Mafia's woman

Mafia's woman
Kabur



“Ronald?” tanya Evelyn dengan tatapan tak percayanya saat melihat laki-laki yang tak lain adalah sepupu sekaligus musuh Kenrick tersebut. Ronald yang melihatnya hanya tersenyum dengan begitu lembut menampilkan senyuman manisnya.


“Terkejut Nona?” tanya Ronald dengan senyumannya yang kini membuat Evelyn memutar bola matanya malas mendengar ucapan laki-laki di sampingnya tersebut. Entah bagaimana laki-laki tersebut bisa masuk padahal di luar masih ada pengawal yang berjaga.


“Kau datang untuk menemui Kenrick?” tanya Evelyn yang kini sudah fokus kembali dengan tontonan di depannya tersebut.


“Tidak, aku datang untuk menemuimu,” ucap Ronald yang kini membuat Evelyn mengerutkan kening bingung. Untuk apa laki-laki itu ingin menemuinya? Bahkan sebelumnya mereka tak dekat dan hanya bertemu saat di pesta laki-laki tersebut.


“Aku sudah mendengar mengapa kau bisa berada di rumah ini.” lanjut Ronald dengan senyumannya. Mendengar ucapan laki-laki tersebut Evelyn sontak menoleh ke arah Ronald dengan terkejut. Bagaimana laki-laki tersebut mengetahuinya dan untuk apa juga ia datang menemui Evelyn saat sudah mengetahui semua itu?


"Lalu?” tanya Evelyn yang pura-pura tak peduli padahal ia sudah begitu penasaran dengan apa yang setelah ini laki-laki tersebut inginkan.


“Aku akan membantumu keluar dari sini?” sebuah pertanyaan yang lebih tepat disebut pernyataan tersebut membuat Evelyn tersenyum dengan begitu sinis mendengarnya. Walau ia senang karena akan ada yang membantunya namun ia tak bisa mempercayainya begitu saja. Siapa yang tahu jika ada sesuatu yang sebenarnya laki-laki tersebut inginkan. Bukankah di dunia ini tak ada yang gratis?


"Aku tak ingin pergi,” ucap Evelyn yang malah membuat Ronald tertawa mendengarnya. Evelyn kini menatap Ronald dengan datar membuat laki-laki tersebut menghentikan tawanya dan menatap Evelyn dengan tatapan seriusnya.


“Kau yakin? Aku tahu kau ingin pergi. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan. Tak usah memikirkan tentang pamanmu aku akan menjaganya,” ucap Ronald dengan senyumannya pada Evlyn yang kini menatap laki-laki tersebut dengan tatapan seriusnya.


"Apa yang kau inginkan?” tanya Evelyn tajam. Ia hanya tak bisa dengan mudah mempercayai laki-laki yang belum lama dikenalnya tersebut.


“Tak ada. Aku hanya ingin berbaik hati,” ucap Ronald sambil mengedikkan bahunya dan tersenyum meyakinkan pada Evelyn. Laki-laki tersebut memang tak memiliki tujuan pada Evelyn, karena tujuannya yang sebenarnya adalah Kenrick.


"Bagaimana caranya?” tanya Evelyn serius setelah menatap dalam pada Ronald untuk melihat kebohongan pada laki-laki tersebut namun ia sama sekali tidak menemukannya. Karena jelas targetnya adalah Kenrick bukanlah dirinya. Itu lah yang akhirnya membuat Evelyn mempercayainya. Ya, untuk saat ini ia akan mempercayai laki-laki tersebut karena kesempatan tak datang dua kali.


“Ikutlah denganku,” ucap Ronald dengan tatapan seriusnya pada Evelyn. Wanita tersebut terdiam sejenak dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya mengangguk dan mengikuti Ronald untuk keluar.


Saat keluar dari room teater Evelyn cukup terkejut melihat penjaga di depan ternyata sudah pingsan. Pantas saja laki-laki tersebut bisa masuk. Dengan perlahan dan begitu hati-hati mereka menuju lantai bawah.


“Tunggu aku mengambil barang-barang ku,” ucap Evelyn sambil memencet lift menuju kamarnya namun Ronald malah memencet lift menuju lantai  teratas.


“Kita tak memiliki waktu untuk itu Evelyn. Kau tahu rumah ini begitu banyak memiliki penjaga juga pelayan. Aku tak bisa membuat mereka semua pingsan, jadi kita harus cepat,” ucap Ronald yang membuat Evelyn bercibik kesal pasalnya ia tak bisa membawa semua barang-barangnya tersebut.


