Mafia's woman

Mafia's woman
Pernikahan Yang Indah



Hari ini adalah hari yang begitu dinanti-nanti untuk Evelyn dan Kenrick karena hari ini adalah hari pernikahan kalian. Tak terasa setelah segala kejadian buruk yang menimpanya selama ini akhirnya kini pernikahan mereka akan segera dilaksanakan.


Saat ini Evelyn masih berada di salah satu kamar hotel untuk merias diri. Senyuman wanita tersebut sedari tadi tak pernah luntur dari wajah cantiknya itu. Bahagia? Sangat.


“Wow Nyonya anda terlihat begitu cantik,” puji MUA yang kini tengah mendandani Evelyn tersebut.


Evelyn tersenyum mendengar ucapan periasnya itu. Evelyn juga mengagumi dirinya hari ini, Evelyn terlihat begitu cantik. Bahkan Evelyn tidak percaya jika yang kini berada di pantulan kaca tersebut adalah dirinya.


Evelyn sangat cocok dengan rambut yang di tata braided ponytail dengan hiasan yang sangat indah. Gaun yang kini Evelyn pakai terlihat begitu indah membalut tubuhnya. Evelyn kini bak seorang ratu. Ya memang benar ia adalah ratu di istana Kenrick.


Suara ketukan pintu membuat Evelyn menoleh ke belakang dan mendapati pamannya yang berjalan dengan gagah menghampiri wanita tersebut. Evelyn segera berdiri menghampiri pamannya lalu memeluk erat.


“Maafkan Paman Nak,” ucapan tersebut terdengar begitu tulus. Evelyn tahu pamannya tersebut melakukannya karena terpaksa dan kini ia sudah menyesali perbuatannya tersebut. Sedari kecil pamannya untuk merawatnya dengan begitu baik. Hingga Evelyn di buat terkejut saat mendengar pernyataan jika pamannya tersebut terjadi menjualnya. Jadi Evelyn berpikir jika pamannya hanya terpaksa melakukannya.


"Lupakanlah Paman, aku baik-baik saja. Lagi pula dia mencintaiku,” ucap Evelyn dengan senyuman tulusnya setelah melepaskan pelukannya dari pamannya tersebut. Paman Evelyn menangkup pundak Evelyn, menatap keponakannya tersebut dengan tatapan terharunya. Tak menyangka jika pada akhirnya gadis kecil yang ia jaga  dulu kini sudah tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik.


“Paman senang mendengarnya. Semoga dia bisa menjagamu,” ucap Dion, paman Evelyn dengan begitu tulusnya.


Evelyn tersenyum sambil mengangguk. Wanita tersebut menatap pamannya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dia memperlakukanku dengan baik Paman. Dan aku juga mencintainya. Kita saling mencintai Paman. Jadi Paman tak perlu mengkhawatirkanku,” ucap Evelyn mengelus tangan pamannya yang berada di pundaknya. Dion kini menatap keponakannya tersebut dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Paman senang mendengarnya. Paman tak punya lagi beban pikiran dan rasa bersalah,” sesal Dion yang kini menundukkan kepalanya. Penyesalan tersebut terasa begitu berat baginya. Bagaimana ia bisa menjual keponakannya sendiri, namun sekarang setelah mendengar jika keponakannya tersebut bahagia dan mereka yang saling mencintai Dion mereka begitu lega.


"Paman kau harus hidup dengan baik dan bahagia,” pesan Evelyn pada pamannya tersebut. Kini mereka saling menggenggam tangan satu sama lain seolah cara untuk saling menguatkan.


“Terima kasih, Nak. Kau begitu baik pada Paman. Padahal Paman sudah gagal menjagamu,” ucap Dion yang sontak membuat Evelyn menggeleng mendengarnya. Malah harusnya ia yang berterima kasih pada pamannya tersebut karena sudah menjaga nya dengan baik. Dan menjadi alasan bagaimana kini ia bahagia bersama dengan Kenrick.


"Tidak, aku mengerti kenapa Paman melakukan itu,” ucap Evelyn sambil mengelus tangan Dion.


