
Setelah selesai membersihkan tubuh dan sarapan, Evelyn pun menyusul Kenrick yang sedang ada di ruang keluarga. Kenrick mengatakan akan mengerjakan pekerjaan di rumah dan menemani Evelyn untuk menebus kesalahannya. Jadilah saat ini Evelyn menemaninya di ruang keluarga untuk menyelesaikan pekerjaan laki-laki itu.
"Kenrick bagaimana jika aku ingin bekerja?” tanya Evelyn tiba-tiba. Evelyn kini tengah merebahkan tubuhnya dengan paha Kenrick sebagai bantalannya. Evelyn kini menatap Kenrick dari bawah dengan tatapan penuh harap agar Kenrick dapat mengizinkannya.
“Maka aku akan melarangmu,” ucap Kenrick acuh. Mendengar ucapan tersebut Evelyn mengerucutkan bibirnya kesal. Kenrick memang hanya bertindak semaunya sendiri. Jika Evelyn harus meminta izinnya namun jika Kenrick, laki-laki tersebut akan melakukan apapun tanpa persetujuan Evelyn lebih dulu.
"Mengapa Kenrick?” tanya Evelyn yang kini sudah menegakkan tubuh dan duduk di samping Kenrick dengan wajah kesalnya.
"Aku bisa membantumu atau menjadi sekretaris,” ucap Evelyn masih dengan wajah memohonnya agar Kenrick mengizinkannya untuk bekerja. Ia sudah merasa bosan jika terus -terusan berada di rumah tanpa melakukan apapun.
“Tidak, kau hanya perlu bersantai di rumah. Lagipula aku juga sudah memiliki sekretaris,” ucap Kenrick yang kini mengelus puncak kepala Evelyn sayang sambil tersenyum ke arah wanita tersebut yang hanya berdecak mendengar ucapan Kenrick. Ia bosan jika terus bersantai tanpa melakukan hal yang bermanfaat dan menguras tenaganya.
"Kau begitu posesif Kenrick. Aku merasa bosan di rumah,” keluh Evelyn dengan mengerucutkan bibirnya. Kini wanita tersebut sudah bersedekap dada.
“Kau tak akan bosan lagi jika nanti kita memiliki anak,” ucap Kenrick yang kini malah beralih merebahkan dirinya di paha Evelyn sebagai bantalannya sambil mengelus perut Evelyn yang jelas masih datar.
"Tapi saat ini kita belum memilikinya,” ucap Evelyn dengan memberengut kesal.
“Bisa saja sebentar lagi kita akan memilikinya. Jadi bersabarlah sebentar lagi,” jelas Kenrick. Kenrick yang tak ingin Evelyn merasa lelah jika ia bekerja. Kenrick juga tak ingin jika Evelyn akan sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan malah mengabaikannya. Ia hanya melindungi posisinya di dunia Evelyn.
"Ck menyebalkan! Padahal aku juga ingin mengawasimu.” Evelyn berkata nyaris berbisik bahkan Kenrick hampir tak mendengarnya jika laki-laki itu tak berada di bawahnya. Selain merasa bosan inilah alasan Evelyn ingin bekerja. Ia ingin terus berada di samping Kenrick dan mengawasi laki-laki tersebut dari Razita. Jangan salahkan Evelyn yang kini begitu posesif, tentu ini ajaran dari Kenrick yang memang begitu posesif.
“Sayang, kenapa jadi kau yang begitu posesif?” tanya Kenrick dengan kekehannya. Ia memang suka Evelyn cemburu padanya namun jika Evelyn semakin posesif tentu ia juga senang karena itu tandanya Evelyn semakin mencintainya. Ia tak menyalahkan sikap Evelyn tersebut karena ia juga seperti itu. Namun untuk sekarang jika Evelyn begitu posesif Kenrick hanya takut ia tak bisa menjaga sahabatnya lagi.
"Aku juga tidak tahu mengapa aku jadi begitu. Sepertinya aku tertular dirimu yang memang begitu posesif,” ucap Evelyn dengan mengerucutkan bibirnya yang juga kesal dengan sikap posesifnya tersebut. Jika saja ia tak posesif dan memiliki sikap tak pedulinya lagi mungkin kini ia tak akan makan hati karena sikap Kenrick yang berubah belakangan ini.
“Apa kau sudah sangat mencintaiku?’ tanya Kenrick dengan tatapan menggodanya pada Evelyn yang malah memutar bola matanya malas mendengar ucapan penuh percaya diri dari Kenrick.
"Kau sangat percaya diri!” ucap Evelyn sambil berdecak.
