
Setelah menempuh perjalan selama lima belas menit. Akhirnya mereka sampai di gedung hotel untuk menggelar acara pernikahan. Hotel berbintang yang merupakan aset yang dimiliki oleh Kenrick. Selain menggunakan aula untuk acara pemberkatan mereka juga menggunakan rooftop untuk pesta. Evelyn sengaja memilih outdoor untuk acara resepsi.
“Aku tak sabar untuk menjadikanmu sebagai istriku.” Kenrick menunjuk altar yang sudah di desain dengan begitu indah dengan bunga berwarna putih di sepanjang jalan menuju Altar yang terlihat indah.
“Di sana, besok aku akan berjanji untuk selalu menjaga mu,” ucap Kenrick dengan tatapan seriusnya pada Evelyn. Evelyn terus menatap ke arah altar tersebut dengan senyuman cerahnya. Ia masih tak menyangka jika akhirnya ia akan menikah dengan orang yang telah menculiknya.
Terdengar begitu lucu. Evelyn yang dulu selalu memberontak dan mencari cara untuk kabur kini malah menyerahkan diri untuk berikan sepenuhnya dan selamanya pada Kenrick. Menyerahkan hidupnya untuk selalu berada di sisi Kenrick. Terdengar aneh, namun itulah yang terjadi. Karena nyatanya Evelyn mencintai orang yang telah menculiknya.
"Terima kasih Kenrick. Terima kasih karena telah mau menerimaku menjadi pendampingmu,” ucap Evelyn begitu tulus dan bersungguh-sungguh. Awal nya ia mengira jika Kenrick hanya akan menjadikannya wanita simpanan. Apa lagi setelah mengetahui tentang gedung selatan. Namun selanjutnya Evelyn begitu bahagia karena Kenrick lebih memilihnya dan mengusir semua wanita tersebut.
Kenrick dengan segala sisi gelapnya dan jiwa nya yang bjingan malah mau memberikan warna dan cahaya untuk Evelyn yang saat itu tengah kelabu.
“Akulah yang harus berkata seperti itu. Karena kau mau menerima iblis ini sebagai suamimu,” ucap Kenrick dengan kekehannya. Ia mengingat bagaimana dulu Evelyn terus saja menolaknya dan terus mengatakan jika dirinya adalah iblis.
Evelyn yang selalu saja membuatnya marah dengan sikap keras kepala wanita tersebut. Kenrick begitu bahagia karena akhirnya ia dapat menjinakkan Evelyn. Sepertinya Kenrick memang suka dengan yang buas-buas.
"Tentu. Kau memaksaku, jika kau lupa,” kelakar Evelyn dengan tawanya yang kini juga membuat Kenrick ikut tertawa mendengar ucapan dari Evelyn tersebut. Tak salah memang karena awalnya memang dirinya begitu memaksa Evelyn dan selalu melakukan kehendaknya sendiri.
Kenrick yang tak suka penolakan dan Evelyn yang selalu membantah. Perpaduan yang tepat untuk menciptakan sebuah pertengkaran. Namun kini siapa sangka jika pada akhirnya mereka memutuskan untuk terus bersama.
“Ya aku melakukannya, tapi sekarang bukankah kau mencintaiku?” tanya Kenrick dengan begitu percaya dirinya. Evelyn yang mendengarnya sontak tertawa mendengar ucapan penuh percaya diri dari laki-laki di sampingnya tersebut/
Evelyn kini bersedekap dada lalu segera melihat ke arah Kenrick dengan senyuman menantangnya.
"Ya tentu saja aku mencintaimu. Apa aku harus melepaskanmu demi seorang jlang waktu itu?” tanya Evelyn dengan tatapan menantangnya. Lihatlah bahkan belum menikah mereka sudah akan menciptakan pertengkaran baru. Bagi Kenrick dan Evelyn sepertinya tidak enak jika sehari saja mereka tidak berdebat. Mereka seolah terlalu candu dengan pertengkaran satu sama lain.
“Tak perlu mengingatkanku lagi akan kesalahanku itu. Kau tahu aku saat itu tengah mabuk,” ucap Kenrick berusaha untuk membela dirinya. Evelyn terkekeh lalu memeluknya dengan erat. Berterima kasih pada laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Kenrick membalas pelukan tersebut tak kalah eratnya.
