
Setelah dirawat selama dua hari untuk memulihkan kesehatan nya akhirnya kini Evelyn sudah bisa untuk pulang. Evelyn tentu saja senang karena tak perlu lagi untuk menghirup bau obat yang begitu keras.
Namun saat Evelyn tengah bersiap untuk pulang tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka dan memperlihatkan Sean dengan wajah khawatirnya.
“Evelyn kau baik-baik saja?” Sean berjalan ke arah Evelyn lalu memeluknya dengan begitu erat membuat Evelyn terkejut tapi tak urung Evelyn juga membalas pelukannya. Kedua sahabatnya yang menyaksikan hal tersebut dibuat bingung dengan kehadiran Sean.
Mereka belum mengetahui siapa Sean. Dan mereka tak berpikir jika Sean adalah Kenrick, karena wajah Kenrick yang sering mereka lihat di majalah ataupun televisi jelas berbeda dengan wajah di hadapannya yang tak lain adalah Sean.
"Aku baik-baik saja Sean,” ucap Evelyn dengan senyuman menenangkannya ke arah Sean setelah mereka melepaskan pelukan mereka. Mendengar ucapan Evelyn, laki-laki tersebut menghembuskan nafasnya lega.
“Kau membuatku khawatir,” ucap Sean dengan tatapan khawatirnya pada Evelyn yang hanya Evelyn balas dengan senyuman menenangkannya.
"Tenang lah aku baik-baik saja. Mengapa kau bisa berada di sini? Apa Kenrick tau kau di sini?” tanya Evelyn khawatir jika Kenrick mengetahui keberadaannya. Untuk saat ini, ia belum siap jika harus bertemu dengan laki-laki tersebut.
“Tidak. Tapi Kenrick mencarimu dan dia sudah mengetahui jika ku di New York. Kau tahu Kenrick begitu marah saat mengetahui kau kabur. Dia menyuruh semua orang untuk mencarimu. Beruntung saat bawahan Kenrick mencarimu ke apartemenmu bersama yang lain. Mereka malah tidak menemukanmu,” ucap Sean yang tak ingin memberitahu Evelyn jika sebenarnya Kenrick hampir saja membunuhnya dan mengurungnya. Ia tak ingin Evelyn merasa bersalah padanya.
Evelyn yang mendengarnya ikut bernapas lega karena setidaknya untuk sekarang Evelyn bisa terbebas dari laki-laki itu.
"Dia masih memikirkanku?” tanya Evelyn dengan begitu sinisnya. Ia pikir Kenrick akan melupakannya dan sibuk dengan Razita yang selama ini ia pedulikan.
“Kau tahu dia seperti orang gila saat meminta semua orang untuk mencarimu,” jelas Sean lagi.
“Maafkan aku Evelyn. Karena tidak bisa menyembunyikan mu dengan baik,” sesal Sean karena baru beberapa hari tapi Kenrick sudah menemukan Evelyn.
Evelyn hanya menjawabnya dengan anggukan karena Evelyn bisa membayangkan bagaimana reaksi laki-laki itu saat tahu dirinya menghilang. Dan ia tak menyalahkan Sean karena ia tahu Sean sudah melakukan semuanya dengan baik. Hanya saja Kenrick memang begitu ahli dalam melakukannya.
“Tak masalah Sean, aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik. Terbebas dari Kenrick selama tiga hari saja sudah begitu beruntung bagiku. Saat aku kabur bersama Ronald bahkan tak sampai hitungan jam dia sudah menemukan ku,” ucap Evelyn dengan kekehannya berusaha untuk mencairkan suasana. Sean menghembuskan nafasnya kasar sambil menganggukkan kepalanya.
"Dan bagaimana kau bisa tahu aku berada di sini?” tanya Evelyn dengan menaikkan sebelah alisnya bingung. Jika bawahan Kenrick saja tak bisa menemukannya lalu bagaimana bisa Sean menemukannya?
