Mafia's woman

Mafia's woman
Misi



Suara tembakan sedari tadi terus terdengar bersahutan menghabisi para pengawal yang sedari tadi menjaga rumah besar berlantai tiga. Seorang laki-laki kini berdiri di balik balkon, memegang senjatanya dengan erat. Kepalanya menoleh ke arah dalam kamar, hingga dapat ia lihat kini seorang wanita yang terlihat ketakutan.


Sedangkan seorang pria paruh baya kini sudah siaga dengan pistol di tangannya dan berdiri di belakang pintu. Laki-laki dengan topi hitam yang berdiri di balik jendela balkon tersebut membuka sedikit pintu yang sudah dibuka kuncinya.


Pistol yang dibawa laki-laki yang memakai topi hitam tersebut sudah mengarah ke arah laki-laki paruh baya. Hingga dua kali tembakan mengenai sempurna ke arah dada laki-laki paruh baya yang kini sudah terkapar di lantai.


Suara jeritan dari perempuan tersebut membuat laki-laki dengan topi hitam tersebut yang tak lain adalah Sean berdecak kesal. Ia segera masuk ke arah kamar yang semakin membuat perempuan tersebut terkejut.


“Stt jangan berisik, atau kau akan bernasib sama seperti suamimu,” ucap Sean dengan begitu tajam dan menakutkan.


Perempuan tersebut hanya bisa menangis sambil menganggukkan kepalanya karena terlalu takut. Sean berjalan ke arah brankar yang berada di rumah tersebut lalu menoleh ke arah wanita yang kini hanya terlalu menangis ketakutan.


“Berapa kata sandi nya?” tanya Sean menaikkan sebelah alisnya pada perempuan tersebut.


“031101,” jawab wanita tersebut.


Sean tersenyum evil lalu membuka brankas tersebut. Wanita Yang berada di belakang Sean hanya diam karena takut. Mau melangkah untuk turun ia tahu jika di bawah akan lebih banyak orang yang bersiap untuk membunuhnya jadi lebih baik ia memilih untuk tetap berada di kamar tersebut dengan rasa takutnya.


Setelah berhasil membuka brankas tersebut Sean langsung mencari apa yang dicarinya. Hingga ia dapat melihat banyaknya dokumen yang berada di sana juga sebuah emas yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah flashdisk.


Sean langsung mengambilnya juga dokumen tersebut lalu ia menoleh pada wanita di belakangnya yang kini menangis ketakutan sambil sesekali melihat ke arah suaminya yang sudah tewas.


“Di mana ruang kerja suami mu?” tanya Sean dengan wajah nya yang tampak menyeramkan. Walau kali ini wajah laki-laki itu hanya terlihat matanya saja karena ia memakai topi juga masker hitam.


Wanita tersebut menunjuk ke arah pintu di kamar tersebut. Sean menodongkan pistolnya ke arah wanita yang kini di buat menahan nafasnya karena tingkah Sean.


“Jalan,” ucap Sean yang hanya di turuti saja oleh wanita itu untuk mencari jalan aman nya.


Mereka akhirnya berjalan bersama menuju ke arah ruangan tersebut. Dan disana Sean mencari dokumen lain yang diperlukannya. Setelah menemukannya ia menoleh ke arah wanita di belakangnya dengan berdecak.


“Kau tahu Nyonya aku sekarang berada dalam pilihan yang sulit. Tuan ku meminta agar membunuhmu juga. Namun aku tahu kau adalah orang yang baik dan tidak terlibat dengan kejahatan suami mu. Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanya Sean menaikkan sebelah alisnya.


Ini lah yang paling Sean benci dari pekerjaannya. Ia memiliki prinsipnya sendiri untuk tidak menyakiti wanita juga anak kecil. Oleh karena itu ia selalu menolak jika diberi misi seperti ini. Namun kali ini ia harus melakukan misi yang membuatnya bingung ini.