"Terima kasih Kenrick.,” ucap Evelyn dengan begitu tulus. Ia begitu bahagia juga tak menyangka jika ia bisa memiliki laki-laki seperti Kenrick setelah patah hatinya. Benar yang pernah dilakukan orang. ‘Setelah patah hati yang dalam akan ada orang baru yang akan jauh mencintaimu dengan baik’ Evelyn sebelumnya tak pernah mempercayai ini namun kini ia percaya, karena tuhan benar-benar menggantinya dengan yang jauh lebih baik dari mantan kekasihnya. Semesta mengirimkan sosok Kenrick padanya.
“Aku lah yang seharusnya mengatakan itu. Terima kasih karena telah mau menerimaku dan bertahan di sisiku,” ucap Kenrick yang kini sudah melonggarkan pelukan mereka namun tetap menautkan tangannya di belakang pinggang Evelyn tanpa mau melepaskan wanitanya tersebut. Namun setelahnya, Evelyn melepaskan pelukan mereka lalu kembali menatap pada sekeliling.
"Aku tak sabar menunggu hari itu akan tiba,” ucap Evelyn sambil membenarkan rambutnya.
“Begitupun denganku,” jelas Kenrick. Laki-laki tersebut kini merangkul pinggang Evelyn dengan begitu posesif.
"Kau benar-benar melakukannya dengan baik,” puji Evelyn tersenyum menatap ke sekeliling yang memang terlihat begitu indah.
“Ingin melihat tempat pesta?” tawar Kenrick yang langsung dijawab dengan anggukan semangat oleh Evelyn.
"Ayo.” Evelyn bersemangat menarik Kenrick untuk segera keluar dan menuju rooftop. Mereka akhirnya memilih menuju rooftop untuk melihat tempat yang akan mereka gunakan untuk pesta resepsi pernikahan mereka.
"Ini pasti akan terlihat begitu indah saat malam hari,” ucap Evelyn dengan senyumannya. Ia mengagumi apa yang Kenrick lakukan padanya. Kenrick memberikannya pesta yang begitu ia idamkan. Pesta terindah yang akan ia dapatkan dalam hidupnya.
“Tentu saja Sayang, tapi aku yakin semua ini akan kalah dengan keindahanmu,” puji Kenrick yang membuat Evelyn terkekeh mendengarnya, pipinya kini sudah bersemu mendengar pujian dari laki-laki tersebut.
"Berhenti merayuku Kenrick!” kesal Evelyn karena ia tak tahan dengan pipinya yang terasa panas dan jantungnya yang seolah siap untuk keluar dari tempatnya. Berada terlalu dekat dengan Kenrick ditambah rayuan laki-laki tersebut benar-benar membuat Evelyn kehilangan akalnya dan merasa tak baik-baik saja.
“Mengapa tidak? Aku menyukainya,” ucap Kenrick dengan begitu santainya.
“Sial, tak tahukah kau jika begitu bahaya jika terus seperti ini?” batin Evelyn yang jelas tak bisa diucapkan secara langsung karena tak ingin Kenrick terlalu percaya diri dan malah akan meremehkannya. Evelyn dengan harga dirinya yang tinggi memang perpaduan yang sempurna.
"Ya, ya terserah padamu saja,” ucap Evelyn seolah acuh padahal kini ia tengah mati-matian menahan debaran jantungnya yang sudah memberontak
“Ingin pergi ke mall?” tawar Kenrick saat mereka jika mereka sudah selesai melihat tempat yang akan menjadi tempat pernikahan mereka. Evelyn terlihat berpikir sejenak.
“Bagaimana jika ke kafé saja?” tanya Evelyn yang merasa malas jika berjalan ke mall. Kini ia begitu mudah lelah jadi lebih baik ia menikmati makanan saja di cafe.
“Baiklah, ayo kita pergi,” ajak Kenrick yang hanya Evelyn balas angguk lalu mereka segera pergi dengan bergandengan tangan.
Seperti yang telah direncanakan mereka akan pergi ke cafe. Selama di perjalanan mereka tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Mereka terus mengalir menikmati waktu mereka.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita aku yang lain yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.