“Aku sangat khawatir padamu jadi aku diam-diam menaruh penyadap di HP-mu. Dan kau tahu betapa khawatirnya aku saat tahu kau berada di rumah sakit,” ucap Sean menjelaskan. Melihat wajah Sean yang menunjukkan khawatir membuat Evelyn terkekeh. Ia tahu Sean memang begitu peduli padanya.
"Kau tenanglah aku baik-baik saja, tapi aku tidak tahu ternyata kau lebih posesif daripada Kenrick sampai menaruh pelacak di ponsel ku,” ucap Evelyn dengan tatapan menyelidiknya pada Sean. Sean melotot pada Evelyn tak terima dengan ucapan wanita tersebut dan Evelyn hanya terkekeh karenanya. Merasa lucu dengan ekspresi Sean. Kadang lucu baginya jika ternyata laki-laki yang begitu datar dan pikir tak berperasaan itu bisa ia luluhkan.
"Ah ya Sean perkenalkan mereka adalah sahabatku,” ucap Evelyn saat mengingat kini mereka tak hanya berdua melainkan ada kedua sahabatnya yang kini hanya diam memperhatikan mereka. Livi dan Ivey mendekat ke arah Sean juga Evelyn dengan senyuman mereka. Lalu mengulurkan tangan untuk saling berkenalan.
“Terima kasih telah menjaganya,” ucap Sean dengan tulus.
“Tidak perlu sungkan Tuan, Evelyn adalah sahabat kami,” ucap Livi menanggapi. Tatapan wanita tersebut sedari tadi terus terarah pada wajah tampan Sean.
“Jadi mengapa kau bisa berada di rumah sakit?” tanya Sean yang kali ini sudah kembali mengalihkan atensi nya pada Evelyn. Kedua sahabat Evelyn bahkan menggelengkan kepalanya melihat bagaimana perhatiannya laki-laki tersebut pada Evelyn. Dan seolah menganggap di sana hanya ada Evelyn saja.
"Aku hanya kelelahan,” ungkap Evelyn yang masih tak ingin memberitahu Sean apa yang terjadi. Bukannya tak percaya pada Sean. Meskipun Sean sudah membantunya namun tetap saja Sean adalah bawahan Kenrick yang begitu setia. Siapa yang tahu jika akhirnya Sean akan memberitahu Kenrick.
“Kau yakin tak ada hal lain?” tanya Sean dengan tatapan menyelidiknya pada Evelyn yang kini sudah menggigit bibirnya berusaha untuk menahan gugup.
“Evelyn hamil,” ungkap Livi yang ingin banyak mengobrol dengan Sean namun dengan menumbalkan sahabatnya.
Mendengar ucapan Livi, Evelyn langsung menoleh ke arah gadis itu dengan mata melotot, sedangkan Sean terkejut mendengarnya dan Livi hanya menjawabnya dengan cengiran.
“Kau serius?” tanya Sean pada Evelyn yang kini berada di depannya. Bukannya menanyakan kejelasannya pada yang mengatakan kini Sean malah kembali fokus pada Evelyn. Evelyn hanya membalasnya dengan anggukan.
"Aku hanya tidak ingin kau memberitahu Kenrick,” ucap Evelyn jujur mengungkapkan ketakutannya.
“Tapi Kenrick harus mengetahuinya,” ucap Sean dengan tegas.
"Tidak Sean kumohon! Aku tak ingin kembali padanya atau dia mengambil anakku. Aku bisa merawatnya sendiri,” ucap Evelyn dengan tatapan memohonnya pada Sean agar mau untuk menuruti permintaannya sekali lagi.
“Tapi dia butuh sosok ayah,” ucap Sean pada Evelyn. Sean bisa saja menerima anak tersebut sebagai anaknya dan mendapatkan Evelyn, namun ia masih memikirkan Tuannya. Ia memang bawahan yang begitu setia. Namun jika Evelyn memang benar-benar tak bisa bersama Kenrick. Maka ia bersedia menggantikan laki-laki tersebut.