Saat sampai di lantai teratas Evelyn mengerutkan keningnya bingung saat melihat ke arah landasan helikopter milik Kenrick ternyata disana sudah ada dua helikopter.


“Ayo, kita harus cepat. Sebelum ada yang datang dan membuat orang ku tak bisa untuk memandu kita,” ucap Ronald sambil menarik tangan Evelyn untuk berjalan ke arah helikopter tersebut. Ruangan tersebut memang biasanya selalu kosong. Pemandu lalu lintas udara di kediaman Kenrick biasanya hanya akan datang saat Kenrick tengah menggunakan helikopternya.


“Mengapa kita tak lewat bawah saja?” tanya Evelyn dengan kesal. Ia hanya takut saat mereka belum sampai tapi penjaga Kenrick malah sudah datang. Lalu bagaimana nasibnya di atas sana?


“Kau tak melihat di bawah penjaga Kenrick begitu banyak. Sudah ada aku katakan aku tak bisa membuat mereka semua pingsan,” kesal Ronald yang membuat Evelyn mendengus kesal mendengarnya. Namun memang tak ada yang salah dengan ucapan laki-laki tersebut karena memang penjaga dan pelayan Kenrick begitu banyak. Laki-laki tersebut tak mungkin mau cari mati hanya untuk dirinya, walau ia belum tahu apa yang sebenarnya laki-laki tersebut inginkan.


"Tapi tetap saja, kita akan ketahuan,” decak Evelyn yang kini mereka sudah memasuki helikopter tersebut. Ronald memasang earphone untuk gadis tersebut juga untuk dirinya.


“Aku sudah menyabotase semua CCTV yang ada. Dan kita tak punya waktu banyak sampai mereka bangun dan menyadari bahwa Evelyn sudah tidak ada,” ucap Ronald yang kini mulai mengemudikan helikopter tersebut. Sebenarnya Evelyn ragu laki-laki tersebut bisa mengemudikannya namun setelah helikopter tersebut terbang dengan baik Evelyn dapat bernafas lega.


"Kau benar, akan menjamin pamanku kan?” tanya Evelyn dengan tatapan seriusnya pada Ronald yang menjawabnya dengan anggukan.


“Jangan khawatir! Serahkan semuanya padaku,” ucap Ronald dengan senyumannya. Evelyn mengangguk meyakinkan dirinya semua akan baik-baik saja.


Mereka akhirnya memilih untuk diam, sampai mereka sampai di landasan sebuah hotel.


“Kita tak bisa membawanya sampai ke New York jadi aku akan mengantarmu ke bandara dengan mobil,” ucap Ronald yang dijawab dengan anggukan oleh Evelyn. Ia tahu Ronald tak bisa melakukannya demi keamanan mereka.


Dan Evelyn juga tak mau ambil resiko jadi lebih baik ia menggunakan pesawat saja menuju Kota nya.


“Kau sungguh tak bisa membawa apapun dari Mansion besar itu,” ucapRonald sambil menatap miris pada Evelyn yang kini hanya membawa dirinya saja di tambah ia hanya menggunakan pakaian rumahannya.


"Ini semua karenamu, bahkan kini aku tak memiliki uang ataupun ponsel. Lagi pula apa aku perlu membawa sertifikat Mansion atau dokumen penting perusahaan?” tanya Evelyn dengan begitu sinisya yang membuat Ronald terkekeh mendengar ucapan gadis tersebut. Mereka dengan cepat kini menuju lobi hotel yang mana di depannya sudah ada bawahan Ronald yang sudah menunggu untuk menjemput mereka.


"Apa keuntungan yang kau dapat Ronald? Tak mungkin kau membantuku dengan cuma-cuma,” ucap Evelyn dengan serius nya pada laki-laki yang kini berjalan di sampingnya tersebut. Tak salah bukan pikirannya tersebut? Ronald adalah seorang pebisnis, mereka begitu licik dan manipulatif.


“Mendapatkanmu?” tanya Ronald dengan candaannya yang membuat Evelyn berdecih mendengarnya.


"Cih, kalian sama saja,” ucap Evelyn yang membuat Ronald tertawa mendengar ucapan gadis tersebut. Tak bisa di pungkiri Evelyn memang begitu cantik namun tujuannya bukanlah untuk gadis tersebut. Ia hanya ingin menghancurkan Kenrick. Ia benar-benar begitu muak dengan sepupunya tersebut.


“Aku hanya ingin membantumu tanpa meminta imbalan. Aku hanya tak ingin kau terlibat dalam kehidupan gelap Kenrick,” ucap Ronald dengan seriusnya yang membuat Evelyn terdiam mendengarnya sambi menatap Ronald dengan penuh tanda tanya.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita teman aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.