Mafia's woman

Mafia's woman
Teka Teki Kata



Sean meregangkan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah dua hari ia dikurung di penjara Kenrick dengan tidur hanya beralaskan lantai kini akhirnya ia bisa untuk meregangkan ototnya setelah Kenrick akhirnya membebaskannya.


“Apa Tuan akan membunuhmu? Karena itu dia membebaskan mu?” tanya Steve yang kini berjalan bersama dengan Sean di sampingnya.


“Tidak. Aku rasa Kenrick sudah menemukan Evelyn.” ucap Sean yang sontak membuat Steve menoleh ke arah Sean dengan memelototkan matanya saking terkejutnya mendengar ucapan dari laki-laki di sampingnya tersebut.


“Kau bercanda? Secepat itu?” tanya Steve dengan tatapan tidak percayanya pada Sean yang hanya mengedikan bahunya mendengar ucapan tersebut.


“Siapa yang tahu jika kau mengkhianatiku?” tanya Sean yang kini sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Steve yang masih tercengang di tempatnya. Tersadar jika sahabatnya itu sudah berlalu dengan segera Steve mengejarnya.


“Aku tak mungkin mengkhianatimu. Bahkan aku tak mengerti maksud dari ucapan mu saat itu,” ucap Steve dengan polosnya. Saat sedang bersama dengan Sean laki-laki tersebut memang seolah menjadi orang bodoh.


“Kau bercanda? Lalu untuk apa saat itu kau tersenyum seolah kau mengetahuinya?” tanya Sean sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dengan usapan Steve.


“Aku hanya tersenyum karena kagum dengan ucapan mu,” ucap Steve yang kali ini membuat Sean rasanya sudah tak memiliki kata-kata untuk  Steve.


“Aku tahu kau bodoh Steve, tapi aku tak tahu kau begitu bodoh,” ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.


“Sudah aku katakan untukmu lebih pintar lagi. Kau kepala pengawal. Harusnya kau juga mengandalkan otak bukan hanya otot,” ucap Sean yang kali ini sudah memberikan nasehatnya pada Steve yang justru tertawa mendengar ucapan Sean. Sean yang mendengarnya mengerutkan keningnya bingung.


“Tenang lah. Aku hanya bercanda. Aku mengerti ucapanmu,” ucap Steve sambil tersenyum ke arah Sean dan menepuk pundak sahabatnya tersebut. Sean menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya.


“Chicago adalah kota Arsitektur, dan Antena Amerika adalah Boston. Sedangkan rumah adalah kota kelahiran Nyonya, Las Vegas,” jelas Steve pada Sean yang menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Steve yang memang benar.


“Ayolah Sean. Kau baru saja bebas. Harusnya kau bisa untuk sedikit tertawa setelah terkurung bukannya bertambah galak,” ucap Steve dengan senyumannya yang hanya Sean balas dengan gelengan. Bagi Sean, Steve adalah orang yang berbeda saat sedang santai dan bertugas. Berbeda dengan dirinya yang memang jarang tersenyum.


“Sudah lah. Aku akan menemui Tuan lebih dulu,” ucap Sean sambil menepuk pundak Steve lalu berjalan menuju ruangan Kenrick. Karena tadi Steve mengatakan jika Kenrick berada di ruangannya saat Sean bertanya keberadaan Kenrick.


“Lihatlah. Kau bahkan langsung bekerja setelah keluar? Apa kau tak ingin berlibur dan menyembuhkan dirimu lebih dulu?” tanya Steve sambil mengeraskan suaranya karena Sean yang sudah begitu jauh dari nya.


“Ada yang harus aku lindungi,” ucap Sean yang hanya membuat Steve menggeleng mendengarnya. Ia jelas tahu siapa yang di maksud oleh Sean.


“Tidak pernah kapok,” ujar Steve.


***


Kenrick kini tengah sibuk dengan layar di depannya. Bukan lagi sibuk pada berkas kantor. Kini yang membuatnya sibuk adalah sebuah rekaman CCTV di sebuah bandara. Sudah dua hari ia kehilangan wanitanya tersebut dan kini laki-laki tersebut sudah terlihat begitu hancur.


Matanya kini terlihat begitu merah dengan lingkaran hitam di bawahnya. Belakangan ini Kenrick begitu susah untuk tidur karena terus mencari Evelyn.