“Yes I’m,” ucap Kenrick yang hanya membuat Evelyn menggeleng. Setelahnya mereka begitu asyik berbincang banyak hal.
Hingga saat Evelyn tengah asik berbincang dengan Kenrick tiba-tiba saja ponsel laki-laki itu berbunyi.
“Aku akan menjawab telepon sebentar,” pamit Kenrick saat melihat siapa yang menghubunginya.
Evelyn hanya membalasnya dengan anggukan dan Kenrick segera pergi dari sana untuk menerima telepon. Setelah selesai baru Kenrick kembali menghampiri wanitanya tersebut dengan wajah sedihnya.
“Maaf Sayang sepertinya aku harus pergi,” sesal Kenrick karena kini ia harus meninggalkan wanitanya itu lagi.
"Ada apa Kenrick?” tanya Evelyn khawatir sekaligus curiga.
“Hanya masalah kantor,” jawab Kenrick berusaha menenangkannya sambil mengelus puncak kepala Evelyn sayang.
"Aku akan ikut denganmu,” putus Evelyn yang kini sudah berdiri dan hendak ikut bersama Kenrick. Ia hanya takut jika Kenrick bukannya ke kantor namun bertemu dengan Razita.
“Tidak, tidak perlu Sayang. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika tak ingin datang ke kantor? Kau pasti akan bosan karena aku harus pergi meeting,” ucap Kenrick menjelaskan. Evelyn akhirnya hanya bisa menghela napas dan menjawabnya dengan anggukan walau ia masih merasa curiga namun Evelyn berusaha untuk menepisnya. Kenrick berjalan ke arah kamar untuk bersiap.
"Jessie.” Evelyn berteriak memanggil Jessie yang pasti berada tak jauh darinya.
"Aku ingin berbelanja cepat ikut denganku,” ajak Evelyn tegas seolah tak menerima bantahan.
“Baik Nyonya,” Ucap Jessie patuh.Evelyn berpikir untuk jalan-jalan daripada memikirkan hal yang buruk. Sepertinya memang ia harus menenangkan dirinya.
“Apa kita perlu membawa pelayan lain Nyonya?” tanya Jessie yang di jawab dengan gelengan oleh Evelyn.
“Tak perlu, aku akan mengajak Sean saja bersama kita,” ucap Evelyn yang Jessie balas dengan anggukan patuh.
“Tolong katakan pada Sean untuk bersiap dan ikut dengan kita,” perintah Evelyn lagi.
“Baik nyonya,” ucap Jessie yang setelahnya menundukkan kepalanya patuh lalu segera berjalan menjauh, begitupun dengan Evelyn yang juga berjalan ke arah kamarnya untuk berganti pakaian.
***
Evelyn berjalan di mall dengan Jessie dan Sean yang terus mengikutinya di belakang. Evelyn memilih menuju toko pakaian untuk membeli beberapa dress. Biarkan saja untuk sekarang ia menghabiskan uang Kenrick. Lagi pula ini adalah salah Kenrick yang membuatnya kesal dan badmood.
Evelyn jika tengah kacau memang suka melampiaskannya pada berbelanja atau jalan-jalan menuju tempat yang indah.
"Sean, aku rasa hari ini kau akan menjadi tukang bawa barang,” ucap Evelyn dengan senyumannya saat melihat laki-laki tersebut yang kini sudah membawa banyak barang belanjaannya. Begitupun dengan Jessie yang membawa beberapa barang belanjaannya.
“Tenang saja Nyonya itu bukan masalah,” ucap Sean dengan senyumannya sambil mengangkat belanjaan Evelyn yang ia bawa. Membuktikan pada wanita tersebut jika ia masih kuat untuk membawa banyak barang lainnya. Evlyn yang melihat hal tersebut hanya tertawa cukup terhibur dengan kesombongan laki-laki tersebut.
Saat Evelyn memasuki toko pakain bermerek tersebut Evelyn dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya membeku seketika. Saat melihat satu orang laki-laki juga satu orang perempuan yang kini berjalan-jalan di toko pakaian tersebut.
“Nyonya mengapa berhenti? Apa yang Anda lihat Nyonya?” tanya Jessie dengan tatapan penasarannya. Jessie mengalihkan pandangannya ke arah objek yang Evelyn lihat lalu ikut tercengang melihat apa yang dilihat oleh wanita tersebut. Sean yang penasaran juga ikut melihat ke arah apa yang dilihat dua wanita tersebut yang kini malah sama-sama terpaku. Hingga tatapan ketiga orang tersebut fokus pada satu objek yang membuat mereka terkejut bersamaan.
“Tuan dan Nona Razita? Apa yang mereka lakukan?”
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.