Mafia's woman

Mafia's woman
Taman Bunga



"Di hutan? Apa kau ingin membuangku di hutan?” tanya Evelyn saat mereka baru saja keluar dari rumah tersebut. Evelyn baru ingat jika kini mereka tengah berada di hutan dan belum bisa pergi kemanapun. Mendengar pertanyaan itu tersebut, Kenrick justru terkekeh mendengarnya pertanyaan Evelyn.


“Bagaimana aku bisa membuangmu Sayang?” tanya Kenrick dengan sisa tawanya. Menurutnya Evelyn sangat aneh, untuk apa ia membuang wanita yang mati-matian ia pertahankan?


"Siapa yang tahu kau sudah tak menginginkanku lagi karena semua kekacauan ini,” sungut Evelyn dengan wajahnya yang sudah terlihat lucu karena merajuk.


“Hey! Aku tak mungkin melakukan hal itu. Jadi bagaimana? Tetap ingin pergi?” tanya Kenrick menawarkan. Evelyn terdiam, berpikir sebentar sebelum menganggukkan kepalanya setuju.


"Tapi kau berat,” ucap Evelyn karena kini ia tengah membantu Kenrick berjalan. Jika terus seperti ini mungkin ia akan kelelahan.


“Aku bisa berjalan sendiri Sayang,” ucap Kenrick dengan tawanya melihat ekspresi menggemaskan dari wanitanya tersebut.


"Baiklah,” ucap Evelyn lalu melepaskan rangkulannya pada Kenrick dan kini beralih saling berpegangan tangan.


"Apa aku tidak takut?Siapa tahu ada hewan buas?” tanya Evelyn sambil menatap ke sekeliling saat mereka mulai berjalan meninggalkan rumah tersebut.


“Tidak, mereka hanya hewan karena buasnya sudah ku kuasai,” ucap Kenrick yang penuh rasa percaya diri. Evelyn hanya tertawa geli mendengar ucapan penuh percaya diri laki-laki di sampingnya tersebut.


"Cih! Kau ini. Tapi kau memang buas,” ucap Evelyn menyetujui.


“Apalagi jika di ranjang bukan,” ucap Kenrick menggoda Evelyn yang sontak memelototkan matanya mendengar ucapan laki-laki tersebut.


"Kenrick!” teriak Evelyn dengan kesal sambil mencubit lengan laki-laki tersebut hanya meringis sambil tertawa.


Evelyn dan Kenrick kini berjalan menyisiri jalanan hutan yang gelap, hanya ada pencerahan dari bulan juga senter yang Kenrick bawa. Mereka masuk semakin jauh ke hutan tersebut.


"Lihatlah kau bisa berjalan dengan baik. Kau benar-benar penipu yang handal,” sungut Evelyn saat melihat Kenrick yang bisa berjalan dengan baik.


Mendengar gerutuan Evelyn pada Kenrick, laki-laki itu malah tertawa dan menggandeng tangan Evelyn yang terlepas dengan erat. Sampai tak lama mereka sampai di sebuah taman bunga dengan berbagai macam jenis bertumbukan dengan begitu rapih.


"Kenrick, ini sangat indah,” ucap Evelyn saat melihat tempat tersebut yang begitu mengagumkan. Evelyn bahkan sampai menutup mulutnya karena terlalu mengagumi tempat tersebut yang memang begitu indah.


“Ya dan lihatlah di atas sana,” tunjuk Kenrick.


Evelyn segera mendongakkan kepalanya hingga hamparan bintang luas yang terlihat sangat indah dan terlihat begitu jelas membuat Evelyn semakin terpesona.


"Waw ini sangat indah. Aku tidak tahu kalau kau bisa semanis ini,” ucap Evelyn dengan candaannya. Evelyn menoleh ke arah Kenrick sambil tersenyum ke arah laki-laki tersebut.


“Kau hanya tak pernah membuka matamu Sayang. Bukankah aku selalu bersikap manis padamu,” ucap Kenrick dengan seringainya sambil menaik turunkan alisnya menggoda Evelyn.


"Kau tidak pernah melakukan itu. Kau hanya bisa memaksaku saja,” decak Evelyn dengan sinis menatap Kenrick dengan tatapan sinisnya namun setelahnya sebuah senyuman menghiasi wajah wanita tersebut. Mendengar ucapan wanita itu sukses membuat Kenrick tertawa geli mendengarnya.


“Jadi kau menyukai tempat ini?” tanya Kenrick menatap Evelyn yang kini menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja. Ini sangat indah Kenrick. Aku sangat menyukai tempat ini,” ucap Evelyn tulus.