Walau kini ia sudah mengetahui di mana kota yang Evelyn tuju terakhir. Namun Kenrick masih belum menemukan wanitanya tersebut. Suara ketukan pintu mengganggu kegiatannya. Laki-laki tersebut menoleh sekilas ke arah pintu.


“Masuk.” Kenrick mempersilahkan orang di luar untuk masuk. Ia jelas sudah mengetahui siapa yang datang mencarinya. Hanya Sean yang selalu datang mencarinya ke ruangannya. Dan Kenrick baru saja membebaskannya.


Saat masuk ke ruangan Kenrick, Sean dibuat terkejut dengan penampilan Kenrick yang begitu kacau. Belum lagi dengan banyak nya minuman beralkohol yang hanya tersisa botolnya saja.


“Duduklah,” ucap Kenrick yang segera dituruti oleh Sean yang dengan segera duduk di depan Kenrick.


“Ingin minum?” tawar Kenrick sambil menuangkan gelas kosong di samping miliknya dengan alkohol yang baru ia ambil.


Sean dengan segera mengambil gelas yang disodorkan oleh Kenrick.


“Untuk kali ini aku memaafkanmu. Terima kasih telah memberi petunjuk,” ucap Kenrick yang malah membuat Sean tersenyum dengan begitu sinis mendengar. Sudah ia duga Kenrick akan dengan mudah memahami ucapannya.


“Saya tidak memberi Anda petunjuk Tuan. Saya rasa Anda memiliki mata-mata untuk itu,” ucap Sean yang membuat Kenrick terkekeh mendengarnya sambil menganggukkan kepalanya.


“Aku tak tahu jika seorang penjaga bisa mengerti kalimat ku, jadi aku rasa itu pasti Anda,” ucap Sean lagi melanjutkan ucapannya. Kenrick tersenyum mendengarnya sambil menganggukkan kepalanya.


“Kau memang begitu pintar mengelabui bawahan ku Sean. Bahkan sampai menyewa banyak wanita untuk itu, dan memanfaatkan posisimu,” ucap Kenrick dengan tajam pada Sean yang kini malah begitu santai meminum minumannya.


“Semua aku lakukan untuk Nyonya. Biarkan Nyonya menenangkan dirinya lebih dulu Tuan. Semua butuh proses, Nyonya pasti begitu terluka dengan sikap Anda. Dan saya hanya membantunya untuk pulih,” ucap Sean menjelaskan. Kenrick menghela nafasnya kasar.


“Lalu dimana Evelyn sekarang?” tanya Kenrick dengan wajah seriusnya.


“Bukankah Anda sudah mengetahuinya Tuan?” tanya Sean dengan tatapan menantangnya pada Sean.


“Apartemen baru nya? Aku sudah meminta bawahan ku yang lain mencarinya di sana namun tak menemukan Evelyn,” ucap Kenrick yang sontak membuat Sean terkejut mendengarnya. Kini malah jadi khawatir pada Evelyn yang ternyata tidak ada di apartemennya.


“Evelyn tak ada di sana?” tanya Sean terkejut, Kenrick menghembuskan nafasnya kasar sambil menganggukkan kepalanya.


“Cari Evelyn sampai ketemu,” ucap Kenrick tegas. Meskipun merasa jika Sean mengkhianatinya dan membantu Evelyn untuk kabur namun tetap saja bagi Kenrick, Sean masih menjadi orang kepercayaannya.


“Saya akan melakukannya dengan satu syarat,” ucap Sean membuat penawaran pada Kenrick yang kali ini menaikkan sebelah alisnya mendengar permintaan laki-laki tersebut.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Kenrick dengan menaikkan sebelah alisnya pada Sean.


“Biar saya yang membujuk Nyonya. Biarkan Nyonya tenang lebih dulu baru Anda bisa menemuinya,” ucap Sean dengan tegasnya.


“Kau berani memerintah ku?” tanya Kenrick dengan amarahnya mendengar permintaan Sean, seolah laki-laki tersebutlah yang kini paling berkuasa.


“Semua ada di tangan Anda Tuan. Saya tak akan berani untuk memerintah Tuan. Ini hanyalah sebuah tawaran,” ucap Sean dengan beraninya membuat sebuah bisnis dengan atasannya sendiri. Namun ia tak peduli karena ia melakukan ini demi Evelyn.


“Baiklah,” ucap Kenrick yang akhirnya mengalah. Asalkan ia bisa menemukan Evelyn dan mengetahui keadaan wanitanya tersebut ia bersedia melakukan apapun.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.