"Sean kumohon aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah,” ucap Evelyn lagi dengan begitu memohon pada Sean. Untuk saat ini ia benar-benar tak ingin kembali pada Kenrick.
“Kau pikir dapat menyembunyikan ini selamanya darinya? Dia harus tahu tentang pewarisnya. Cepat atau lambat tanpa kau beritahu pun dia pasti akan mengetahuinya.” Sean berkata dengan begitu tegasnya. Untuk menyadarkan Evelyn siapa sebenarnya Kenrick.
Evelyn yang mendengar hal tersebut menghela nafasnya, tahu jika jawabannya adalah 'tidak'. Karena bagaimana pun Kenrick adalah orang dengan banyak koneksi.
"Aku tak peduli akan nanti hanya saja sekarang aku tak ingin memberitahunya. Akan aku lakukan jika bisa. Aku akan menyembunyikan anakku di mana pun!” tegas Evelyn masih dengan sikapnya yang keras kepala. Kedua sahabat Evelyn bahkan hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar kekeraskepalaan sahabatnya tersebut.
“Lalu bagaimana jika suatu saat nanti. Kenrick menemukan penggantimu dan dia tahu tentang anak ini. Kau yakin bisa menahannya untuk tak mengambil anakmu?” tanya Sean dengan begitu sarkas. Dan ia tak ingin jika pada akhirnya Evelyn menyesali perbuatannya dan merasa sedih karena kehilangan anaknya. Ia hanya tak ingin membuat Evelyn merasa sedih. Sean memang menyukai Evelyn namun ia tak ingin egois karena tahu bahagia Evelyn ada di Kenrick dan ia ingin Evelyn bisa bahagia walaupun bukan dengannya.
Evelyn terdiam mendengar ucapan Sean yang ada benarnya. Dan hal itu tentu saja membuatnya takut jika hal itu benar terjadi. Tapi bagaimana Evelyn bisa kembali pada Kenrick? Ia masih belum bisa.
"Setidaknya untuk saat ini kau tidak perlu memberitahunya,” ucap Evelyn dengan permohonannya. Ia masih membutuhkan waktu untuk pulih.
“Baiklah aku mengerti. Kau sudah boleh pulang sekarang bukan?” tanya Sean. Evelyn hanya membalasnya dengan anggukan.
“Ayo aku antar ke apartemenmu,” ajak Sean yang segera Evelyn balas dengan gelengan.
"Tidak Sean, aku akan tinggal di rumah Livi.” Evelyn menoleh ke arah Livi yang dibalas dengan anggukan oleh wanita itu. Evelyn sengaja memilih rumah Livi karena di rumah gadis itu hanya ada beberapa pelayan juga penjaga karena orang tuanya yang begitu sibuk bekerja dan jarang pulang.
“Baiklah aku akan mengantar kalian,” tegas Sean seolah tak menerima bantahan.
“Terima kasih Tuan,” ucap Livi dengan senyuman manisnya. Namun Sean malah tak menjawab bahkan laki-laki itu hanya melirik sekilas ke arah Livi, membuat Livi melongo dengan sikap dingin dan cuek laki-laki itu. Sedangkan Ivey berusaha menahan tawanya.
***
Thanks For Reading All.
Semoga kalian suka ya sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote, komen, dan like ya.
Tambah ke perpustakaan dan jangan lupa buat Follow akun ku ya.
Bentar deh aku juga bawa cerita temen aku nih, selagi nunggu kisahnya yang Evelyn dan Kenrick yang begitu penuh tantangan dan perdebatan ini. Mending kalian juga mampir ke cerita temen aku yang gak kalah bagusnya, cerita yang tentunya akan bikin kalian betah di sana, tapi jangan lupa buat balik ke cerita aku ini ya, wkwk.
So jangan lupa mampir ya. Mampir juga ke karya aku yang lain guys.
See you next chapter all.