Kini mereka memilih untuk duduk di rerumputan yang berada di sana sambil menikmati pemandangan indah yang tersaji di depannya.


“Aku senang jika kau menyukainya. Tempat ini memang sangat tepat dijadikan rumah rahasia,” ucap Kenrick yang kini meletakkan kepalanya di puncak Evelyn sambil memejamkan matanya.


"Dari mana kau tahu tempat ini?” tanya Evelyn dengan penasaran. Evelyn berpikir jika yang menanam semua ini adalah alam dan bukanlah manusia karena hutan ini pun seperti tidak pernah terjamah oleh tangan manusia.


“Saat aku kabur dari kejaran musuh. Akhirnya aku menemukan tempat ini. Untuk tempat rahasiaku,” ucap Kenrick menjelaskan. Kenrick memang memiliki banyak musuh dan saat ia tengah lari dari kejaran musuhnya saat ia sudah terluka ia malah menemukan tempat ini.


“Mereka tak akan bisa melakukannya,” ucap Kenrick penuh percaya diri yang membuat Evelyn penasaran.


"Kenapa?” tanya Evelyn bingung. Kenrick kini menegakkan tubuhnya hingga kini Evelyn bisa menatap laki-laki yang juga tengah menatapnya itu.


“Karena mereka sudah bahagia di surga,” ucap Kenrick dengan begitu tenangnya yang malah membuat Evelyn terkejut dan menatap Kenrick dengan tatapan penuh harap jika apa yang ia pikirkan salah.


"Kau membunuh mereka?” tanya Evelyn untuk menjawab segala kemungkinan dan pemikiran buruk di kepalanya.


“Bukan aku yang melakukannya,” ucap Kenrick dengan begitu santainya.


"Lalu apa mereka bunuh diri sendiri?” tanya Evelyn dengan sinis karena tak mungkin itu jawabnya. Tak mungkin ada banyak orang yang rela bunuh diri.


“Lebih baik kau berhenti membicarakan mereka. Atau mereka akan datang untuk balas dendam,” ucap Kenrick yang malah menakuti Evelyn. Mendengar ucapan laki-laki tersebut Kenrick mengerucutkan bibirnya kesal..


"Kenrick, kau membuatku takut,” ucap Evelyn yang langsung memeluk tangan Kenrick. Kenrick yang melihatnya hanya tertawa gemas melihat tingkah wanitanya tersebut yang terlihat galak namun ternyata begitu penakut.


"Tapi kau terlalu kejam melakukan itu Kenrick.” Evelyn menatap Kenrick dengan tatapan tak percayanya. Bagaimana Kenrick bisa membunuh banyak orang hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak ada yang membongkar tentang rumah rahasia nya tersebut.


Atau memang film ataupun drama mafia yang pernah Evelyn tonton memang benar jika para Mafia memiliki dua pilihan antara membunuh dan dibunuh? Lalu berapa banyak orang yang sudah Kenrick bunuh? Evelyn menjadi takut akan hal itu.


“Bisakah kita berhenti membicarakannya?” tanya Kenrick yang menyadari jika pembahasan tersebut terus dibahas maka ia bisa saja terpojok dan berujung Evelyn yang bisa saja merasa takut dan kecewa padanya. Mengingat dunia memang begitu gelap dan penuh darah.


Evelyn hanya bisa menghela nafas kasar percuma saja berbicara dengan Kenrick, lagipula semua sudah terjadi. Mau marah bagaimanapun para pekerja itu tak mungkin hidup kembali. Namun Evelyn berharap jika Kenrick tak lagi membunuh orang. Perbuatan laki-laki tersebut salah dan ia tak ingin memiliki suami seorang pembunuh.


“Masih ingin tetap di sini atau kembali ke rumah?” tawar Kenrick saat mereka saling terdiam dalam waktu yang cukup lama.


"Tetaplah di sini sebentar lagi,” pinta Evelyn yang sudah terlalu nyaman berada di tempat tersebut.


“Baiklah,” ucap Kenrick.


Kenrick semakin mengeratkan pelukannya pada Evelyn yang kini berada dalam rangkulannya, dengan sesekali mengecup kening wanitanya itu sayang. Saat Kenrick merebahkan tubuhnya di rerumputan, Evelyn ikut berbaring dengan tangan Kenrick sebagai bantalannya.


Evelyn memejamkan matanya merasakan embusan angin yang berhembus menyapa kulitnya. Menikmati waktunya bersama Kenrick.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.