“Kau sangat cantik, papa dan mama mu pasti akan senang melihatmu dari atas sana. Teruslah berbahagia nak,” ucap Dion yang membuat Evelyn kembali memeluk pamanna tersebut. Namun tak lama mereka melepaskan pelukan tersebut. Hazel mengusap air matanya karena tak ingin terlihat sedih di depan pamannya atau merusak riasannya. Tak lama Steve masuk dan mengatakan jika acara akan segera dimulai.


 ***


Di ujung altar Kenrick sudah berdiri dengan gagahnya menggunakan setelan jas yang begitu rapih. Laki-laki itu terlihat begitu tampan dengan rambutnya yang ditata rapi.


Kenrick tersenyum melihat Evelyn yang kini tengah berjalan di altar bersama dengan pamannnya. Kini akhirnya ia dapat melihat Evelyn dengan gaun pernikahannya tersebut. Sangat indah, cantik, dan menggoda. Kenrick jadi merasa berkali-kali lebih beruntung karena dapat memiliki wanita tersebut.


Saat sampai di hadapan Kenrick, paman Evelyn langsung memberikan tangan wanita tersebut pada Kenrick, hingga laki-laki itu menggenggamnya dengan begitu erat seolah tak akan melepaskan nya dengan mudah, atau malah tak akan pernah ia lepaskan.


“Jagalah Evelyn dengan baik Tuan. Jangan pernah menyakitinya. Jika kau tak mencintainya lagi. Tolong  kembalikan dia padaku. Aku janji akan menjaganya lebih baik lagi,” pesan Dion pada Kenrick. Ia pernah gagal menjaga peninggalan kakaknya tersebut. Dan ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia akan menjaga Evelyn dengan nyawanya.


Dion mengangguk sambil tersebut berharap jika ia bisa memegang ucapan Kenrick. Lalu segera turun dari altar dengan mata yang sudah mengalir air mata haru. Gadis yang dibesarkannya selama delapan belas tahun akhirnya ia serahkan pada laki-laki yang akan menjaganya dengan baik.


Kini Evelyn dan Kenrick saling berhadapan dengan pendeta. Saat lantunan pujian mulai terdengar bersamaan dengan itu suara tembakan juga terdengar dengan begitu keras.


"Kenrick apa yang terjadi?” pekik Evelyn yang terlalu takut dengan kejadian tiba-tiba tersebut.


Evelyn mulai dibuat panik apalagi saat suara teriakan dari para tamu mulai terdengar. Kenrick dengan segera mengambil pistol yang berada di bagian belakang tubuhnya. Kenrick memang selalu membawa pistol kemanapun ia pergi, bahkan di hari []pernikahannya sendiri.


Semua itu Kenrick lakukan hanya untuk melindungi dirinya juga orang yang ia cintai.


“Pergilah bersama Steve,” perintah Kenrick pada Evelyn. Pistol laki-laki tersebut terus saja berbunyi. Suara tembakan terdengar begitu beriringan yang membuatnya takut.


Steve yang berada di sekitar Evelyn untuk melindungi nyonya tersebut juga Kenrick langsung menarik tangan Evelyn. Kenrick sudah memerintahkannya untuk Menjaga Evelyn dan kini ia harus melakukannya bahkan dengan nyawanya sebagai taruhannya.


"Tidak, bagaimana Kenrick.” Evelyn segera melepaskan tangan Steve dan hendak menghampiri Kenrick tapi laki-laki itu kembali meraih tangannya lagi. Steve menatap ke sekeliling untuk terus melindungi nyonya itu.


“Nyonya, kau hanya akan membuat tuan susah bergerak. Dan membuat tuan berada dalam bahaya. Percayalah Nyonya, tuan akan baik-baik saja,” ucap Steve dengan nada lembutnya. Steve sepertinya mengerti kekhawatiran Evelyn karena saat berlari Evelyn terus melihat ke arah belakang, menatap Kenrick yang tengah melawan banyak orang berpakaian hitam.


"Semoga apa yang kau kata benar,” gumam Evelyn dengan tatapan sendunya. Kali ini ia hanya bisa menuruti ucapan Kenrick juga Steve karena ia tak ingin lagi membuat Steve berada dalam bahaya karena sikap keras kepalanya dan suka membantahnya tersebut. Kini ia hanya bisa berharap dan berdoa untuk keselamatan Kenrick.


***


Thanks For Reading All.


Semoga kalian suka ya sama cerita ini.


Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.


Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.


Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.


So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.


See you next chapter all.