“Tuan aku mohon ampuni aku. Aku tak tahu kau siapa jadi aku tak bisa melaporkan ku. Tuan aku mohon, aku memiliki anak yang harus aku jaga,” ucap wanita tersebut yang kini sudah bersimpuh di hadapan Sean sambil menautkan tangannya memohon pada Sean yang kini menghembuskan nafasnya kasar.


“Maafkan aku Nyonya,” ucap Sean lalu mengarahkan pistolnya ke arah wanita tersebut yang kini sudah menahan nafasnya. Hingga selanjutnya suara tembakan yang begitu keras terdengar.


***


Setelahnya Kenrick segera berjalan ke arah balkon untuk menjawab telepon dari Sean.


“Ada apa?” tanya Kenrick dengan begitu datarnya.


“Misi sudah selesai Tuan. Saya juga sudah mengambil semua dokumen yang Anda minta,” ucap Sean di seberang sana yang membuat Kenrick menjawabnya dengan anggukan walaupun ia tahu Sean tak akan melihatnya.


“Istirahat lah. Ini sudah malam,” ucap Kenrick dengan begitu teganya. Ia tak ingin membicarakan hal seperti ini di rumah.


“Baik Tuan,” ucap Sean yang setelahnya Kenrick langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali untuk menuju alam mimpinya sambil tertidur dengan memeluk istrinya itu.


***


Sean kini berdiri di halte bus sambil menyesap rokok yang berada di tangannya. Tatapannya menatap lurus ke arah depan. Ia menyandarkan punggungnya pada papan iklan yang berada di halte tersebut. Padahal tadi bawahannya sudah menjemputnya dengan mobil namun Sean menolaknya dan mengatakan akan pulang larut dan meminta bawahannya untuk pergi lebih dulu karena ada urusan yang akan ia kerjakan lebih dulu.


Setelah menyelesaikan urusannya ia akhirnya memilih untuk pulang dengan menggunakan bus. Seorang gadis kini berjalan ke arah halte. Hari sudah begitu larut namun masih ada perempuan yang berkeliaran di sana. Sean hanya diam tampak tak peduli dengan gadis tersebut.


Namun tak lama tiga orang laki-laki berjalan mendekat. Dan dengan tidak sopannya laki-laki tersebut malah melihat ke arah rok yang dipakai gadis tersebut yang memang begitu mini dan memperlihatkan paha mulusnya.


Sean begitu tak suka jika ada laki-laki yang melecehkan perempuan di hadapannya langsung berjalan ke arah gadis tersebut dan menatap tajam ke arah laki-laki yang berada di sana.


Dari gerak-gerik gadis di sampingnya bahkan Sean tahu jika gadis itu merasa tak nyaman dari terus diperhatikan. Hingga tak lama sebuah bus datang. Gadis tersebut langsung naik ke atas bus. Begitupun dengan Sean, namun sebelumnya tatapannya begitu tajam pada ketiga laki-laki yang kini menatap Sean dengan takut.


“Pergi atau kau akan tahu akibatnya,” ancam Sean membuat ketiga laki-laki tersebut langsung pergi dari sana karena tak ingin berurusan dengan Sean.


Sean masuk ke dalam bus dan memilih untuk duduk di tempat berbeda dengan gadis tadi yang duduk di bagian depan. Sedangkan Sean memilih duduk di bagian belakang.


“Tuan, terima kasih atas bantuan Anda,” ucap gadis tadi yang tiba-tiba saja kini berada di samping Sean sambil menundukkan kepalanya.


Sean hanya menoleh sejenak sebelum akhirnya memilih untuk mengalihkan perhatiannya dan menoleh ke arah luar jendela lagi. Melihat respon Sean gadis tersebut hanya menggigit bibir bagian dalamnya lalu segera pergi dari sana.


Tanpa sadar senyuman tipis dapat terukir di wajah laki-laki arogan dan dingin itu saat melihat tingkah gadis tersebut.


***