biarkan aku ikut merawatnya. Aku mohon!” ucap Kenrick dengan lembutnya. Ia tak ingin lagi membuat kesalahan dengan membentak Evelyn jadi lebih baik mulai belajar mengontrol amarah agar tak lagi melukai Evelyn.


“Cih! Apa kau bilang? Bukankah itu sungguh memuakkan! Dia tak akan mau memiliki ayah sepertimu,” sins Evelyn yang justru membuat Kenrick terkekeh mendengarnya.


“Dia akan bangga memiliki ayah seperti ku,” ucap Kenrick dengan penuh percaya diri.


“Cih kau sangat percaya diri!” ucap Evelyn sinis. Tak pernah berubah Kenrick memang memiliki tingkah percaya diri yang tinggi.


“Aku adalah ayah yang tampan, kaya, dan baik hati. Apa yang membuatnya tak bangga denganku?” sombong Kenrick yang malah membuat Evelyn bergidik mendengarnya.


“Aku membencimu! Dan aku yakin anakku tak suka ibunya di sakiti. Sudahlah aku lelah, aku ingin tidur. Jangan ganggu aku,” ucap Evelyn lalu membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Kenrick yang kini mengembuskan napasnya kasar dan mengusap wajahnya gusar.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.